Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Alexa-Samudera


__ADS_3

Wajah Alexa masih bersemu merah sepanjang perjalanan pulang. Pria itu memang sejak tadi tak henti-hentinya menggoda Alexa. Bahkan saat ini Alexa masih melihat senyum misterius yang tercetak jelas pada wajah pria di sebelahnya.


"Aku akan secepatnya menyelesaikan masalahku dengan Katrina. Menurutmu bagaimana?" tanya Samudera mulai membuka suara lagi. Alexa tak tahu jika maksud Samudera adalah mengenai hubungannya dengan Katrina. Hubungan yang mungkin saja tidak bisa di lanjut lagi.


"Aku nggak tau apa yang Om maksud. Tapi, semoga itu yang terbaik buat kalian. Aku akan mendukungnya."


"Benarkah? Apa artinya kamu juga akan mendukung jika aku melepaskan Katrina?" pancing Samudera lagi, sebab itulah masud yang sebenarnya ingin ia katakan pada Alexa.


"Melepas? Maksudnya?" Alexa bukan tak paham, tapi rasanya ia terlampau jahat jika mendukung sebuah perceraian.


"Kamu tentu paham."


"Tapi, apa tidak sebaiknya kalian mempertahankannya. Cobalah untuk saling memperbaiki. Sebab pernikahan adalah bukan hal main-main."


Tak bisa di bayangkan seperti apa perasaan Katrina, jika hal benar terjadi. Bukankah sebuah hubungan harusnya bisa untuk saling menguatkan.


"Sayangnya tidak bisa, Alexa. Seperti yang pernah Oma ceritakan padamu, jika pernikahan kami terjadi karena kesalahpahaman. Aku menikahi Katrina karena permintaan Oma. Sebab saat ini Oma mengira jika dia adalah gadis yang menyelamatkannya." Kali ini tatapan Samudera fokus pada Alexa. Ia sengaja menepikan mobil sejenak, lalu menunggu jawaban dari gadis di sebelahnya.


'Mungkin pernikahan kalian memang terjadi karena sebuah kesalahpahaman. Tapi, pernikahan itu hal yang sangat sakral. Om nggak boleh mempermainkannya.'


"Untuk itulah aku ingin segera mengakhirinya. Bukankah kamu juga tahu, bagaimana hubunganku dengan Katrina. Aku tidak mungkin mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat ini."

__ADS_1


Samudera menarik napas panjang. Posisi mobil masih berhenti di bahu jalan. Sedangkan mobil lain di belakang yang berisi dua bodyguard milik Alexa serta satu anak buah Samudera ikut menepi. Mereka nampak bingung, kenapa mobil majikannya itu tiba-tiba berhenti.


"Gawat, Tuan Alex menelepon, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?" pekik salah satu pria itu dengan gelisah.


.


.


.


[Tapi, Yah, aku memang belum ada niat sama sekali untuk menikah. Lagipula, pria itu sangat kurang aja, dia hampir saja ... ]


[Apa yang kamu katakan, Shila? Mana mungkin dia melakukannya. Dia pria yang berpendidikan, dia itu berasal dari keluarga baik-baik. Kamu jangan bicara sembarangan,] ucap seorang pria dari seberang sana.


[Pokoknya sekarang Ayah minta kamu pulang, atau Ayah akan benar-benar menarik semuanya yang kamu miliki!]


[Maaf, Yah, Shila nggak bisa. Terserah, jika Ayah ingin mengambil semuanya. Bukankah, selama ini Shila juga nggak pernah menginginkan semua itu,] balas Shila tanpa ragu sedikitpun. Semenjak tinggal bersama sang nenek, Shila memang sudah terbiasa hidup sederhana. Jadi ancaman ayahnya tadi tidak sama sekali berpengaruh sedikitpun.


[Shila ... !]


[Maaf, Yah, sekali lagi, maaf,] ucap Shila mengakhiri kalimatnya, lalu menutup panggilan secara sepihak.

__ADS_1


Shila menghembuskan napas berat. Entah akan semurka apa ayahnya nanti, yang pasti Shila tak peduli. Ia sudah menjelaskan semuanya, mengenai pria yang hendak di jodohkan dengannya. Tapi herannya, ayahnya justru tak percaya. Dan sekarang ayahnya justru mengancam akan mengambil seluruh fasilitas yang Shila miliki jika tidak mau menuruti permintaan beliau.


"La ... kamu nggak apa-apa?" Indri muncul dari arah dapur. Gadis berperawakan sedikit gemuk itu langsung mendaratkan tubuhnya di dekat Shila. "Ayah kamu nyuruh pulang lagi?"


Shila hanya mengangguk tanpa semangat.


"Ya udah sih, pulang aja. Kasihan orang tua kamu," ucap Indri yang belum sepenuhnya tahu permasalahan Shila.


"Masalahnya bukan cuma itu aja, In. Ayah masih ngotot nyuruh aku buat nikah cepat-cepat. Aku pacar aja nggka punya. Aku nggak mau di jodohin lagi. Takut nemunya Om-om kayak kemarin," jawab Shila panjang lebar. Indri manggut-manggut mendengar penjelasan gadis itu.


Selain memikirkan ancaman ayahnya, Shila juga tengah pusing memikirkan ibu kontrakan yang pagi tadi tiba-tiba datang untuk menagih uang sewa. Sedangkan Shila tahu jika baru dua hari kemarin semua uang gaji Indri bulan ini telah di kirimkan untuk kebutuhan ibunya di kampung.


"La ... aku minta maaf ya, gara-gara aku ..."


"Udah, In, itu bukan salah kamu. Nanti biar aku yang cari uang buat bayar kontrakan. Yang penting ibu kamu di kampung baik-baik aja."


Indri mengusap sudut matanya yang tiba-tiba mengembun. Ia beruntung sekali di pertemukan dengan teman sebaik Shila.


"Tapi, kamu mau cari uang di mana, La?"


Shila langsung diam mendengar pertanyaan Indri. Benar juga, dalam waktu dua hari ia harus bisa mendapatkan uang itu. Kalau tidak, ia dan Indri harus secepatnya meninggalkan kontrakan.

__ADS_1


"Apa aku harus terima tawaran dia yah?" bisik Shila dalam hati.


__ADS_2