
[Cantik, kamu tidak lupa sama janji kita hari ini, kan?]
Alexa menghembuskan napas berat membaca pesan yang di kirim oleh Samudera. Hari ini Alexa memang sudah berjanji akan menemaninya makan siang, sebagai salah satu syarat perjanjian mereka.
[Cuma makan siang, kan?] Alexa cepat mengirimkan balasan.
[Iya] hanya beberapa detik Sam langsung membalasnya. [Memang apalagi?]
Tuh, kan, Alexa jadi kehilangan kata-kata sendiri.
'Bo–doh, pasti Om Sam anggap aku lagi mikir yang enggak-enggak!' Alexa benci dengan pikirannya sendiri. Tapi, tetap saja ia harus waspada. Namanya juga laki-laki. Alexa kembali mengetikkan sesuatu, [Om janji dulu, nggak akan macam-macam.]
[Iya janji.]
Alexa baru bisa menghembuskan napas lega. Dalam perjanjian itu Alexa memang sudah memberikan beberapa syarat yang tidak akan merugikan dirinya sama sekali, misalnya Sam hanya boleh mengajaknya kencan satu bulan sekali, itupun hanya sekedar makan serta memilih tempat yang privasi agar tidak ada satu orangpun yang melihat keberadaan mereka.
[Mau di jemput atau berangkat sendiri?]
Pesan dari pria itu masuk lagi pada ponsel Alexa. Tanpa sadar Alexa mengembangkan senyum.
[Nggak usah. Langsung ketemu aja di restoran.]
Kirim ...
"Kau mau ke mana? Bukannya Ayah sudah pesankan makan siang untukmu?" Roy memergoki putrinya yang baru melangkah keluar dari lift. Padahal ia sudah sengaja memesan makanan agar Alexa tidak keluar dan makan siang di ruangan kerjanya saja.
"Aku bosan, Yah, makan siang di kantor terus. Boleh ya makan di luar sekali-kali?" pinta gadis itu dengan wajah memelas. Lagipula sudah lebih dari seminggu magang di kantor milik sang ayah, Alexa sama sekali tidak pernah keluar kantor, kecuali jika tiba waktunya pulang.
"Dengan siapa? Kamu bisa ajak sekretaris ayah, biar ada yang temenin. Tapi ingat, jangan terlalu jauh, cukup restoran di sekitar kantor saja." Roy memang seposesif itu, apalagi setelah kejadian kemarin. Tapi, entah kenapa Alexa selalu punya cara untuk mengelabuhi sang ayah. Bahkan sampai saat ini Roy masih belum tahu jika Alexa sering menemui Samudera secara diam-diam.
"Aku udah gede, Yah. Lagian cuma makan bentar aja. Boleh ya, please ...."
__ADS_1
Roy terpaksa memberikan ijin, melihat wajah memelas gadis itu. Meski ia masih was-was, takut sesuatu yang buruk terjadi dengan putrinya.
"Makasih, Yah. Aku sayang Ayah." Cup! Satu kecupan mendarat pada pipi Roy. Alexa tersenyum senang setelah menyambar kunci mobil yang di berikan ayahnya. Gadis itu melangkah buru-buru menuju tempat parkiran.
'Kenapa sifatmu sama persis seperti Elisa ...' Roy menggeleng pelan melihat sifat Alexa yang tidak beda jauh dengan mamanya. Mereka memang mirip dalam hal sifat, sama-sama keras kepala.
Roy melanjutkan langkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas.
.
.
.
"Silahkan, Nona. Tuan Sam sudah menunggu Anda di dalam."
Bahkan baru keluar dari mobil Alexa sudah di sambut salah satu bodyguard milik Samudera. Apa memang dirinya begitu spesial hingga di perlakukan seperti ini. Ah, Alexa memaki dirinya sendiri yang terlalu percaya diri. Mana mungkin Alexa! ucapnya lagi menyadarkan posisinya.
"Eh, maaf, Pak, ini kenapa restoran sepi ya? Apa udah mau tutup?" Alexa hanya heran melihat tidak ada pengunjung sama sekali di dalam restoran itu.
"Hahhh ...!"
Alexa sampai melongo mendengarnya. Masa hanya ingin makan siang saja harus membooking satu restoran.
"Duh, masa bo–dohlah." Alexa tak peduli. Ia terus melangkah kearah ruangan yang sudah di tunjukkan oleh bodyguard milik Sam tadi.
'Mungkin Nona tidak tahu jika Tuan memiliki puluhan cabang restoran di berbagai kota, salah satunya restoran ini.' Bodyguard tadi membatin setelah melihat gadis itu menjauh dari pandangannya. Ia kembali ke depan, berjaga seperti sediakala mengawasi kondisi sekitar restoran.
Sedang Alexa hanya menatap Samudera yang tengah duduk dengan masih menatap layar laptop di depannya. Melihat kemunculan gadis itu, Sam langsung menghentikan pekerjaannya dan menggeser laptop itu dari jangkauannya.
"Duduklah. Saya tidak tahu seleramu seperti apa, makanya saya memesan semuanya untukmu."
__ADS_1
Alexa menelan salivanya dengan susah payah menatap pada makanan yang berjejer rapi di atas meja. Mungkin ada lebih dari sepuluh menu makanan yang tersaji di sana, hingga Alexa sendiri bingung memikirkan bagaimana caranya untuk menghabiskan semua itu.
"Om ... nggak salah pesan menu sebanyak ini?"
"Kenapa?Jarang-jarang 'kan kita bisa makan siang seperti ini." Samudera hanya menjawab santai, seolah tanpa beban sama sekali.
'Baiklah, orang kaya mah bebas sih, yah! Untung cuma sebulan sekali aku ketemu sama Om Sam, kalau tiap hari, bisa-bisa aku gendut, nih.' Alexa tidak bisa membayangkan akan seperti apa bentuk tubuhnya jika setiap hari harus menghabiskan makanan sebanyak itu.
Makan siang berjalan asik meski suasana restoran yang sepi tanpa pengunjung sama sekali. Alexa pun sangat menikmati makanannya hingga pria di depan sana terus mengembangkan senyum senang.
"Om ..."
"Ya ..."
Alexa menggigit bibirnya pelan. Gadis itu beberapa kali menatap makanan yang belum sempat tersentuh sama sekali. Alexa merasa sayang jika harus meninggalkannya begitu saja. Pasti ujung-ujungnya nanti semua makanan itu akan masuk ke tong sampah.
"Bicara saja, tidak usah sungkan," ungkap Samudera ketika melihat keraguan dari sorot mata Alexa.
"Boleh nggak, nanti makanan yang masih utuh ini di bungkus saja?"
Samudera langsung mengernyit heran mendengar permintaan aneh gadis itu. Alexa bukanlah gadis biasa yang akan kekurangan makanan, bahkan Sam tahu jika keluarganya sangat memanjakan Alexa selama ini. Tapi, entahlah ...
"Apa perlu saya pesankan lagi? Atau, ... "
"Nggak usah, Om. Yang ada dia atas meja ini aja." Alexa langsung menolak saat Sam menawarkan akan memesankan beberapa menu lagi.
"Baiklah."
Seperti permintaan Alexa tadi, semua makanan yang masih utuh di atas meja tadi di bungkus oleh pelayan restoran. Alexa menuju mobil di antar sang bodyguard yang tadi menjemputnya, sekalian membawakan kotak-kotak berisi makanan dari restoran itu.
[Makasih Om, makan siangnya enak. Aku suka.]
__ADS_1
Alexa mengirimkan sebuah pesan untuk Samudera. Selanjutnya gadis itu menginjak pedal gas untuk melaju meninggalkan restoran.
"Pak, ikuti mobil gadis itu!" perintah Samudera pada pria yang berada di belakang kemudi, setelah melihat mobil yang di kendarai Alexa keluar dari parkiran restoran miliknya.