
"Alexa ... !" Roy berteriak keras memanggil nama putri bungsunya ketika baru saja menjejakkan kaki di ruang tamu. Bahkan, suara Roy yang menggelegar sontak membuat Elisa yang saat itu berada di dapur langsung berlari ke luar.
"Kak, ada apa, sih? Kenapa teriak-teriak?" Elisa menghampiri Roy yang terlihat sangat emosi. Lagipula, tidak biasanya Roy pulang lebih awal seperti ini.
"Mana Alexa, El? Apa dia sudah pulang!" cecar Roy tidak sabar. Ia ingin segera menemui gadis itu untuk meminta penjelasan mengenai kekacauan yang dia lakukan hari ini.
"Ada apa dengan Alexa, Kak? Apa yang terjadi?"
Roy tidak menjawab, tapi malah bangkit sambil menarik dasi yang melilit di leher dengan kasar.
"Kak ... !"
Elisa memekik terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suaminya tiba-tiba pulang dengan keadaan marah, dan langsung mencari keberadaan Alexa.
"Alexa, buka!" Roy menggedor pintu kamar anak gadisnya setelah dengan kencang. Sedangkan Elisa terus mengikuti langkah Roy sampai di depan pintu kamar putrinya.
"Kak, bisa 'kan ngomong baik-baik. Sebenarnya ada apa?"
Elisa memang sempat curiga saat melihat wajah Alexa yang terlihat suram saat pulang dari kantor tadi. Tapi, Elisa juga belum sempat bertanya apapun pada gadis itu.
"Alexa, buka!"
__ADS_1
Klak,
Pintu kamar terbuka. Alexa muncul dengan mengenakan baju rumahan.
"Yah ..." Alexa sedikit gentar melihat sorot mata sang ayah yang tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Jelaskan, apa yang kamu lakukan, Alexa Andreas!" Pandangan Roy semakin menajam, melihat sosok gadis yang berdiri di depannya.
"A–aku bisa jelasin, Yah."
Roy memejamkan kedua matanya. Tangannya memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Roy masih tak paham dengan apa yang di lakukan Alexa hari ini. Kenapa bisa Alexa malah mengacau di lokasi yang rencananya akan di jadikan sebuah bangunan mall oleh beberapa orang suruhannya.
"Aku tidak bisa biarin mereka pergi dari tempat itu, Yah. Karena mereka ..."
"Kasihan mereka, Yah. Tidakkah ayah memiliki sedikit nurani saja untuk membiarkan mereka tetap tinggal di sana?"
Roy lagi-lagi tak percaya dengan apa yang di ucapkan Alexa. Sedangkan Elisa yang belum sepenuhnya paham dengan pembicaraan antara ayah dan anak itu, hanya mampu bungkam tanpa tahu harus melakukan apa.
"Apa kamu tahu, berapa kerugian yang akan kita terima jika proyek itu sampai gagal?"
Selama mengelola perusahaan sang mertua, Roy memang belum pernah sekalipun mengecewakan mereka, dan kali ini pun Roy tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
"Mereka akan tinggal di mana, Yah? Hanya tempat itu satu-satunya yang mereka miliki."
Aksi yang di lakukan Alexa hari ini memang cukup heroik. Karena sebenarnya lima pria itu bukan hanya ingin meninjau lokasi saja, tapi juga sudah membawa beberapa alat berat yang mungkin akan di gunakan untuk menghancurkan bangunan yang masih berdiri di atas tanah itu.
Tapi, semua harus urung karena kemunculan Alexa. Bahkan dua dari lima pria yang tidak mengenal siapa sebenarnya Alexa sempat cekcok dan mendorong Alexa sampai gadis itu mengalami lecet di bagian siku. Namun, mereka langsung lari terbirit-birit dan memilih meninggalkan tempat itu setelah mengetahui jika Alexa adalah keturunan dari keluarga Andreas sendiri.
Tentu saja hal itu menjadi tontonan yang menakjubkan bagi penghuni kawasan itu, tak terkecuali Andi. Pria itu juga tadi ada di sana dan ikut membantu Alexa berbicara pada mereka, beruntungnya masih tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui identitas Alexa sebenarnya.
Peninjauan yang gagal tentunya membuat Roy marah. Apalagi setelah tahu penyebabnya adalah putri bungsunya sendiri.
'Maaf, kami harus gagal. Semua karena putri Anda sendiri,' ucap satu dari lima pria yang merupakan pimpinan mereka.
'Apa!' Roy langsung membelalak tak percaya.
'Apa maksudmu?' Roy langsung mencengkeram kerah baju pria itu dengan emosi.
'Putri Anda ada di sana, dan menggagalkan pekerjaan kami.'
"Aku tidak bisa membiarkan mereka terusir dari sana, Yah. Aku mohon ... biarkan mereka menempati tanah itu," ucap Alexa lagi. Tubuh Alexa luruh. Gadis itu berlutut di depan sang ayah, memohon belas kasihan pada pria itu agar mau mempertimbangkan permintaannya.
"Kak ... " Elisa berbisik lirih. Wanita itu mengusap bahu suaminya pelan. Ia tidak tega melihat Alexa seperti ini, tapi Elisa juga tidak bisa berbuat banyak, karena keputusan tetap ada di tangan sang suami.
__ADS_1
"Maaf, tapi kali ini, ayah tidak bisa mengabulkan keinginanmu! Ayah harap, kamu tidak lagi mencampuri urusan ayah, apalagi mengacaukannya!" ucap Roy tegas, sambil berlalu meninggalkan kamar Alexa.