Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Berkelahi


__ADS_3

Saat ini hidup Katrina sedang tidak baik-baik saja, bahkan bisa di katakan posisinya saat ini dalam keluarga Wisam Setyawan sudah tidak ada pengaruhnya lagi.


Mungkin status Katrina memang masih sebagai istri dari Samudera, tapi hak yang dulu Oma Maulin berikan pada wanita itu telah di cabut, termasuk posisinya sebagai menantu dari keluarga itu bisa hilang kapan pun juga.


Katrina frustasi, tidak ada tempat yang ingin ia kunjungi selain kediaman sang ibu, karena di sanalah biasanya Katrina akan bisa menyelesaikan setiap masalahnya, tentu saja atas ide serta bantuan dari ibunya.


"Lalu, aku harus gimana, Bu? Si tua bangka itu benar-benar udah tidak mempercayaiku lagi," ungkap Katrina menceritakan keresahannya pada sang ibu.


"Itu semua juga gara-gara kau, Katrina. Coba saja kau bisa lebih berhati-hati, mungkin kejadiannya tidak akan sekacau ini." Sang ibu juga tidak tahu harus melakukan apa. Apa mungkin ia harus mendatangi Oma Maulin dan meminta maaf atas nama putrinya. Rasanya percuma, ia paham sekali bagaimana sifat wanita tua itu.


"Please dong, Bu, jangan salahkan aku terus. Setidaknya Ibu bisa cari cara 'kan buat selesaikan semua masalah ini. Sekarang aku benar-benar bingung."


Mereka berdua diam dengan pikirannya masing-masing. Katrina sendiri memutar otak agar posisinya sebagai menantu keluarga kaya raya itu tidak terdepak, sedangkan sang ibu pun tak rela jika harus kehilangan kemewahan serta fasilitas yang selama ini dirinya nikmati.


"Bagaimana kalau kau lakukan sesuatu?" ucap sang ibu yang seketika membuat Katrina memfokuskan tatapan padanya.


"Maksud Ibu?"


Sang ibu menarik Katrina agar lebih mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga putrinya itu,


"Hahhhh, Ibu yakin kita tidak akan ketahuan?" Katrina mendadak bimbang, karena kali ini ide dari ibunya cukup beresiko. "Bagaimana kalau aku gagal, Bu? Atau, kalau mereka mengetahuinya kalau itu ulahku? Ibu tidak tahu saja siapa yang ada di belakang gadis itu."

__ADS_1


Katrina sudah bergidik ngeri sendiri membayangkan kemarahan dari keluarga Alexa, apalagi Om dari gadis itu yang sangat terkenal kejam, tak segan Alex akan melenyapkannya jika berani berurusan dengan Alexa lagi.


"Makanya kita harus susun rencana ini sesempurna mungkin, Katrina. Ibu yakin jika kita hati-hati, kita akan berhasil," ucap sang ibu dengan begitu yakin.


"Tapi, Bu ... "


"Sudah. Kau ingin posisimu tetap aman tidak?" dengus sang ibu melihat keraguan pada diri Katrina. Ia meyakinkan sekali lagi pada putri kesayangannya itu bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan rencana mereka.


"Baiklah, aku ikut Ibu saja. Tapi, jika ada apa-apa, tolong Ibu juga ikut bertanggungjawab," ucap Katrina pada akhirnya.


.


.


.


Ada yang menanggapi kabar itu dengan cuek, tapi tak jarang ada yang malah sengaja menyulut dan membuat gosip itu seolah memang fakta. Seperti pagi ini, Alexa yang baru saja melangkah dari parkiran mobil harus di hadapkan dengan situasi yang membuatnya tak mengerti.


Beberapa teman sekampusnya tiba-tiba saja menatapnya dengan pandangan berbeda. Mungkin itu bukan kali pertama bagi Alexa, namun kali ini Alexa benar-benar merasa risih hingga memutuskan untuk menegur salah satu dari gadis yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Ngomong apa kamu?" Alexa mendekat, harga dirinya seakan di injak-injak saat mendengar ucapan kotor yang keluar dari bibir gadis itu. Meski tidak menyebutkan secara langsung nama Alexa, tapi Alexa yakin jika dirinya yang sedang gadis itu bicarakan.

__ADS_1


"Apa? Kau tersinggung dengan ucapanku tadi? Apa jangan-jangan kekayaan yang keluargamu miliki adalah hasil dari menjual dirimu pada para lelaki kaya?" Gadis yang mungkin usianya dua tahun lebih tua dari Alexa itu tersenyum sinis dan menatap jijik pada Alexa.


"Coba ulangi, kamu bilang apa tadi?" Alexa masih berusaha sabar, meski kedua tangannya sudah mengepal sempurna dan siap melayangkan tinju kapan pun ia mau.


"Kau ... wanita murahan yang kerjaannya mengencani Om-om kaya!" Gadis itu makin berani saja. Tak sadar jika ucapannya bak busur panah yang menancap tepat mengenai sasaran.


Bukan Alexa namanya jika di hina akan diam saja. Sifatnya yang menurun dari sang mama membuat Alexa tak tanggung-tanggung untuk memberikan pelajaran pada gadis itu.


Alexa maju, lantas menjambak rambut panjang milik gadis itu. Di tariknya sekuat tenaga, hingga sang pemilik sontak menjerit kesakitan.


"Sialan, beraninya kau!" Gadis itu membalas dengan meraih rambut Alexa juga, hingga aksi saling tarik pun terjadi. "Lepaskan, sialan!" teriaknya lagi.


"Ini balasanmu karena telah berani menghinaku! Rasakan ini!" Alexa semakin mencengkram erat, meski ia juga merasakan rambutnya nyaris tercabut oleh tarikan gadis itu. Namun Alexa yang sudah cukup berpengalaman bisa satu langkah lebih cepat dengan mengigit salah satu tangan gadis itu hingga sang pemilik menjerit kesakitan.


"Akhhhhhhhhhhh ... kurang ajar! Dasar gadis bar-bar!"


"Sini maju, kalau rambutmu benar-benar ingin tercabut dari kepalamu!" tantang Alexa dengan seringai tipis. Meskipun beberapa kali Alexa mendapatkan serangan, tapi beruntung penampilannya tak sekacau gadis di depan sana. "Cepat, tunggu apa lagi? Kamu takut?"


"Berhenti! Apa-apaan ini!"


Semua orang yang ada di sana sontak menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2