KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 68


__ADS_3

Suara deburan ombak yang menggulung memecah menghantam batu batu karang yang berada di tepi pantai, menjadi pemandangan yang sangat indah, angin yang berhembus cukup kencang mengoyak rambutnya menutupi sebagian wajahnya karena tersapu angin. Membuatnya sesekali merapikan rambutnya lagi, dengan santai Naya berjalan menyusuri pantai pagi ini, tak jarang kakinya terkena ombak yang menepi. Senyumnya selalu mengembang saat terpaan angin menampar halus wajahnya, juga gulungan ombak mengenai kakinya yang tidak memakai alas kaki.


Hatinya terasa damai menyaksikan keindahan yang Kuasa ciptakan. Untuk sesaat ia bisa mengalihkan kesedihannya yang akan berpisah dengan kekasih hati.


"Sayang,,," nampak Rendra berlari ke arahnya sambil berteriak memanggil Naya, terpaan angin membuat kaos Rendra ikut tertarik ke belakang, nampak jelas guratan roti sobek dadanya, ia terlihat cukup menawan di mata Naya, membuat gadis itu pun tersenyum sambil mengagumi makhluk sempurna ciptaan Yang Kuasa.


"Kak Rendra,,, kau memang tampan kak,,, beruntung aku mendapatkan cintamu, meski nantinya tidak bisa memilikimu, namun aku akan berusaha agar pantas berada di sampingmu nantinya, berjalan bersama mengarungi kehidupan ini. Doakan aku mampu ya kak,,," lirih Naya lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"Sayang,,, tunggu aku,,," teriak Rendra yang semakin mempercepat larinya melihat Naya terus melanjutkan langkahnya. Sedikit ngos ngosan Rendra akhirnya mensejajarkan tubuhnya di samping Naya.


"Kamu nakal ya, pagi pagi menyuruh aku berolah raga,,," Rendra mencubit lembut kedua pipi chubby Naya.


"Kakak,,, sakit tau,," protes Naya sambil memukul pelan tangan Rendra yang sudah melepaskan pipinya, dengan cemberut Naya melanjutkan langkahnya.


Rendra pun tersenyum melihat gadisnya ngambek.


"Naya sayang,,, " panggilnya namun tidak dihiraukan oleh Naya, ia terus saja berjalan di bawah sinar mentari pagi yang terasa menyejukkan. Wajahnya yang terkena cahaya mentari pagi terlihat begitu mempesona, membuat Rendra terus saja memandanginya dengan perasaan yang berkecamuk. Ingin rasanya ia menarik tubuh itu kedalam dekapannya, namun ia tidak berani selama Naya masih ngambek seperti itu.


"Sayang,,, sudah dong ngambeknya, iya,, kakak minta maaf, tolong jangan bikin momen perpisahan kita ini menjadi kesedihan buat kita, kamu tahu sendiri kan kakak tadi cuma bercanda."

__ADS_1


Raut memelas nampak terukir di wajah Rendra. " Nay,,, sayang,,," panggilnya namun tidak dihiraukan oleh Naya.


Membuat Rendra frustasi sendiri, niatnya menggoda Naya justru membuat kekasih hatinya marah dengan ulahnya.


"Nay,,, sayang,,," panggilnya lagi yang kini di barengi dengan tangannya yang mencolek lengan Naya, namun ditepis terus oleh Naya.


Justru tatapan menusuk yang di dapat dari kekasihnya itu.


Rendra pun menarik nafas berat, ia sadar sudah melakukan kesalahan fatal, karena Naya paling tidak suka jika pipinya dicubit, dia takut kalau kedua pipinya itu akan turun ke bawah, itu pikir dia sedari kecil. Karena itu yang ditanamkan dalam pikirannya sama Nara, karena saat itu Naya dengan gemas sering mencubit pipi Rana hingga ia menangis, akhirnya Nara membuat cerita dongeng tentang anak anak yang pipinya sering dicubit akan dower turun ke bawah. Nggak akan cantik lagi. Justru seperti nenek sihir yang tua memakai tongkat kayunya.


Makanya Naya terbawa sampai sekarang.


Rendra pun berusaha berpikir mencari cara agar Naya melupakan marahnya. Ia pun tersenyum lalu,,, " cup" sebuah kecupan mendarat di pipi Naya membuat gadis itu terkejut, menghentikan langkahnya lalu menatap horor kearah Rendra.


"Maaf sayang,,," dengan mengangkat kedua jarinya Rendra tersenyum kearah Naya, yang sudah memancarkan amarahnya.


"Kaburrr,,, sebelum nenek sihir marah,,, ha,,, ha,,, ha,,," Rendra pun berlari berusaha menghindari amukan Naya.


"Kembali Kak,,,," teriak Naya yang tidak terima dikatain nenek sihir,, ia pun mengejar Rendra untuk meluapkan amarahnya. Rendra yang sengaja memperlambat larinya agar Naya bisa mengejarnya pun tertawa riang, berhasil membuat Naya bersuara lagi meski nantinya akan memekakkan telinga dengan ocehannya.

__ADS_1


Naya yang berhasil mengejar Rendra segera memukuli seluruh tubuh Rendra yang terjamah oleh tangannya.


"Rasakan ini, berani mengatai aku nenek sihir,,,kakak itu yang kakeknya sihir,,, " cerocos Naya sambil terus memukuli Rendra, namun bukannya kesakitan, Rendra justru tertawa terbahak bahak, membuat Naya semakin jengkel.


"Kenapa ia tidak merasa sakit aku pukul,,," batin Naya yang mencoba berpikir untuk mengubah hukuman untuk Rendra yang sudah berani mengoloknya. Ia pun tersenyum, lalu,,,,"rasakan ini,,,"Naya mulai menggelitiki Rendra, membuat pria itu tertawa sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa geli karena ulah Naya.


"Ha,,, ha,,, ha,,, sayang sudah cukup aku tak kuat lagi,,, ha,,, ha,,, lebih baik kau pukul aku dari pada kau gelitiki aku,, ha,,, ha,,,cukup sayang,,, aku menyerah,,,"


Rendra berusaha menangkap tangan Naya yang terus menggelitikinya, namun dengan tangan kecil itu selalu bisa lolos, akhirnya Rendra memilih memeluk tubuh Naya. Namun gadis itu berontak dan berusaha melepas pelukan Rendra, senyuman licik terbit di bibir Rendra. Ia pun berpura pura hilang keseimbangan dan jatuh.


"Aaakkkkhhh" teriak Naya yang juga ikut terjatuh di atas tubuh Rendra, untuk sejenak kedua tatapan mata saling beradu, detak jantung keduanya terdengar jelas, deru nafas mereka tak beraturan, meskipun air laut membasahi tubuh keduanya, namun tak bisa mematahkan tatapan ke dua insan yang saling menyelami dalamnya cinta mereka. Rendra semakin merengkuh leher Naya agar semakin mendekat kearahnya.


Saat kedua bibir itu akan saling bertemu hanya tinggal beberapa inci lagi.


"Apa yang kalian lakukan,,," teriak seseorang tak jauh dari tempat mereka. Membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


"Mampuslah aku,,," lirih Rendra yang justru dibalas kekehan oleh Naya.


bersambung,,,,,,,

__ADS_1


__ADS_2