KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 52 pertemuan


__ADS_3

Rama dan Raffi segera mengambil mobil masing masing, lalu melajukan mobil mereka mengikuti taxi yang ditumpangi oleh Nara.


Begitu juga dengan Tuan Ayodyatama dan Tuan Aditama. Segera menyuruh anak buah mereka untuk mengikuti mereka.


"Tenanglah sayang,,, Nara akan baik baik saja, ia wanita yang tangguh juga pintar, tidak mungkin melakukan hal yang bodoh, apa lagi sekarang Rasya bersama dengannya. Kita ikuti saja kemana mereka sekarang." Tuan Ayodyatama berusaha menenangkan Nyonya Tama yang kini menangis di dalam mobil mereka.


"Kata Papa benar Ma,,, Nara pasti ingin menenangkan diri saja. Mama tidak perlu khawatir,,, Rama dan Mas Raffi sudah mengikutinya." Cindy juga ikut menenangkan Mamanya.


"Nara,,, apa yang kau lakukan,,," gumam Cindy dalam hati yang juga merasa cemas saat ini. Namun ia sembunyikan takut Mamanya akan semakin lemah nantinya.


"Ya Allah,,, lindungi putri juga cucu hamba." Doa Nyonya Tama di sela sela Isak tangisnya.


Sedangkan di dalam taxi. Nara mengeluarkan semua rasa yang menghimpit dadanya saat ini. Air matanya tak mau berhenti. Membuat sopir taxi itupun merasa iba padanya. Namun tak berani bertanya apa pun. Karena ia tak mau mencampuri urusan orang lain. Hanya sesekali saja ia memberikan tisu pada Nara.


"Mbak mau kemana?" Tuturnya sopan.


"Kita ke kota B ya Pak, nanti setibanya di sana saya kasih tahu alamatnya." Jawab Nara yang masih sesenggukan.


"Baik Mbak,,," sopir itu pun kembali fokus pada kemudinya.


Hanya sesekali saja melihat ke arah spion mobil. Dan ia tahu ada beberapa mobil yang sedang membuntuti taxinya.


"Mungkin mereka keluarga dari wanita ini, apa aku kasih tahu ya,,,tapi kalau iya kalau bukan gimana,,, lebih baik aku diam saja, nanti kalau ada apa apa baru minta bantuan markas." gumam sopir itu yang masih fokus pada kemudinya.


"Nara yang tanpa sadar melihat kaca spion mobil pun bisa tahu jika Rama dan Raffi sedang membuntutinya.

__ADS_1


"Jangan harap kalian bisa merubah keputusanku, maafkan aku Kak,,, Mas Rama,,, ini yang terbaik untuk kita." Air mata Nara kembali membanjiri pipinya. Untung saat ini baby Rasya sedang tertidur dengan pulasnya.


"Maafkan Bunda sayang,,, jika kamu harus terpisah dari Papa." Nara mencium kening putranya.


Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kota B. Nara pun mengatakan pada sopir apartemen A di jln XX, setelah berputar putar akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Yaitu apartemen Naya.


"Pak,, tunggu sebentar ya,,, saya akan mengambil uang di dalam sebentar. Tanpa menunggu jawaban sopir itu, Nara segera keluar dari mobil menuju apartemen adiknya. Dari belakang nampak sebuah mobil sedang memasuki halaman apartemen itu. Nara pun menoleh dan melihat Naya keluar dari mobil beserta dengan Rendra. Naya yang melihat Kakak dan ponakannya segera berlari dan memeluk Nara.


"Mas,,, itu saudaranya ya, tadi belum bayar taxi saya." Sopir taxi itu pun menghampiri Rendra, meminta uang tagihan taxinya tadi.


"Berapa semua Pak?" Tanya Rendra dengan sopan.


" 500 ribu lebih dikit mas,,," kata sopir itu yang merasa tak enak harus meminta pada Rendra.


"Terima kasih banyak Mas,,, moga Allah yang membalas kebaikan Mas,,," tutur sopir itu lalu pamit pada Rendra.


Sementara itu, Nara sudah masuk ke dalam apartemen bersama dengan Naya tanpa menghiraukan Rendra dengan sopir tadi.


"Kakak tumben ke mari sendirian cuma sama Rasya, Kak Rama mana?" Kini tatapannya lekat kearah Nara. Ia baru tersadar kalau wajah Nara terlihat sembab habis menangis.


"Apakah mereka bertengkar?" Batin Naya menerka nerka apa yang terjadi dengan kakaknya sekarang.


Kini keduanya sedang berada di kamar Naya, menidurkan Rasya yang masih tertidur lelap.


"Kak,,, ceritakan padaku, ada apa sebenarnya."

__ADS_1


Meskipun usia Naya terbilang masih belia. Namun karena keadaan memaksa dia berpikir lebih dewasa. Hingga saat ini, ia bisa membantu kakaknya dalam menyelesaikan masalah mereka selama ini. Nara begitu bersyukur memiliki adik seperti Naya.


"Kak Raffi masih hidup, dan dia sudah kembali." Tutur Nara lirih sambil memandang wajah teduh putranya yang masih tertidur.


Naya yang mendengar ucapan Nara pun terkejut. Ia tak akan percaya jika itu keluar dari mulut orang lain, tapi ini dari mulut orang yang sangat di kasihinya. Ia hanya bisa menutup mulutnya yang menganga karena keterkejutannya.


"Kakak baik baik saja, kan? Kakak lagi nggak berhalusinasi kan?" Naya menempelkan punggung tangannya ke kening Nara.


"Ish,,, kau ini,,, mana mungkin aku berhalusinasi tentang semua. Ini nyata Dek, meskipun aku sangat merindukannya, tapi aku tidak pernah berhalusinasi tentang Kak Raffi."


Nara pun menceritakan semua dari awal sampai ia bisa berada di apartemen Naya sekarang. Sekilas nampak sorot kesedihan di mata Naya. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya sekarang. Memilih antara dua pria yang hanya akan memberi luka pada ketiganya.


Lalu air mata Naya tumpah saat mengingat jika Bundanya akan pergi meninggalkan mereka lagi. Hatinya bagai teriris iris. Baru saja ia merasakan kasih sayang Bundanya, namun keadaan akan memisahkan mereka lagi bahkan kini akan terpisah cukup jauh.


"Kak,,,kenapa kita selalu terpisah dengan orang orang yang kita sayangi. Apa kita tidak berhak untuk mendapat kebahagiaan itu,,, hikkss,,,hikkss,,," Nara memeluk erat Naya yang kini terlihat rapuh, membuat Nara harus tegar di hadapan adiknya untuk menenangkannya sekarang. Karena ia tahu, bagaimana perasaan Naya yang akan ditinggalkan oleh Bunda mereka lagi.


Tanpa mereka sadari, di luar kamar Naya sudah berdiri tiga orang pria yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Kini ketiganya pun seakan ikut larut dalam pemikiran mereka masing masing.


"Aku akan menerima semua keputusanmu Nara, jika itu bisa membuatmu bahagia saat ini." Tiba tiba saja Raffi masuk ke dalam kamar diikuti oleh Rendra juga Rama.


"Deg,,," jantung Nara seakan berhenti berdetak saat mendengar kata Raffi barusan.


"Kak Raffi,,,," lirihnya dengan air mata yang lolos dari kedua mata teduhnya.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2