KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 83


__ADS_3

"Kakak,,, " teriak seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang berlari kearah ke dua kakaknya. Ia tidak menghiraukan tatapan pasang mata yang tertuju padanya. Tangannya terlentang bersiap berhambur ke pelukan kedua wanita yang sangat di sayanginya. Kedua wanita itu juga merentangkan kedua tangannya bersiap jika sang adik akan memeluknya.


"Rana,,, hati hati sayang!" Teriak Mamanya yang kini juga melangkah ke dalam ballroom hotel mewah tersebut. Disampingnya juga berjalan Cindy bersama sang suami, Tuan Ayodyatama. Mereka bertiga hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Rana yang menabrak beberapa pelayan yang sedang menyiapkan acara pesta untuk malam ini.


"Maaf ya ,,," kata Rana saat ia menabrak pelayan pelayan itu. Namun setelah itu ia tetap berlari kearah Nara juga Naya yang masih berdiri di tempat mereka.


"Aku merindukanmu kak,,," Rana memeluk kedua kakaknya bersamaan, sehingga kini ketiganya saling berpelukan.


"Aku juga merindukanmu, dek." Balas keduanya bersamaan. Ketiganya pun saling mencium kening masing masing bergantian. Setelah itu ketiganya melepas pelukan mereka. Naya juga Nara melangkah menyambut Mama juga kakak serta Papa tiri mereka. Setelah memeluk dan mencium pipi juga punggung tangan Mamanya. Keduanya bergantian memeluk Cindy juga Tuan Ayodyatama.


"Kami merindukan kalian, apa kabarnya kak Cindy, Pa,?" Tanya Nara saat mereka berpelukan.


"Kami baik sayang." Jawab Mama serta Papa tirinya bersamaan. Bergantian mereka mencium kening Nara juga Naya.


"Dimana cucu Mama?" Nyonya Tama mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok mungil yang sangat dirindukannya.


"Iya di mana Rasya,, aku kangen banget sama pipi gembulnya. Tiap kali melakukan vc pingin rasanya mencubit pipinya itu, he,,he,,he,," Cindy juga ikutan mengedarkan pandangannya mencari keponakannya.


"Rasya disini Ma, Kak Cindy." Teriak Rana yang sudah menggendong Rasya sambil menciumi pipi gembul keponakannya.


Cindy yang merasa kalah start dengan adiknya segera berlari kearah mereka dan merebut Rasya dari tangan Rana. Tapi gadis kecil itu bersikukuh mempertahankan Rasya. Akhirnya terjadi drama memperebutkan Rasya. Cindy mati matian mengambil Rasya dari tangan Rana yang selalu menghindarkan tubuh Rasya dari Cindy.

__ADS_1


"Rana,,, aku juga kangen tau sama Rasya, kasih nggak!" Cindy mulai kehilangan kesabarannya. Ia memandang sebal kearah adiknya yang suka usil itu. Selama tinggal di Paris memang Rana sering sekali mengusili kakak tirinya itu. Hingga membuat suasana rumah menjadi ramai dengan tingkah keduanya yang sering adu mulut. Namun Cindy sangat menyayangi adiknya.


"Ambil saja kalau kak Cindy bisa, wekk,," Rana justru meledek Cindy dengan menjulurkan lidahnya.


"Rana,,,,!!" Teriak Cindy dengan geramnya lalu mengejar Rana yang berlari berputar putar di antara Mama juga Nara dan Naya untuk menghindari Cindy. Sedangkan ketiganya hanya tertawa melihat tingkah kedua wanita yang berbeda generasi itu. Sedangkan Rasya yang berada di dalam gendongan Rana juga ikut tertawa, membuat semua orang gemas melihatnya.


"Lihatlah kekonyolan mereka sayang, sampe pusing Mama dibuat oleh mereka." Adu Nyonya Tama pada kedua putrinya.


"Sabar Ma, setidaknya Rana bisa mengubah dunia kak Cindy agar tidak sedih lagi." Balas Nara masih melihat kearah Nara juga Cindy.


"Iya sayang,,, Mama sangat bersyukur punya kalian, Mama tidak tahu lagi apa yang harus Mama lakukan seandainya Rana tidak bersama kami untuk menghilangkan kesedihan Cindy dari keterpurukannya." Senyuman sendu itu tertangkap oleh manik mata Naya juga Nara. Mereka pun memeluk Mamanya bersamaan.


"Papa yang sangat bersyukur punya lima bidadari dalam hidup Papa, maafkan kesalahan Papa juga Cindy selama ini ya, sayang!" Tuan Ayodyatama memeluk ketiganya dengan rasa haru. Sekilas ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan Pa, semua juga bukan salah Papa, semua sudah diatur sama othor ecek ecek kita, wkwk." Kekeh Naya yang diangguki oleh semuanya.


"Sudahlah kita lupakan masa lalu yang hanya menyakitkan untuk kita, fokus pada masa depan kalian. Bagaimana dengan kuliahmu Naya? Jika nanti kamu sudah mendapat gelar Dokter, Papa sudah menyiapkan Rumah Sakit untukmu di Paris sayang." Tutur pria paruh baya itu lembut sambil mencium kening Naya. Sedangkan gadis itu hanya bisa melongo tak percaya dengan ucapan Papa tirinya.


"Papa serius?" Tanya Naya tak percaya.


"Dua rius malah, he,,he,,he,,." kekeh Tuan Tama yang tertawa karena melihat reaksi Naya yang terlihat lucu di matanya.

__ADS_1


"Yang Papa katakan benar Naya, sejak kami pindah ke Paris, dan Papamu tahu akan cita cita muliamu, dia sudah membangun sebuah Rumah Sakit disana. Katanya itu untukmu." timpal Nyonya Tama yang menggenggam tangan Naya.


"Apa kamu suka sayang?" Binar bahagia terlihat jelas di manik mata kedua orang tua tersebut. Mereka merasa bahagia jika bisa mewujudkan cita cita juga impian Naya. Senyum mereka terus berkembang sambil menanti jawaban Naya.


Naya yang melihat kebahagiaan di wajah kedua orang tuanya, kini beralih ke arah kakak tersayangnya. Disana ia bisa melihat adanya kesedihan meski bibir Nara tersenyum. Rasa bahagia yang tadinya membuncah di hati Naya pun berangsur angsur menghilang. Ia tahu pasti jika kakaknya sedang menahan kesedihan. Dan dia tahu apa sebabnya.


Melihat sorot mata Naya yang berubah saat melihat Nara. Kini kedua orang tua itu mengerti jika kedua putri mereka sedang mengalami dilema untuk masalah ini. Mereka sadar, jika Naya ke Paris, maka kedua kakak beradik ini akan terpisah. Itulah yang membuat kesedihan dihati mereka.


"Pa,,, terimakasih kasih untuk semua yang telah Papa beri, tapi,,," kata Naya terhenti.


Ia memandang kearah Nara, yang masih memandangnya dengan senyuman. Meskipun hatinya menyimpan kesedihan jika harus berpisah dari adik adiknya. Namun ia juga tidak bisa egois untuk mengorbankan kebahagiaan adik adiknya. Makanya Nara tetap tersenyum.


"Jangan memikirkan kakak dek, kamu tidak perlu khawatir, sekarang kakak sudah ada Rasya juga kak Raffi yang menemani. Kamu wujudkan impianmu. Kakak akan sangat bangga padamu, hmm."


Naya tidak berkata apa pun untuk menjawab perkataan Nara, justru ia memeluk kakaknya dengan erat. Nyonya Tama pun memeluk keduanya. Ia bisa merasakan tubuh Naya yang bergetar karena tangisnya.


"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu Kak,,, dari kecil kakak yang selalu berkorban untuk kami. Semua sakit kakak terima demi kami. Bahkan hinaan juga cacian orang tidak kakak pedulikan demi kami. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu meski pun sekarang kakak punya Rasya juga kak Raffi. Aku tidak bisa kak,,, aku tidak bisa jauh dari kakak." Lirih Naya disertai tangisnya yang membuat hati Mama nya hancur berkeping keping mendengar perkataan Naya. Sungguh ia merasa menjadi ibu yang gagal untuk putri putrinya. Mereka pun menangis sambil berpelukan.


"Maafkan Papa!"


bersambung 🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2