
"Oeekkk,,ooeeekk,,," tangis Rasya tiba tiba terdengar begitu kerasnya. Membuat kedua insan yang hendak melepaskan rindu mereka harus menghentikan aktifitas yang hampir saja membuat keduanya terbang ke nirwana. Raffi pun bangkit dari posisinya. Nampak wajahnya memerah menahan hasratnya yang membuat Nara tersenyum tipis melihat tingkah Raffi. Ia pun menggigit bibir bawahnya menahan senyumnya. Lalu bangkit dari posisinya semula, berada dalam kungkungan pria yang membuatnya selalu terkejut dengan ulahnya.
"Boy,,, kenapa kau bangun disaat waktu yang tidak tepat sayang,,," Raffi mengacak rambutnya, frustasi karena hasratnya tidak bisa tersalurkan. Namun begitu, ia tetap mengangkat tubuh Rasya dari box bayinya, menimang sebentar, mencium keningnya juga pipi gembul putra semata wayangnya itu. Saat Nara mendekati mereka, ia pun memberikan Rasya pada Nara.
"Sayang,,, maaf aku harus menuntaskannya sekarang, pagi pagi kalian sudah menyiksaku,,, " bisiknya lirih di telinga Nara yang membuatnya merasa kasihan pada Raffi.
"Maaf Kak,,, " tuturnya lirih sambil menatap Raffi dengan perasaan bersalah. Andai Rasya tidak menangis, ia pasti mau memberikan hak dari suaminya, karena ia juga sangat merindukan saat saat mereka bersama.
Raffi yang menangkap kesedihan di mata Nara pun tersenyum sambil mencium kening dan menakupkan tangannya di pipi Nara.
"Kita bisa melakukannya nanti, memang sudah waktunya Rasya mendapat teman bermain biar tidak mengganggu saat kita bercinta."
"Maksud Kakak apa? " Nara mengerutkan keningnya tak mengerti maksud ucapan Raffi.
Dengan tersenyum licik, Raffi pun berbisik di telinga Nara," membuat adik buat Rasya,,," ia pun melangkah ke kamar mandi tanpa menghiraukan Nara yang menatapnya ngeri.
Bagaimana bisa Raffi selalu berpikir membuat adik buat Rasya, sedangkan putranya sekarang masih membutuhkan ASI tuk pertumbuhannya. Dan ia juga tak mau jika putranya harus meminum susu formula, karena itu akan mengurangi ikatan batin antara ibu dan anak. Tapi Nara juga tahu, jika Raffi sudah membuat keputusan, maka itu yang akan terjadi. Ia pun nampak bingung sekarang, antara menuruti keinginan Raffi dengan kasih sayangnya sebagai seorang ibu yang selalu ingin memberi yang terbaik untuk putranya.
Nara terus berpikir sambil menyusui Rasya, yang sesekali mencium kening, pipi gembul juga tangan mungil putranya itu.
Dan akhirnya ia pun tersenyum,"maafkan aku Kak,,, harus mengambil langkah ini, aku akan memberikanmu anak lagi saat Rasya sudah dua tahun nantinya, untuk sekarang biarkan aku puas memberikan kasih sayangku padanya."
"Kenapa kau tersenyum sendiri,,, pasti berpikir saat kita bercinta bukan?"Bisik Raffi yang hembusan nafasnya menerpa leher Nara, membuat bulu bulu halusnya merinding.
"Kakak kenapa mengejutkanku terus, tadi bilang kita belum bercerai, tapi bukankah kakak setuju dengan ucapanku yang ingin bercerai, secara tak langsung kakak menceraikanku secara agama, kita meski menikah lagi secara agama lagi,,,"
__ADS_1
Raffi mengoyak lembut rambut Nara sambil tersenyum penuh arti," Iya sayang,,, kita akan melakukannya, bukankah semalem sudah aku bilang kita akan menikah, maaf jika aku menggunakan putra kita untuk mengancammu selama ini, maafkan aku,,," Raffi memeluk tubuh Nara yang masih menggendong Rasya. Membuat Nara menatap kearah Raffi sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sayang,,, aku sangat bahagia sekarang, ingin rasanya aku menghentikan waktu saat ini, terima kasih sudah melunakkan hatimu lagi, mau menerimaku lagi, menjadi istriku yang selama ini hanya air mata yang bisa kuberi padamu, maafkan aku sayang,,,"
Nara yang mendengar kata Raffi pun menjadi terharu, matanya sudah berkaca kaca, hampir saja tumpah kalau Bima tak segera mengetuk pintu kamar Raffi.
"Kalian itu selalu bikin aku naik darah saja, cepat bersiap, penghulu sudah datang."
Bima pun tersenyum sambil melangkah kearah keduanya.
"Biarkan aku yang menggendong Rasya, kalian bersiap sana, masa mau menikah masih memakai piyama, apa kita buat pesta piyama saja gimana?" Bima sengaja menggoda Nara dengan mengedipkan sebelah matanya, yang membuat Raffi geram melihatnya.
"Jangan coba coba menggoda istriku,,, kau akan tahu akibatnya, meski pun kita masih sepupu, aku takkan sungkan!" Tatapan tajam itu sudah terhunus kearah Bima.
"Lihat Nara,,, apa baiknya pria yang tidak bisa menahan emosinya ini, kenapa kau tidak menikah sama aku saja, bukankah aku lebih baik dari dia, kita juga kenal dah lama dan kau tahu pasti hatiku." Bima sengaja menggoda Nara terus agar Raffi semakin marah. Mungkin inilah saatnya ia menyerah atas rasanya pada Nara, karena selamanya ia tidak akan mungkin bisa bersama dengan wanita pujaannya.
"Kak,,, Bima hanya ingin menggoda kakak,, jangan terpancing emosi,,, dia akan merasa menang, ingat kita akan menikah, di hari bahagia jangan sampai ternoda dengan masalah yang nggak penting."
Raffi pun menepuk pelan punggung tangan Nara yang menggenggamnya sambil tersenyum" bersiaplah,,, "
Nara pun mengangguk, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Raffi, yang diikuti oleh Bima yang menggendong Rasya menuju ke rumah Nara. Di mana Bu Ida sudah menyiapkan semua keperluan Nara.
Setengah jam kemudian, Nara sudah siap dengan memakai kebaya modern dengan make up yang tipis. Bu Ida nampak bahagia melihat Nara yang selalu tersenyum, terlihat jelas kebahagiaan di matanya.
"Sudah siap sayang,,, Raffi juga penghulu sudah menunggu di ruang tamu."
__ADS_1
"Sudah Bu,,, tapi mengapa tiba tiba dada Nara deg deg an ya Bu,,," Nara yang tadinya bahagia tiba tiba saja merasakan sakit di dadanya, seakan ada beban yang terlalu berat, tapi ntah itu apa.
"Itu wajar sayang,,, pasti kamu gugup sekarang, sudahlah jangan berpikir yang aneh aneh." Tutur Bu Ida sambil memegang lengannya berjalan beriringan ke ruang tamu.
Semua orang menatap kearah Nara yang terlihat cantik. Ia pun tersenyum kearah semua orang, namun matanya tak berkedip menatap kearah Raffi yang tersenyum padanya.
"Duduk sayang,,, " Bu Ida menyuruh Nara duduk di samping Raffi. Namun ia hanya terdiam seakan memikirkan sesuatu.
"Kita mulai ya ijab qobulnya." Kata ustadz yang menjadi wali nikah Nara.
"Tunggu Pak,,, saya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, saya tidak bisa menerima pria di samping saya sebagai suami."
Semua orang terkejut dengan kata Nara, namun tidak dengan Raffi yang justru tersenyum manis ke arah Nara. Di barengi dengan datangnya seorang pria tampan yang masuk ke dalam ruang tamu itu sambil tersenyum.
Nara pun meneteskan air matanya, memandang kearah pria itu.
"Kenapa kalian tega mempermainkanku, jangan pikir aku tidak mengenali suamiku sendiri."
"Selamat Nara sayang,,,, kamu lulus dari ujian yang sengaja di minta oleh Mama. Karena ia takut jika kau akan salah mengenali suamimu sendiri saat kami bersama."
Disaat yang sama nampak Nyonya Lia, Nyonya Tama, Cindy juga Rana berdiri diambang pintu.
Nara pun berdiri lalu berjalan kearah orang orang yang dicintainya, lalu berhambur ke pelukan Rana juga Bunda dan kakak tirinya.
"Selamat ya sayang ,,,"ucap Nyonya Tama disela sela pelukan mereka, yang justru membuat air mata kebahagiaan itu mengalir dari mata mereka.
__ADS_1
bersambung,,