
"Serius, dia ngatain kamu kayak gitu, Xa?" Tika mendelik setelah mendengar penjelasan dari Alexa. Pantas saja Alexa sampai menyerang gadis bernama Yasinta itu dengan membabi-buta.
"Iyalah. Ya kali aku diam aja saat harga diri aku di rendahkan," dengus Alexa sambil merapikan rambutnya yang masih tampak kusut. Beberapa juga ada yang tercabut, meski tak separah milik lawannya. Mereka berdua sedang berada di taman usai di panggil ke ruang dekan tadi. Alexa sama sekali tak menyesal walaupun ia harus menerima hukuman dengan membersihkan toilet kampus selama satu minggu. Sedangkan gadis bernama Yasinta tadi bertanggungjawab atas kebersihan taman serta area kampus yang lain dengan masa hukuman yang sama pula.
"Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi. Tahu gitu aku pasti bantuin kamu buat gundulin rambut tuh Kakak senior," ucap Tika lagi dengan sangat menggebu.
"Nggak perlu. Aku udah cukup puas kok kasih pelajaran ke dia. Kamu nggak lihat tadi wajah dia sempat aku cakar, terus tangannya aku gigit."
"Iya sih." Tika manggut-manggut membayangkan wajah berantakan gadis itu. "Tapi kamu juga harus hati-hati, Xa. Dengar nggak tadi dia sempat ngancam kamu, lho."
Alexa langsung menoleh pada Tika yang saat itu duduk di sebelahnya. "Maksudnya, dia akan balas dendam, gitu?"
.
.
.
Sementara di sebuah cafe di pusat kota, Samudera sedang duduk bersama Oma Maulin menunggu kedatangan seseorang. Oma Maulin sempat menolak, apalagi Samudera belum juga menyetujui permintaannya kemarin tentang bantuan yang akan di berikan untuk perusahaan Baskoro. Tapi hari ini sang Oma justru di paksa untuk menemui seseorang yang belum jelas siapa dia.
__ADS_1
"Sampai kapan kita akan di sini, Sam? Lagian siapa sih yang ingin kau temui?" Berkali-kali Oma Maulin hampir saja meninggalkan tempat itu, jika saja Samudera tidak terus membujuknya.
"Tunggu sebentar lagi, Oma. Mungkin dia ada tambahan kelas, makanya sampai terlambat."
Oma Maulin mengerutkan kening mendengar ucapan Samudera. "Tambahan kelas? Memang siapa yang ingin kau temui, sih? Apa dia masih sekolah? Apa benar yang di katakan Katrina, kalau selama ini kau menjalin hubungan dengan bocah ingusan?" cecar wanita itu.
"Bukan. Maksudku, dia kuliah, Oma. Ya ... dia memang masih kuliah. Tapi, kami hanya sebatas berteman," terang Samudera.
"Lalu, untuk apa kau meminta Oma untuk bertemu dengannya? Apa kau sudah gila! Oma memang tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan rumah tanggamu, tapi Oma juga tidak bisa membenarkan kau berbuat seperti ini, Sam. Mengkhianati pernikahanmu sendiri. Lalu, apa bedanya kau dengan Katrina?" Sang Oma berdecak kesal sendiri dengan kelakuan cucunya itu. Sejak kapan Samudera berani bermain-main dengan pernikahannya.
"Pokoknya Oma tunggu saja sebentar. Soalnya Ini penting sekali. Oma harus ketemu dengan gadis itu." Tatapan Samudera tak lepas dari pintu masuk cafe. Ia berharap orang yang yang sedang ia tunggu segera datang ke tempat itu.
"Iya, tapi siapa? Huhhh ... buang-buang waktu saja!"
"Duh, gimana ya, Pak? Soalnya saya juga udah di tunggu seseorang di dalam?"
"Maaf, Mbak. Ya, mau gimana lagi? Tapi kalau Mbak mau, bisa parkir di depan sana," tunjuk seorang pria berseragam yang menjaga parkiran cafe itu.
Gadis itu terpaksa memutar kemudi, lantas menuju seberang jalan. Alexa terpaksa memarkirkan mobilnya di sana. Alexa baru saja melangkah keluar saat tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi.
__ADS_1
[Sudah sampai di mana?] Pesan yang di kirimkan oleh Samudera. Alexa mengulas senyum. Buru-buru ia mengetikkan balasan untuk pria itu.
[Aku udah ada di depan, Om.]
Yang di dalam sana juga tersenyum saat pesannya langsung mendapat balasan gadis pujaannya.
[Oke, hati-hati. Saya ada di meja nomor lima. Ada seseorang yang ingin saya kenalkan sama kamu.]
[Siapa?] Alexa menghentikan langkah. Semalam tiba-tiba saja Samudera menghubungi. Pria itu meminta bertemu di cafe siang ini. Jadi Alexa memutuskan untuk mampir ke cafe lebih dulu sebelum berangkat ke kantor.
[Nanti saja, saya kenalkan kalau kamu udah di dalam.]
[Oke.]
Alexa langsung memasukkan ponsel ke dalam tas. Tak lupa ia menghubungi sekretaris ayahnya kalau siang ini akan sedikit terlambat tiba di kantor.
Menatap kanan kiri, memastikan ia aman saat akan melangkah. Alex siap menuju cafe yang berada di seberang jalan. Tidak tahu saja sejak tadi sepasang mata sedang mengawasinya dari kejauhan. Seseorang sudah siap menginjak pedal gas mobilnya. Hingga baru tiga langkah Alexa membawa tubuhnya pergi, tiba-tiba saja ...
"Awas .... !!" Seseorang berteriak saat melihat sebuah mobil melaju dengan kencang kearah Alexa.
__ADS_1
Brakkk
Suara dentuman mobil yang menabrak sesuatu terdengar sangat keras, bersamaan dengan tubuh Alexa yang berguling-guling di atas trotoar.