KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 70


__ADS_3

"Sial,,, dasar teman nggak ada akhlak,,," umpat Rendra frustasi, Naya yang melihat Rendra marah marah hanya bisa menahan senyumnya. Dalam hati ia merasa kasihan dengan kekasih hati, namun apa daya, jika Raffi sudah memberikan perintah harus segera dilakukan. Rendra menatap kearah Naya, dilihatnya senyuman tipis membias di bibir mungil itu, yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Membuatnya semakin ingin marah saja, gagal sudah rencana dia untuk menghabiskan hari hanya berdua saja dengan kekasih hati.


"Kak Rendra,,,, sudahlah,,, jangan marah marah terus,,, bukankah ini baik untuk kita,,," ucap Naya seraya mencium lembut tangan Rasya yang kini berada dalam pangkuannya.


Karena Rendra menjawab pertanyaan Nara tadi yang terlontar saat ia sedang marah, maka Raffi memberi hukuman pada Dokter sekaligus sahabatnya itu.


"Tentu saja kami mau menikah, sekarang pun kami siap," Jawaban Rendra atas pertanyaan Nara. Membuatnya memelotot tajam ke arah Rendra.


Nafasnya sedikit naik turun menahan marahnya. Ia memandangi Rendra juga Naya bergantian. " Jujur pada aku sekarang, apa selama ini kalian sering melakukannya?"


"Tentu saja kami sering melakukannya Nara,,, kami pasangan kekasih,,,"jawab Rendra enteng tanpa tahu apa yang ada di pikiran Nara sekarang, ia hanya berpikir sekedar memeluk apa salahnya. Sedangkan di pikiran Nara, mereka telah melakukan hubungan suami istri, karena dilihat ekspresi kemarahan suaminya, pasti Rendra melakukan kesalahan yang fatal.


"Duuaarrr,,," bagai petir yang menyambar Nara mendengar ucapan Dokter Rendra barusan. Tubuhnya pun lemas, lunglai jatuh ke sofa samping ia berdiri menatap tajam kearah Rendra.


"Kenapa kalian tega mengkhianati kepercayaan ku,,," air mata sudah tumpah membasahi pipinya.


"Naya,,,, kenapa dek,, bukannya kamu ingin menjadi Dokter spesialis penyakit dalam,,, tinggal selangkah lagi kamu mencapai impianmu, kenapa harus kau hancurkan,,, hikkss,,, hikkss,,,"


Ketiganya yang mulanya bingung dengan sikap Nara kini mulai mengerti apa yang ada dipikiran Nara sekarang. Naya yang mulanya takut melihat ekspresi kemarahan kakaknya kini bernafas dengan lega, ternyata kakaknya hanya salah paham tentang arti ucapan Raffi tadi.


Sedangkan Raffi saling pandang dengan Rendra, akhirnya mereka pun tertawa bersama membuat Nara menghentikan tangisnya, menatap kearah keduanya penuh tanya. "Ada yang salahkah?" Itu pikirnya.


"Sayang,,, kamu salah paham, aku memarahi Rendra bukan karena ia sudah melanggar Naya,,, tapi aku memarahinya karena kamu,,," tanpa rasa bersalah Raffi mencubit pelan hidung Nara gemas dengan kepolosan istrinya itu.


"Maksud kakak,,, kenapa jadi aku?" Nara semakin bingung dengan ucapan suaminya.

__ADS_1


"Kak,,, kami tidak pernah melakukan hubungan intim seperti yang kak Nara pikir, aku dan Kak Rendra tetap memegang janji kami sampai sekarang. Bahkan di titik terendah ia tetap menjagaku meski ia tersiksa,,," Naya menjeda ucapannya, sedikit menahan senyum saat mengingat bagaimana Rendra tersiksa semalaman karena harus merawatnya. Ditatapnya lembut pria yang telah mencuri dunianya itu. Rendra yang mengerti membalas senyum Naya dengan mengatakan aku cinta kamu melalui bahasa isyarat mereka. Naya pun semakin terkekeh pelan dengan tingkah Rendra namun tidak membalasnya, membuat Rendra sedikit kecewa.


"Apa maksudmu dari titik terendah Naya?" Kini justru Raffi yang penasaran dengan ucapan Naya. Membuat gadis itu kelabakan, ia menyesali ucapannya barusan.


"Kenapa bibir ini tidak bisa di rem sih,,, kan tahu ada kak Raffi disini,,, dasar bibir,,"Naya menepuk pelan bibirnya.


"Eh,, it,,,itu kak Raffi,,,eh,,," Naya ragu untuk menjawabnya, ia merasa malu juga takut jika Rendra akan terkena amukan Raffi nantinya. Karena telah berani menjamah tubuhnya.


"Jawab Naya,,," meski terdengar pelan, namun suara itu bagai hantaman yang keras di telinga Naya.


"Apa kau yang ingin menjawabnya Dokter Rendra,,," kini Nara yang beralih menatap Rendra dengan tajam. Dari sikap Naya, ia tahu jika adiknya itu ingin menyembunyikan sesuatu yang menurutnya itu baik tuk semua.


"Jawab Ren,,," lanjut Raffi.


Dokter Rendra hanya bisa membuang nafasnya dengan berat, ucapan sang kekasih malah menjadi ancaman untuknya. Namun ia menang salah telah membuat Naya ketakutan kemarin.


"Apa???" Teriak Raffi juga Nara bersamaan.


"Beraninya kamu kurang ajar sama adikku,,," Raffi bangkit dari duduknya melangkah penuh amarah kearah Rendra, di cengkramnya kaos Rendra lalu diangkat hingga Rendra pun mengikutinya bangun dari duduknya.


"Buughh" bogem mentah melayang kearah perut Rendra membuatnya meringis kesakitan.


Naya yang melihat Rendra meringis kesakitan segera bangun dari duduknya lalu berlari kearah keduanya, memegang tangan Raffi agar tidak memukuli Rendra lagi.


"Kak Raffi kumohon,, lepaskan kak Rendra,,, ini hanya salah paham saja,,, Kak Nara,,," Karena tak mendapat respon dari Raffi, Naya lebih memilih minta bantuan ke kakaknya.

__ADS_1


Melihat tatapan Naya yang memelas, membuat Nara tak tega melihatnya, apa lagi ia melihat mata adiknya itu sudah berkaca kaca. Ia pun segera bangkit dari duduknya lalu melangkah kearah Raffi,


"Kak,,," sentuhan lembut di tangan Raffi yang bersiap untuk memberi hadiah lagi di wajah Rendra pun terhenti.


"Biarkan aku menghabisi pria brengsek ini karena telah berani kurang ajar sama adikku."


Ada kebahagiaan yang terselip dihati Nara juga Naya saat mendengar kata kata Raffi, meskipun ia begitu arogannya, namun hatinya begitu lembut untuk orang orang yang disayanginya, dan dia akan selalu menjaga mereka dari sapa pun juga.


"Lebih baik kita dengarkan penjelasan mereka dulu Kak,,, ingat,,, Dokter Rendra sahabatmu, kekasih Naya,,, apa kamu mau melihat kemarahan kami nanti saat Dokter Rendra babak belur olehmu,,," bisik Nara yang membuat Raffi melepaskan cengkraman tangannya, lalu mundur masih menatap tajam kearah Rendra. Bisa gawat kalau sampai Nara marah, bisa puasa sebulan penuh nantinya, itulah yang ada di pikiran Raffi sekarang. Hingga ia mau mengalah lalu duduk kembali. Tapi tatapannya masih terus tertuju kearah Rendra.


"Kak Rendra,,, kamu tidak apa apa kan?" Melihat Naya yang begitu cemas membuat Rendra bahagia, setidaknya ia tahu, sampai detik ini perasaan Naya padanya tidak berubah. Membuatnya yakin dengan langkah yang akan ditempuhnya nanti.


"Aku tidak apa apa sayang,,, jangan khawatir,,, pukulan singa ompong itu tidak akan bisa membunuhku." Rendra menatap kearah Raffi dengan senyum mengejeknya.


"Kau,," ucapan Raffi yang ingin marah tertahan karena Nara sudah membelai dadanya.


"Tenanglah Kak,,, kita dengarkan dulu penjelasan Dokter Rendra." lirihnya sambil menenangkan suaminya dengan mengelus elus dadanya.


"Sayang,,, kau membangunkannya,,, " bisik Raffi lirih ditelinga Nara hingga hembusan nafasnya pun terasa hangat di leher Nara.


"Kakak,,, bisa bisanya kamu berpikir mesum disaat begini." Cubit Nara di perut suaminya.


Tanpa mereka sadari, Rendra juga Naya menatap kearah mereka dengan perasaan mereka masing masing,,,


"Sudah belum drama koreanya?" Tiba tiba saja Rendra memecah keromantisan keduanya. Membuat Raffi mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Berani beraninya kamu menyela keromantisanku...." geram Raffi.


bersambung,,,,


__ADS_2