Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Elisa Beraksi


__ADS_3

"Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa masuk, Tuan Lian sedang tidak bisa di ganggu!" Sang sekretaris terpaksa bangkit dan menghadang langkah seorang wanita yang sejak tadi memaksa ingin di pertemukan dengan pimpinan perusahaan itu.


"Saya hanya ingin bertemu pimpinan kalian sebentar, kenapa di persulit seperti ini, sih!" Wanita itu tampak kesal, padahal ada hal yang sangat penting yang ingin ia sampaikan pada bos mereka.


"Mbak Neti, gimana ini?" Wajah satpam terlihat pucat. Mungkin karena gagal mencegah wanita itu sejak di lobby bawah tadi. Bagaimana kalau pak bos marah karena membiarkan orang asing masuk kantor, lalu memecatnya?


"Maaf, Nyonya, Anda tidak bisa masuk. Tolong jangan memaksa kami melakukan kekerasan!" Neti frustasi, ia nyaris mendorong wanita itu, tapi wanita itu malah semakin ngotot saja ingin menerobos ke dalam sana.


"Hei, kau pikir siapa? Bahkan aku bisa menghancurkan seluruh keluargamu jika kau masih berani mengahalangi jalanku!" ancam wanita itu dengan sangat geram. Tatapannya menyorot tajam pada sosok Neti dan satpam yang sejak tadi tak henti membuntutinya.


"Tapi Anda sudah melanggar peraturan kantor, Nyonya. Saya akan kena marah jika membiarkan Anda masuk begitu saja!" ucap Neti tak kalah tajam. Ia memang sedikit ngeri dengan ancaman wanita itu, tapi Neti juga tidak bisa tinggal diam, dan membiarkan wanita asing itu menerobos masuk, atau ia akan mendapatkan amukan dari sang bos.


"Katakan pada pimpinanmu, ELISA ANDREAS ingin bertemu. Cepat!" Elisa sampai menunjuk wajah Neti dengan jari telunjuknya karena sangat geram. Detik selanjutnya wajah Neti langsung berubah pias.


"E–Elisa Andreas? Nyonya ... " Neti tergagap menyebut nama yang sangat tidak asing baginya.


"Iya, cepat! Buang-buang waktuku saja!" Elisa mendengus. Sedangkan Neti masih membeku dengan perasaan campur aduk.


"Mbak, Neti, emang wanita ini siapa sih?" Satpam tadi jelas melihat raut wajah Neti yang berubah.


"Pak, dia ..."

__ADS_1


"Yaelah, malah ngobrol. Cepetan!" Elisa berteriak lagi, kali ini lebih kencang. Neti tersentak, ia buru-buru melangkah kearah ruangan sang bos dan meninggalkan satpam tadi dengan wajah bingung.


"Si–lahkan, Nyonya. Tuan Lian sudah menunggu Anda di dalam." Tak lama Neti datang lagi dengan langkah tergesa dan mempersilahkan Elisa masuk.


Tinggallah satpam yang sejak tadi bungkam di tempatnya berdiri.


"Mbak Neti, memang wanita itu siapa sih?" celetuk satpam lagi, karena sangat penasaran.


"Stttt!" Neti menempelkan jari telunjuknya di bibir. Ia mendekat kearah Satpam dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.


"Hahhh? Beneran!" Satpam pun tak kalah terkejut.


"Duh, gimana dong, Mbak? Mana tadi aku udah bentak-bentak dia lagi." Satpam mengusap wajah kasar, mengingat sikap kasarnya tadi pada wanita itu saat di lantai bawah.


Sedangkan di dalam sana Lian langsung bangkit saat melihat kemunculan wanita bernama Elisa dari balik pintu. Wanita berpenampilan anggun itu terus berjalan mendekatinya.


"Selamat siang Tuan Lian. Maaf, mungkin kedatangan saya ke sini sedikit membuat kekacauan," ucap Elisa langsung membuka obrolan lebih dulu.


"Oh, tidak masalah, Nyonya. Kami pun minta maaf, karena ketidaknyamanan dari karyawan saya tadi." Neti memang sempat bercerita sedikit jika kedatangan wanita itu sempat di sambut dengan perlakuan buruk di luar tadi.


"Oke, tak masalah. Memang saya yang salah."

__ADS_1


Lian sedikit lega mendengarnya. Ternyata Nyonya Elisa tak semenakutkan seperti kabar yang sering ia dengar.


"Baiklah, Nyonya. Silahkan duduk, dan sepertinya ada sesuatu yang penting sekali hingga Anda langsung mendatangi saya kemari."


"Tentu saja, Tuan Lian. Ini memang penting sekali, terutama untuk putri saya."


Putri saya? Pikiran Lian langsung tertuju pada gadis cantik yang beberapa waktu lalu menjadi wakil pertemuan mereka.


"Maksud Anda, Nona Alexa?"


Elisa mengangguk. Sebagai seorang ibu, Elisa memang merasakan perubahan sikap Alexa yang sangat kentara. Semenjak mengatakan akan menentang keputusan sang ayah, Alexa memang cenderung lebih pendiam. Gadis itupun seringkali mengurung diri di dalam kamar, dan hal itu tentu saja membuat Elisa merasa sedih.


"Saya perlu bantuan dari Anda, Tuan Lian. Apa Anda bersedia membantu saya?"


Lian menarik sudut bibirnya. Memang dari lubuk hatinya yang paling dalam, Lian sangat tertarik dengan Alexa. Jadi, jika saja mampu, pasti ia akan dengan senang hati melakukannya.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk Alexa, Nyonya, eh ... maksud saya, Anda." Lian langsung meralat, karena ia malah keceplosan menyebutkan nama Alexa.


"Tolong batalkan kerjasama dengan perusahaan suami saya, termasuk ... rencana kalian dalam pembangunan mall baru itu!"


Lian tersentak, detak jantungnya berdebar tidak karuan.

__ADS_1


"Membatalkan?"


__ADS_2