KASIH TIADA BATAS

KASIH TIADA BATAS
bab 56 kesalahpahaman


__ADS_3

"Aaakkhhh,,," pekik Nara yang menyaksikan dengan kedua matanya perkelahian Raffi juga Bima. Sungguh ia tak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Raffi sedang jual beli pukulan dengan Bima. Hanya karena dirinya. Nara berusaha untuk melerai keduanya, namun apa daya, kedua pria itu seakan di butakan oleh cemburu masing masing hingga gelap mata. Bahkan Naya sudah berusaha menengahi mereka dan menjadikan tubuhnya sebagai sasaran saat keduanya akan saling memukul, namun Raffi juga Bima seakan tahu hal itu akan terjadi, mereka pun kompak mendudukkan Nara di kursi, mengikat tubuhnya yang menyatu dengan kursi menggunakan seutas tali. Hingga ia hanya mampu untuk berteriak agar mereka menghentikan perkelahian mereka.


Suara kegaduhan di rumah Raffi pun terdengar oleh para tetangga. Mereka berbondong bondong menuju rumah Raffi, yang mereka ketahui itu adalah rumah dari orang asing yang baru saja dibelinya dari salah satu warga disini, dengan harga 2x lipat. Banyak warga yang mengatakan pemilik rumah itu beruntung, karena kini ia cukup kaya dan hidup bergelimang harta, padahal sebelum rumah itu dijual, mereka hanya keluarga miskin yang hidup sederhana.


Suara keributan itupun sampai ke telinga Bu Ida. Beliau pun bergegas pergi ke rumah Raffi yang kini juga banyak warga yang telah sampai di halaman rumah itu.


"Kak Raffi,,, Bima,,, ku mohon hentikan perkelahian kalian, atau aku tidak akan memaafkan kalian,,,!" Teriak Nara yang sudah putus asa karena keduanya tidak memperdulikan ucapan Nara, seakan menganggap wanita itu tidak ada di sana. Raffi benar benar marah sama Bima yang sudah mengusik pribadinya.


Begitupun Bima, ia marah melihat Raffi yang tadi mencium Nara dan berusaha untuk memperkosa Nara, itu menurut prasangkanya.


Karena ia mendengar Nara berteriak ketakutan. Saat ia membuka kamarnya, lalu berjalan ke ruang tamu, ia melihat Raffi dalam posisi mengukung tubuh Nara seakan ia mau berbuat yang tidak senonoh pada Nara. Tanpa banyak berpikir juga karena dorongan amarah dan cemburu, Bima segera menarik tubuh Raffi lalu memukulnya di bagian wajah juga perutnya. Raffi yang tidak terima dengan perlakuan Bima pun membalasnya. Hingga mereka berkelahi hebat saat ini. Karena terdorong rasa cemburu juga marahnya.


"Nara ada apa ini sayang,,," Bu Ida yang baru sampai terkejut melihat perkelahian Raffi dengan Bima, ditambah terkejut melihat Nara yang berderai air mata dengan tubuh yang terikat di kursi. Bu Ida segera melepas ikatan tali tersebut.


"Terima kasih Bu,,, mereka salah faham Bu,,, Bima mengira Kak Raffi mau menodai Nara, padahal tadi Kak Raffi itu cuma ingin mengambil kecoa yang ada di punggung Nara. Karena panik melihat Nara yang mengibas ngibas tangan ke punggung biar kecoa itu pergi, yang malah masuk kedalam baju Nara, dengan refleks Kak Raffi mengangkat baju Nara, membuatku berteriak karena terkejut, namun segera memakaikan baju Nara lagi setelah kecoa itu pergi. Namun kecoa itu masih mengganggu, justru ada di belakang kursi yang Nara duduki, Kak Raffi ingin mengusir kecoa itu, malah terpleset karena tangannya tak bisa menjangkau kecoa itu terhalang tubuh Nara. Membuat kami terjatuh dengan posisi yang seperti itu." Jelas Nara sambil menunggu Bu Ida membuka ikatan talinya.


"Kalian itu seperti anak kecil saja, ingat Nara bukan barang, ia juga punya hati." Tutur Bu Ida di tengah tengah keduanya yang kini terpisah karena tubuh keduanya di pegangi oleh warga kampung.

__ADS_1


"Mas Bima bersama Mas Raffi ikut kami ke balai desa, jelaskan semuanya disana, karena kalian sudah membuat keresahan warga, maka kami harus memberi sangsi pada kalian berdua." Pak RT yang ikut melerai keduanya pun menyuruh mereka ke balai desa untuk menyelesaikan permasalahan ini.


"Pak,,, kenapa harus ke balai desa, ini masalah keluarga kami Pak,,, biar kami selesaikan sendiri." Pinta Bu Ida yang tidak ingin masalah ini makin berlarut larut.


"Tapi mereka sudah mengusik ketentraman warga Bu,,, malam malam berkelahi membuat kegaduhan, apa Bu Ida bisa menjamin nanti mereka tidak akan berkelahi lagi." lanjut Pak RT yang diangguki oleh semua warga. Sedang Raffi dan Bima hanya diam saja tanpa bicara sepatah kata pun, hanya tatapan mereka tertuju pada Nara, yang juga menatap kearah keduanya bergantian.


"Saya yang akan menjaminnya Pak RT,,,, jika mereka masih berkelahi nanti, saya akan meninggalkan desa ini, maaf telah merepotkan semua warga juga Pak RT, maaf telah membuat semua orang terganggu tadi." Nara sudah melipatkan kedua tangannya di dada memohon maaf pada semua warga.


"Mbak Nara,,, lebih baik cepat selesaikan masalah hati, jangan di undur undur lagi, kasihan pada yang berharap lebih." Celetuk seorang warga yang di jawab senyum oleh semua orang. Membuat Nara nampak kikuk dengan keadaan saat ini.


"Mbak Nara beruntung dicintai 2 orang pria sekaligus, tapi juga musibah kalo keduanya sudah saling cemburu." celetuk warga yang lain, yang membuat semua orang terkekeh bersama.


Beliau pun menyuruh Raffi juga Bima untuk duduk, begitu pun dengan Nara juga Bu Ida. Setelah semuanya duduk, Pak RT pun mencoba menjadi penengah untuk masalah mereka.


"Nak Raffi,,, Nak Bima dan Nak Nara,,, boleh Bapak tahu, sebenarnya kalian ada masalah apa, karena Bapak sangat yakin, jika kalian semua orang yang berpendidikan juga tahu adat dan sopan santun, kenapa harus terjadi hal memalukan seperti ini."


Raffi pun menceritakan semuanya, persis seperti yang di bilang Nara pada Bu Ida tadi, Pak RT yang mendengarkan dengan seksama penjelasan Raffi pun manggut manggut tanda mengerti.

__ADS_1


"Oh,,, jadi ini cuma kesalah pahaman aja, lebih baik kalian segera baikan, apa lagi masih saudara, tidak baik menyimpan marah,,,tapi kalau boleh Bapak kasih saran, Nak Raffi segera halalkan saja Nak Nara, keburu ada yang ambil nanti, karena disini hampir semua anak muda sedang mengincar Nak Nara. Apa lagi tidak baik jika perempuan dan laki laki yang bukan muhrim bertemu berdua saja, karena yang ketiganya pasti syetan." Tanpa merasa bersalah Pak RT melihat ke arah Bima yang memegangi sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.


"Sialan tua bangka ini, mengataiku syetan,,," geram Bima dalam hatinya.


Raffi yang menatap Pak RT yang melihat kearah Bima hanya tersenyum tipis." Memang Pak,,, pasti ada syetan diantara saya juga Nara saat kami berdua, karena itu saya akan menikahinya besok."


Nara, Bima juga Bu Ida pun terkejut dengan kata Raffi. Mereka serempak menatap kearah Raffi yang terlihat santai tanpa dosa mengutarakan maksudnya.


"Aku tidak setuju dengan pernikahan ini,,,"


Nara pun bangkit dari duduknya lalu pamit pada Pak RT, mengambil Rasya di dalam box bayinya ingin melangkah keluar, namun langkahnya terhenti oleh Raffi.


"Rasya tidak bisa kamu bawa, ingat perjanjian kita." Raffi pun mengambil Rasya kembali dari gendongan Nara.


"Menikah denganku besok atau Rasya ke kota bersamaku besok." Raffi pun membawa Rasya masuk ke dalam kamarnya.


"Kak,,," kata Nara tercekat.

__ADS_1


bersambung,,,,


__ADS_2