Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Bab 9. Kami Menyayangimu


__ADS_3

"Sebenarnya ada apa sih, Om?" Alexa terpaksa pindah meja meninggalkan Tika dan Sella yang masih menatapnya dari kejauhan. Beberapa menit lalu tiba-tiba Alex datang dan menghampiri Alexa yang sedang asik bercengkerama di salah satu cafe bersama dua sahabatnya itu.


"Sebentar saja," ungkap Alex. Kebetulan sekali Alex bertemu dengan keponakannya di sini. Padahal memang ada sesuatu yang ingin Alex bicarakan dengan gadis itu, hanya saja Alex belum memiliki kesempatan berkunjung ke rumah Alexa.


"Kenapa harus pindah meja? Kenapa nggak di sana aja?" Alexa tersungut-sungut menuruti permintaan aneh sang paman.


"Om tidak enak, ada teman kamu." Alex menjawab santai. Ia memanggil seorang pelayan dan memesan sesuatu sebelum memulai pembicaraan.


"Gimana kuliah kamu, lancar, kan? Kabar Ayah sama Mama kamu juga baik-baik aja, kan?" Alex basa-basi menanyakan kabar mereka lebih dulu.


"Baik, Om. Om sendiri, gimana kabarnya? Tante sama Kia sehat, kan?"


Kia adalah putri tunggal Alex yang usianya satu tahun lebih muda dari Alexa.


"Alhamdulillah mereka baik."


Alex mengeluarkan ponsel dari balik jas yang ia kenakan dan langsung menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Alexa. Gadis itu tetap bergeming dan hanya menatapnya sekilas.


"Maksudnya apa coba?" batin Alexa tak mengerti.


"Apa benar, kamu punya hubungan Dengan Samudera Wisam Setiawan?"


Jantung Alexa nyaris copot mendengarnya. Bagaimana sang paman bisa tahu? Oh ya, Alexa baru ingat jika karena pria itu lah ia terbebas dari masalahnya kemarin.


"Kamu tidak sungguh-sungguh memiliki hubungan dengan pria itu, kan?" Alex kembali mengulang pertanyaan tadi ketika melihat reaksi Alexa yang hanya bungkam.


"Kenapa Om bertanya seperti itu? A–aku tak mungkin memiliki hubungan dengan pria beristri," ungkap Alexa dengan gugup. Gadis itu meremas kedua tangannya yang sudah terasa dingin.


"Om cuma tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, Xa. Jadi, lebih baik hentikan ide konyolmu itu untuk balas dendam kepadanya."


Alexa membelalak mendengar ucapan Alex. Apa mungkin pria di depannya itu tahu sesuatu.

__ADS_1


"Jangan bohong, Lexa. Kamu mendekatinya hanya karena ingin membalas sakit hatimu, kan? Wanita itu yang merebut kekasihmu, lantas kamu ingin balas dendam dengan menjalin hubungan dengan suaminya?"


"Om ...?"


Alex memang tidak mengatakan apapun mengenai masalah itu pada Roy. Alex hanya mengikuti apa yang di minta sang kakak untuk mengurus foto-foto Alexa yang terlanjur tersebar di media sosial kala itu. Tapi, Alex di buat terkejut setelah melakukan penyelidikan dan mengetahui sumber masalah yang sebenarnya hingga foto-foto Alexa harus tersebar.


"Tolong hentikan, Lexa. Katrina sangat berbahaya. Kamu mungkin belum mengenal siapa sebenarnya wanita itu, dan mengenai mantan kekasihmu, lupakan dia. Di luar sana masih banyak pria baik yang bisa mencintaimu dengan tulus," ungkap Alex lagi hingga membuat Alexa terpaksa memalingkan wajah kearah samping.


Bagaimana mungkin sang paman sampai tahu hingga sedetail ini. Tapi setidaknya, Alexa lega karena Alex belum tahu mengenai kesepakatan yang dirinya buat dengan Samudera.


"Kita hanya berteman, Om. Percayalah, aku akan baik-baik aja."


"Balas dendam hanya akan membuat hidupmu semakin buruk, Nak. Percayalah Alexa ... itu bukan satu-satunya jalan untuk membalas rasa sakit hatimu.''


Sampai akhirnya sang paman pamit setelah pesanan makanannya jadi dan di antar oleh salah satu pelayan ke mejanya.


"Kamu tenang aja, Ayah kamu belum tahu mengenai masalah ini. Paman tidak akan cerita apa-apa sama dia. Tapi, Om mohon ... hentikan semuanya, Lexa. Kami menyanyangimu."


.


.


.


Irwan mengerjap setelah cahaya matahari sedikit menerobos melalui celah horden dan tepat mengenai wajahnya. Di sebelahnya seorang wanita cantik masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menggulung tubuhnya.


"Ck! Padahal ada sesuatu yang harus aku bicarakan." Irwan bergumam pelan, mengingat percakapannya dengan sang ibu di sambungan telepon kemarin siang. Tentang sang adik yang kabarnya sedang ada di kantor polisi karena terlibat perkelahian dengan teman satu sekolahnya.


"Katrina, bangun." Irwan mengguncang bahu Katrina pelan. Wanita itu hanya menggeliat, lalu kembali terlelap dengan posisi yang berbeda.


"Katrina, hey ... !" Irwan terpaksa menarik selimut itu, hingga hawa dingin langsung menyentuh tubuh polos Katrina.

__ADS_1


"Apa sih, Wan. Masih terlalu pagi, aku masih ngantuk."


Memang itulah yang selalu di lakukan Katrina setelah menjalin kasih dengan Irwan. Di waktu akhir pekan seperti ini biasanya mereka akan menghabiskan waktunya bersama, lalu paginya akan mereka gunakan untuk tidur seharian. Tapi, hari ini Irwan tidak bisa memejamkan matanya kembali setelah terjaga beberapa menit lalu.


"Aku butuh bantuanmu." Irwan terpaksa berbicara meski Katrina masih dalam keadaan mata terpejam. Ia berharap sekali Katrina tetap mendengarnya.


"Katrina ..."


"Apa sih, Wan, kamu nggak dengar tadi, kalau aku masih ngantuk. Aku mau tidur!" Katrina mengubah posisi memunggungi Irwan dan menarik selimut lagi hingga membungkus seluruh tubuhnya.


"Tapi aku butuh bantuanmu. Kamu tahu 'kan kalau saat ini aku nganggur."


Di balik selimut Katrina mendengus mendengar ucapan Irwan. Ia tahu, pasti urusannya tidak jauh dari uang.


"Ada apalagi? Bukannya baru seminggu yang lalu aku transfer, dan harusnya itu cukup 'kan untuk kebutuhan kamu satu bulan?" Katrina memang seroyal itu dengan para prianya. Ia akan memberikan apapun, bahkan biasanya Katrina malah memfasilitasi setiap pria yang menjadi kekasihnya.


"Uang dari kamu kemarin sudah aku transfer ke kampung."


'Katrina berdecak, lalu apa urusannya denganku coba!'


"Aku butuh uang lagi. Adikku ada di kantor polisi karena terlibat perkelahian. Kamu bisa 'kan bantu aku?"


Katrina mengacak rambutnya frustasi. Kenapa sekarang ia juga ikut terbebani dengan masalah keluarganya Irwan sih?


"Please, Kat, aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa. Kamu mau bantu aku, kan?" Irwan memohon, hingga Katrina terpaksa menyambar ponsel di atas nakas.


"Nih, udah. Cukup 'kan buat bebasin adik kamu?" Katrina memperlihatkan hasil transaksinya beberapa detik lalu. Senyum Irwan mengembang, ia tahu Katrina memang selalu bisa di andalkan.


"Makasih, Sayang. Aku mencintaimu ..."


Irwan langsung memeluk tubuh polos Katrina dengan perasaan berbunga.

__ADS_1


__ADS_2