
[Lalu aku harus gimana, Bu? Aku nggak mungkin buang kalung ini,] ucap Katrina dengan cemas. Wanita itu hanya mondar-mandir tak jelas di dalam kamar sambil terus melanjutkan panggilan teleponnya dengan sang ibu.
[Kau ini bodoh atau bagaimana, sih?] Sang ibu berdecak gemas mendengar Katrina yang malah kebingungan. Kenapa di saat seperti ini Katrina tidak menggunakan otaknya sama sekali.
[Ck, kenapa Ibu malah mengataiku bodoh? Kalau aku bodoh, mana mungkin aku bisa menikah dengan Samudera, Bu.] Katrina sedikit kesal dengan jawaban ibunya yang seringkali mengatainya bodoh.
[Gunakan otakmu, Katrina!" Sang ibu mengeram kesal dari seberang sana.
Katrina masih belum paham ke mana arah pembicaraan sang ibu yang sejak tadi bertele-tele.
[Kenapa kau tidak .... ]
Katrina nampak terdiam cukup lama. Menimbang saran dari ibunya yang cukup masuk akal.
[Katrina ...! Apa kau masih mendengarkan ibu? Kau tak perlu khawatir, nanti ibu akan carikan orang yang ahli dalam membuatnya.]
[Baiklah. Aku akan menuruti saran dari ibu.] Akhirnya Katrina menyetujuinya. Tak lama sang ibu mengirimkan sebuah alamat seseorang yang harus Katrina datangi.
"Ayo, Pak, jalan!"
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Mobil Katrina keluar dari gerbang bertepatan dengan mobil milik Samudera yang mulai mendekati gerbang rumah mereka. Samudera menyuruh sang supir menghentikan mobilnya sebentar, lalu mengamati mobil milik istrinya yang mulai menjauh meninggalkan rumah.
"Tuan, apa kita langsung masuk?" Supir yang ada di balik kemudi menyadarkan lamunan Samudera yang masih terpaku menatap mobil Katrina yang sudah menghilang di kejauhan.
"Tolong ikuti mobil Katrina, Pak. Saya ingin tahu dia pergi ke mana!" perintah Samudera. Sang supir cukup terkejut dengan perintah dari tuannya itu. Biasanya Samudera akan memilih menyuruh salah satu anak buahnya jika ingin tahu sesuatu mengenai Katrina. Tapi, tumben sekali hari ini ia sendiri yang menyuruh sang supir untuk mengikuti mobil sang istri.
"Baik, Tuan." Mobil mulai melaju meninggalkan gerbang rumah. Supir sedikit mempercepat laju kendaraannya supaya bisa menyusul mobil milik sang majikan perempuannya.
"Jika hanya ingin tahu dengan siapa Nyonya pergi, saya bisa mengikutinya sendiri, Tuan. Tuan tak perlu repot-repot turun tangan sendiri seperti ini," ucap Supir itu yang sejak tadi melihat sang tuannya hanya diam.
"Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin tahu kali ini Katrina akan pergi ke mana." Samudera masih menatap lurus pada mobil milik Katrina yang mulai terlihat.
"Jika Nyonya bertemu dengan seorang pria, apa Anda akan marah?"
"Kau pikir aku akan cemburu? Bahkan aku tak peduli dengan siapa dia akan berkencan!" Samudera seolah tahu isi pikiran anak buahnya itu.
"Tentu tidak, Tuan. Saya tahu bagaimana Anda." Pria di balik kemudi memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin sampai salah bicara lagi, takut jika pria di belakang sana akan murka.
Katrina pergi dengan keadaan cemas tidak menyadari jika mobil yang ia tumpangi sedang di buntuti oleh mobil lain di belakang sana. Katrina hanya menyuruh sang supir untuk melajukan mobilnya secepat mungkin agar bisa segera sampai ke alamat yang di kirimkan oleh sang ibu.
Mobil berhenti di sebuah parkiran mall yang cukup besar. Katrina turun dengan tergesa lantas melangkah buru-buru masuk ke dalam sana.
__ADS_1
"Apa Anda akan ikut masuk juga?"
"Tentu saja!" Samudera keluar setelah di bukakan pintu oleh sang supir. Ia mengambil jarak yang lumayan jauh agar Katrina tidak sampai tahu jika saat ini dirinya sedang di ikuti.
"Untuk apa Katrina pergi ke sebuah toko perhiasan? Bukankah beberapa hari yang lalu dia sudah membeli perhiasan dengan Oma?" Samudera membatin, menatap dari kejauhan Katrina yang sedang berbincang dengan seseorang. Lalu Katrina terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
Setengah jam kemudian Katrina pergi dari toko perhiasan itu. Tinggallah Samudera dengan beribu pertanyaan dalam benaknya.
"Maaf, wanita yang tadi datang ke sini apa membeli sesuatu?" tanya Samudera pada salah satu pelayan toko itu. Sang pelayan menatap Samudera dengan curiga, lantas malah berbisik pada salah satu rekannya lagi.
"Hei, kau tuli!" Sang supir yang mengikuti Samudera masuk ke dalam sampai membentak karena pelayan tadi belum juga menjawab pertanyaan dari tuannya..
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa memberikan informasi pada sembarang orang."
"Kau belum tahu siapa beliau, hahh! Cepat katakan! Atau, toko ini akan saya hancurkan!" Supir sekaligus bawahan Samudera itu sangat geram dengan sikap pelayan yang terlihat menyepelekan.
Nyali pelayan itu langsung menciut mendengar ancaman dari pria yang terlihat seram di depannya. Tak lama sang pemilik toko perhiasan itupun keluar dengan dan menatap siapa tamu yang menyambangi tokonya wajah pucat.
"Tuan, Sam ... ada apa ini?" Pria itu melirik dua pelayanannya dengan beribu tanya. Ia kenal sekali siapa pria yang saat ini mendatangi toko perhiasannya itu.
"Oh, jadi Anda pemilik toko ini?"
__ADS_1
"Tuan Samudera, apa yang bisa kami bantu? Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya sang pemilik toko dengan sangat ramah. Ia memberi kode pada dua pegawainya agar bersikap sopan pada tamu yang kini ada di depannya.
"Tidak! Aku hanya ingin tahu, untuk apa istri saya datang ke mari?" tanya Samudera tanpa basa-basi.