
Sementara itu di kota B, disebuah ruangan yang di dominasi cat berwarna putih, nampak seorang gadis sedang menatap ponselnya. Dengan senyum yang terus mengembang menatap foto seorang pria tampan yang tersenyum begitu mempesona baginya.
"Kau memang begitu tampan, pantas saja banyak wanita yang menggilaimu, begitu pun aku. Meski kucoba untuk menekan perasaan ini, namun aku semakin tak berdaya karenanya. Kau semakin dalam mengisi relung hatiku. Hingga aku pun tak sanggup untuk menghindar lagi. Andaikan senyum ini untukku, sungguh,,, akulah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Namun sayang,,, itu semua hanya angan dan mimpiku saja karena hatimu hanya untuknya. Dan aku semakin iri dibuatnya. Mungkin aku bukan sahabat yang baik, tapi jangan pernah salahkan aku, karena ini juga ketidakberdayaanku."
Senyum sinis itupun terbit di bibirnya saat ia menggeser layar ponselnya, memperlihatkan foto seorang gadis cantik yang tersenyum manis di dalam ponsel itu.
"Maafkan aku Naya, dari awal sampai akhir kau adalah sahabat terbaikku, tapi maafkan aku kali ini jika harus merebutnya darimu. Karena hanya dia yang aku inginkan tuk jadi pendampingku sedari kecil. Perjodohan kami sewaktu kecil itu semua inginku. Dan kau yang hadir diantara kami yang membuatnya berpaling dariku. Maafkan aku jika merebutnya kembali. Karena dalam cinta apa pun dihalalkan. Termasuk merebutnya darimu."
__ADS_1
Saat Lifia asyik berbicara sendiri dengan ponselnya, tiba tiba saja pintu ruangan kamarnya terbuka. Masuklah sesosok tubuh yang tak asing baginya. Lifia hanya memandang sekilas pada pria yang kini melangkahkan kakinya kearah brankarnya.
"Untuk apa kamu datang kemari, bukannya kamu harus mendekati Naya agar rencana kita berhasil." Lifia menyandarkan tubuhnya di kepala brankar dengan bantal sebagai penyangga punggungnya. Seakan menunggu jawaban dari pria yang kini duduk di kursi samping brankarnya, lifia meletakkan ponselnya di nakas samping brankarnya.
Pria itu hanya menghela nafasnya dengan kasar." Dia sekarang ada di desa kakaknya, mencoba menenangkan diri setelah insiden kemarin yang telah engkau mainkan dengan apik, saat aku ingin mengantarnya, ia menolak dengan alasan rumah sakit ini butuh tenaga medis, banyak pasien yang akan terlantar jika kekurangan tenaga medis, meskipun aku bersikeras ingin mengantarnya, namun ia tetep bersikukuh dengan keputusannya. Akhirnya aku yang mengalah.
"Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?"
__ADS_1
Lifia menatap jengah kearah Bayu, ia pun menatap lekat kearahnya." Apa kau meragukan aktingku Bay,,,? Bahkan Naya sendiri sudah masuk dalam perangkap yang telah aku buat. Kau bisa lihat, bagaimana reaksinya saat melihat aku histeris kemarin. Dan aku yakin, ia akan merelakan Rendra dengan inginnya sendiri." Senyuman sinis dengan penuh kemenangan menghiasi bibirnya. Keyakinannya akan bisa memiliki Rendra akan terwujud, meski dengan cara yang licik.
"Semua sah sah saja dalam urusan cinta Naya sayang,,, jangan salahkan aku, salahkan takdir yang tidak berpihak pada cinta kalian." Tuturnya lirih namun bisa di dengar oleh Bayu.
Pria itu hanya bisa membuang nafasnya kasar sambil menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Jauh di lubuk hatinya ia tak sependapat dengan Alifia. Namun untuk melindungi Naya, ia harus tetap mengikuti rencana Alifia, meski hatinya juga sakit melihat air mata Naya.
"Aku akan terus bersamamu, menjagamu dari mereka yang ingin menyakitimu, terutama orang tua Alifia juga Rendra nantinya." Bisiknya dalam hati yang menatap dingin kearah Alifia.
__ADS_1
bersambung,,,,,