
"Katrina!" Samudera terpaksa mencekal tangan sang istri ketika mereka baru keluar dari mobil. Rencana pembahasan bisnis gagal total karena Katrina tiba-tiba pergi bahkan sebelum acara di mulai, dan kini akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kantor.
"Apa? Kamu ingin memarahiku?" ucap Katrina dengan tatapan sengit. Mungkin tindakannya meninggalkan restoran tadi adalah pilihan terbaik, lagipula ia tidak mungkin meminjamkan kalung itu pada Alexa. Bisa-bisa semuanya tambah runyam jika semua sampai tahu jika kalung itu ternyata memang milik keluarga Andreas.
"Seharusnya kau tidak meninggalkan restoran begitu saja. Lihat, apa yang sudah kau lakukan, semua kacau karena ulahmu!" Sepanjang jalan menuju ruang kerjanya Samudera terus mengomel sampai menjadi tontonan para karyawan kantor. Ia tidak peduli karena tindakan Katrina kali memang sudah sangat keterlaluan.
"Lalu aku harus bagiamana? Menyerahkan kalung milikku pada wanita simpananmu itu?" Katrina melotot. Ia kesal Samudera menyalahkannya. Harusnya jika ada yang harus di persalahkan adalah Alexa, karena gadis itu yang memaksa ingin melihat kalung yang ia pakai hingga membuatnya meninggalkan restoran.
"Lagipula Alexa hanya ingin melihatnya, bukan memintanya darimu. Kenapa kau seolah ketakutan sekali. Atau jangan-jangan, benar apa yang di katakan Alexa, kalung itu memang miliknya." Samudera makin memojokkan Katrina. Wanita itu tambah gelagapan di todong pertanyaan demi pertanyaan oleh suaminya itu.
"Aku bukan takut, tapi kamu juga harus tahu dong, kalung ini pemberian ibuku. Ini sangat berharga. Mana mungkin tiba-tiba gadis itu mengakui sebagai miliknya."
"Ah, sudah. Aku tambah pusing dengan penjelasanmu yang tak masuk akal itu!" Samudera malah keluar lagi meninggalkan Katrina di ruangannya. Ia secepatnya harus menghubungi Roy dan meminta maaf atas kejadian yang tak mengenakkan ini.
Katrina masih tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya mengenai pengakuan Alexa tadi. Baginya ini akan jadi malapetaka jika apa yang di ucapkan Alexa adalah benar. Maka, untuk membuktikan, Katrina langsung mencopot kalung itu dan dengan tangan yang sedikit gemetar ia mencoba membukanya.
Katrina langsung terperanjat. Ia menutup mulutnya tak percaya saat melihat inisial A benar-benar ada di dalam sana. Bahkan huruf itu tertulis dengan sangat jelas.
"Celaka! Jadi, gadis yang menolong Oma Maulin waktu itu ternyata Alexa." Katrina tak habis pikir kenapa dunia terasa sempit sekali. Di dunia ini ada milyaran manusia, tapi kenapa harus Alexa.
"Aku harus segera melakukan sesuatu. Tapi, gimana caranya menyembunyikan semua ini?" Katrina mengacak rambutnya frustasi. Haruskah ia membuang kalung itu, tapi mereka malah akan semakin mencurigainya, terutama Samudera. Lagipula, setelah ini Katrina yakin sekali jika Alexa akan berusaha menemuinya lagi.
__ADS_1
.
.
.
Keesokan harinya ...
Alexa melangkah lesu menuju lobby kantor setelah di bukakan pintu oleh salah satu bodyguard. Namun tak lama senyum seketika mengembang di bibir gadis cantik itu.
"Kak Caca!" teriak seorang bocah laki-laki menghampiri Alexa. Bocah bernama Diki itu berlari mendahului seorang pria muda dan Mak Nengsih yang sejak tadi menunggu kedatangan Alexa.
"Diki ... " Lalu tatapan Alexa mengarah pada dua orang di belakang sana.
"Abang Andi yang ngajak kita ke sini." Diki yang antusias menjawab. Sedangkan Mak Nengsih hanya tersenyum menatap lekat pada wajah cantik Alexa.
Alexa mengajak mereka berbincang di sebuh cafe yang letaknya tidak jauh dari kantor, tentunya masih dalam pengawasan dua bodyguard milik ayahnya. Alexa sengaja mengajak ke tempat itu karena ada sesuatu hal yang ingin ia tanyakan pada mereka.
Memang sejak tadi Diki yang lebih banyak bertanya. Sedangkan Andi baru membuka suara saat mereka sudah duduk di dalam cafe.
"Maafin Abang ya, Ca. Abang sempat salah paham sama kamu," ucap Andi tak enak hati. Bagaimanapun marahnya para penghuni kawasan kumuh pada Alexa waktu itu adalah sebab mereka mendengar informasi dari Andi. Meski, Andi juga tak sepenuhnya bisa di persalahkan karena ia hanya menyampaikan mengenai siapa sebenarnya Alexa.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Bang. Aku juga minta maaf belum bisa datang ke sana lagi," balas Alexa dengan senyum tipis.
"Mak juga minta maaf ya, Neng. Udah pernah nuduh Neng Caca yang macam-macam." Meski saat itu Mak Nengsih tidak ikut memaki Alexa, tapi tetap saja Mak Nengsih pernah berpikir buruk juga tentang gadis itu.
"Nggak apa-apa, Mak. Oh ya, gimana kabar kalian? Mak sehat, kan? Terus kabar anak-anak gimana, Bang?"
Andi lega mendengar Alexa telah memaafkan dirinya. Tadinya Andi sempat merasa tak percaya diri saat Mak Nengsih dan Diki memintanya untuk bertemu dengan Alexa. Andi cukup tahu diri siapa dirinya saat ini.
Sementara Diki dan Mak Nengsih tengah menikmati makanan, Andi meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Alexa sebelum gadis itu kembali ke kantor.
"Gimana keadaan mereka di sana, Bang?"
"Kamu perlu tahu, Ca, keadaan di sana sekarang udah banyak berubah," ucap Andi yang di balas tatapan tidak mengerti dari Alexa.
"Maksud, Abang?" Alexa nampak gelisah, ia takut jika ayahnya ingkar janji. "Apa tanah mereka belum di kembalikan?"
Andi menggeleng seraya tersenyum menatap wajah cantik Alexa yang kini terlihat tegang.
"Bukan. Ayah kamu sudah mengembalikan semua tanah itu pada kami. Bahkan, Ayah kamu udah kasih bantuan dengan mendirikan gedung sekolah buat anak-anak."
Alexa langsung berbinar mendengar penjelasan Andi.
__ADS_1
"Beneran, apa yang Abang bilang?"
"Maaf, Nona. Kita harus secepatnya kembali ke kantor, karena di sana sedang terjadi kekacauan," ucap seorang bodyguardnya memberitahu.