
Sementara itu di kota B, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di halaman apartemen Naya. B segera keluar dari mobil mereka, berniat membukakan pintu mobil Naya namun gadis itu lebih dulu membuka pintu mobilnya. Tanpa kata ia segera melangkah menuju apartemennya diikuti oleh B di belakangnya.
Keduanya hanya diam seribu bahasa selama langkah menuju apartemen masing masing. Seakan larut dalam pemikiran yang hanya keduanya yang tahu.
" Selamat malam B, terima kasih untuk hari ini." Ucap Naya sambil membuka pintu apartemennya, lalu melangkah masuk.
"Malam juga Non, moga nyenyak tidurnya nanti." Balas B yang masih berdiri di depan pintu apartemen Naya. Meskipun pintu tersebut telah tertutup rapat. Namun B masih mematung di tempatnya. Ia pun kemudian mengambil ponselnya, menekan beberapa nomor hingga terdengar sambungan di seberang.
"Bagaimana tugas kalian,,," tanya B saat sambungan diseberang sudah ada yang mengangkat.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan, salah satu dari mereka sudah ada di tangan kita." jawab anak buah B yang kini sedang menyiksa orang yang ingin mencelakai Tuannya.
__ADS_1
Sayup sayup terdengar suara rintihan di telinga B saat anak buahnya menyiksa tawanan mereka." Bagus,,, dan ingat,,, hilangkan semua barang bukti tentang kita." lanjutnya.
"Siap Boss,,," balas anak buahnya di seberang yang langsung ditutup oleh B panggilannya. Dengan seringai kejam, ia pun melangkah menuju apartemennya yang bersebelahan dengan Naya.
Karena lelahnya, Naya pun berendam dalam bathup untuk sekian lama, hingga dirasa tubuhnya sudah kembali rileks dan segar, ia pun membersihkan dirinya di bawah guyuran shower, sepuluh menit kemudian, ia sudah keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Saat ia ingin mengambil piyamanya, ponselnya berbunyi, mulanya ia cuek dan tak ingin mengangkat tlp.tersebut, namun bunyi deringnya sungguh mengganggu pendengaran Naya. Akhirnya ia mengambil ponsel itu lalu menerima panggilan tersebut, ternyata B sedang melakukan video call.
"Ada apa, aku lelah sekali mau istirahat." jawab Naya sewot. Tanpa ia sadari pandangan lawan bicaranya kini terpusat pada belahan dada Naya yang hanya di tutupi oleh handuk yang melilit di tubuhnya.
"B,,,," panggil Naya sedikit meninggi membuyarkan lamunan B. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghilangkan rasa gugupnya saat Naya mulai menatapnya penuh selidik.
"Aku hanya merasa lapar, ingin mengajakmu makan di luar kalau mau, bukankah tadi kamu juga belum makan." Sumpah demi apa pun, tubuh B rasanya memanas melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Sial,,, kenapa aku jadi tak bisa mengontrol hasratku, Naya,,, cepatlah sadar ,,, jangan siksa aku melihat tubuh indahmu, aku juga manusia biasa , bisa khilaf nantinya,,, Oh Tuhan,,,,"gumam B frustasi di dalam hatinya.
Sedangkan Naya belum juga menyadari akan keresahan yang di derita B, ia tetap cuek tanpa menyadari kalo ia belum berganti piyama tidurnya.
"Aku malas keluar B, aku mau tidur saja,," Kini mata Naya yang terbelalak saat melihat piyamanya masih ada di atas tempat tidurnya. Ia pun melihat ke bawah,, Ya Tuhan,,," pekiknya sambil melempar ponselnya diatas tempat tidur, segera ia mengambil piyama tersebut lalu masuk ke kamar mandi untuk memakainya, ia tak menghiraukan panggilan B padanya. Raut wajahnya sudah memerah karena malu pada B, ia memang ceroboh sekali.
"Ya Tuhan,,, mau ditaruh dimana wajahku saat bertemu dengan B nantinya, Naya,,, Naya,,, kau benar benar bodoh." rutuknya dalam hati karena kebodohannya, ingin rasanya ia menenggelamkan aja tubuhnya ke dalam bathup mengingat beberapa saat yang lalu.
"B ,,, kau sangat menyebalkan,,,,"teriaknya dari dalam kamar mandi.
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1