Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Pembatalan Proyek


__ADS_3

"Tapi, bagaimana mungkin, Nyonya? Saya tidak bisa membatalkan perjanjian itu begitu saja." Lian hanya berusaha bersikap profesional. Lagipula dana yang sudah ia gelontorkan untuk membangun mall di atas tanah itu dengan perusahaan milik keluarga Andreas tidaklah sedikit.


"Bisa saja. Saya akan mengganti dana yang telah Anda keluarkan." Elisa mengatakan itu dengan mantap. Padahal ia belum tahu saja berapa nilai yang telah Lian keluarkan untuk proyek itu.


"Ini bukan masalah dana saja, Nyonya." Lian bingung harus menjelaskan. Sejujurnya ia lebih bahagia karena bisa terlibat satu proyek dengan Alexa. Masalah dana itu, mungkin tidak pernah jadi masalah.


"Lalu, apalagi? Apa Anda takut dengan suami saya?" Elisa malah menyangka jika itu yang menjadi ketakutan Lian.


"Maksudnya?" Lian tak mengerti. Roy memang di kenal sebagai sosok yang tegas, tapi ia pun tak paham dengan apa yang bicarakan wanita itu.


"Saya yang akan bertanggungjawab!" jelas Elisa sekali lagi.


"Tapi ... "


"Saya mohon," sambar Elisa. "Saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan putri saya, walaupun harus berhadapan langsung dengan suami saya sendiri."


"Hahhh?" Lian tambah tak mengerti.


"Baiklah. Saya kira cukup dengan penjelasan saya tadi. Saya tunggu kabar baik dari Anda." Elisa melangkah menuju pintu, meninggalkan Lian yang masih mematung dengan sejuta tanya dalam benaknya.


.


.

__ADS_1


.


"Elisa! El ... !" Roy melangkah terburu mencari keberadaan sang istri. Penampilan Roy sedikit kusut, prai itu melangkah cepat menuju kamar di mana sang istri biasanya berada.


"Apa sih, Kak, berbisik tahu nggak!" Elisa merengut karena merasa terganggu oleh suara teriakan Roy yang nyaris merontokkan jantungnya.


"Keterlaluan kamu, El!" ucap Roy dengan napas naik turun. Wajah Roy memerah menahan kesal yang teramat sangat.


"Maksud Kak Roy apa, sih?" Elisa pura-pura tidak tahu, padahal sejak tadi Elisa juga tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan suaminya itu.


"Kenapa kamu batalkan kerjasama kita?" Roy melempar berkas kerjasama yang di kembalian oleh perusahaan Lian. Roy sangat terkejut, apalagi setelah mendengar penjelasan langsung dari pria muda itu, kalau sebenarnya ini semua adalah permintaan dari Elisa.


"Memangnya kenapa? Aku berhak melindungi putriku, Kak. Aku bisa melihat Alexa terus-menerus sedih."


"Ucapan konyol macam apa itu, hahh? Apa kau tahu kekacauan seperti apa yang kamu buat saat ini?" Amarah Roy nyaris meledak. Padahal, seharusnya beberapa hari ke depan proyek itu sudah berjalan. Mereka sudah merencanakan dengan sangat matang. Tapi, karena ulah Elisa, semua mungkin akan gagal total.


Astaga!


Roy mengeram kesal. Ia tahu sejak dulu Elisa memang keras kepala, tapi Roy tak menyangka jika Elisa akan ikut campur juga dengan masalah perusahaan yang jelas sudah di serahkan tanggungjawabnya padanya.


"Elisa!"


"Cukup, Kak! Selama ini Papi memang mempercayakan perusahaan itu sama Kak Roy, tapi akulah sesungguhnya pewaris langsung dari keluarga Andreas, itupun kalau Kak Roy lupa."

__ADS_1


Deg!


Roy nyaris tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir istrinya. Lebih dari dua puluh tahun ia hidup dengan wanita itu, baru sekarang Elisa seolah mengungkit mengenai masa lalu mereka.


"Ya ... aku sadar, El. Aku memang cuma menantu di keluarga Andreas. Dan kamu, tak perlu mengingatkannya lagi," ucap Roy seraya pergi meninggalkan Elisa yang kini tengah menyesali semua ucapannya.


.


.


.


"Si–al! Breng–sek!" Irwan melampiaskan kemarahannya dengan meninju tembok kamar mandi. Di hari ke tujuh dengan statusnya sebagai OB–Irwan sudah di buat kesal dengan perintah dari para seniornya.


Hari ini sudah lebih dari lima kali ia di suruh untuk membuatkan kopi untuk para pegawai lain. Itupun Irwan harus siap bolak-balik dan membuat kopi baru jika takarannya kurang pas. Membuat Irwan merasa hidup bagai di neraka.


"Wan, kamu di suruh bersihkan ruangan buat meeting. Pak Bos mau pakai satu jam lagi," teriak salah satu teman seprofesinya dari balik pintu.


Lagi-lagi Irwan harus mendesah kasar. Kenapa pula Katrina tidak bisa memberikan posisi yang lebih tinggi dari ini. Jadi, ia tidak harus selalu di remehkan seperti ini.


"Wan, kamu dengar aku nggak sih!" Terdengar teriakan lagi dari depan pintu, membuat Irwan mau tak mau segera keluar dari bilik toilet yang sejak tadi menjadi tempat meluapkan emosinya.


"Iya, aku dengar."

__ADS_1


"Buruan ya, takut Pak Bos marah soalnya." Pria itu menepuk bahu Irwan, dan berlalu meninggalkan Irwan yang masih betah berdiri di sana.


"Huhhh! Ini semua gara-gara gadis itu!"


__ADS_2