Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Bukan Seleraku


__ADS_3

Shila mendadak di lema. Sebenarnya saat ini Shila memang sangat membutuhkan pekerjaan. Apalagi uang kontrakan yang sudah menunggak dua bulan, di tambah uang simpanannya yang mulai menipis. Tapi, jika harus bekerja dengan pria menyebalkan itu, rasanya Shila harus berpikir ribuan kali.


Lagipula, Shila sama sekali belum mengenalnya. Bagaimana kalau pria itu salah satu komplotan penjahat yang sedang mencari mangsa. Bagaimana kalau pria itu hanya ingin menipunya.


"Aku berikan waktu tiga hari untuk berpikir. Jadi, jangan sampai kau kehilangan kesempatan baik ini." Tiba-tiba pria itu bangkit, lantas berjalan mendekati Shila.


"Mau apa kamu? Jangan macam-macam!" ucap Shila seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Langkahnya mundur, sampai akhirnya membentur tembok yang ada di belakangnya.


"Macam-macam apa? Kau pikir aku tertarik denganmu?" Rey menyunggingkan senyum tipis, menatap penampilan Shila dari atas hingga bawah. "Kau bukan seleraku, Nona. Jadi tak perlu sepercaya diri itu."


Shila langsung membulatkan kedua matanya mendengar ucapan dari pria itu. Tangan gadis itu mengepal sempurna, seiring dengan deru napasnya yang naik-turun.


'Kurang ajar, dia bilang apa tadi, aku bukan seleranya? Awas saja nanti!'


"Aku hanya ingin memberikan ini." Rey meraih sebelah tangan Shila, lantas meletakkan sebuah kartu nama di sana. "Itu kartu namaku, kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau mau."


Rey lalu melangkah menuju pintu, sebelum keluar dari kamar kontrakan itu, ia berbalik sambil berkata, "Pikirkan matang-matang, sebelum kau menyesal." Rey melangkah lagi meninggalkan Shila yang masih mematung di tempatnya berdiri.


"Reymond Elvaro Andreas," ucap Shila setengah berbisik. Ia tatap kartu nama di tangannya. "Aku seperti tak asing dengan nama ini. Tapi, siapa dia?" gumamnya pelan.

__ADS_1


.


.


.


Rey mengendarai mobil bersama dua orang bodyguard milik ayahnya langsung menuju kantor. Dalam hati Rey terus berharap jika gadis ceroboh itu akan menerima tawarannya.


Rey ingat percakapannya dengan sang ayah dua hari lalu. Jika Roy akan segera mengalihkan tanggung jawab perusahaan pada putranya itu. Tapi, yang membuat Rey tidak setuju adalah ayahnya yang ingin mengangkat Erika sebagai sekretaris barunya menggantikan sekretaris lama.


Rey sangat mengenal siapa Erika saat mereka sama-sama menempuh pendidikan di luar negeri. Selain cantik, Erika juga termasuk gadis yang pintar. Ia juga berasal dari keluarga yang baik-baik. Tapi entah kenapa, dari dulu Rey sama sekali tidak punya keinginan memiliki hubungan lebih dari sebatas teman pada Erika.


"Silahkan, Tuan Muda." Salah satu bodyguard membukakan pintu, Rey melangkah pelan memasuki ruangan di mana Ayah Roy sudah menunggunya.


"Dari mana saja kamu? Kenapa sampai sesiang ini baru tiba di kantor?" cecar sang ayah yang sedikit kesal dengan kelakuan Rey. Bagaimana bisa memimpin perusahaan, jika sikapnya saja tidak bisa disiplin seperti ini.


"Maaf, Yah, aku ada urusan sedikit."


"Urusan?" Roy memicingkan mata. Seharusnya ia tidak gegabah dengan memberikan ijin Rey menempati apartemennya lagi. Akhirnya seperti ini, kan, Rey jadi sesuka hati sendiri.

__ADS_1


"Apa kamu sudah putuskan, kapan Erika bisa mulai bekerja di sini?" tanya sang ayah yang kembali mengingatkan akan gadis itu.


"Orang tua Erika punya perusahaan sendiri, Yah. Kenapa juga dia malah ingin bekerja di perusahaan kita. Bukankah perusahaan milik keluarganya juga tak kalah besar?"


Sebenarnya Rey sudah berusaha menolak secara halus permintaan ayahnya. Tapi entahlah, sang ayah seolah memiliki maksud lain yang ia sendiri tidak tahu apa.


"Kamu membutuhkan seorang sekretaris secepatnya, Rey. Dan yang Ayah dengar, Erika adalah gadis yang pintar. Ayah yakin kalian bisa saling bekerjasama. Lagipula, apa kamu punya rekomendasi lain, tidak 'kan?"


Rey langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Sekarang apa yang harus ia katakan pada ayahnya. Sedangkan gadis yang ia harapkan menjadi sekretarisnya saja belum memberikan keputusan sama sekali.


"Tiga hari, Yah. Rey minta waktu tiga hari. Rey janji akan mendapatkan seorang sekretaris seperti yang Ayah mau," ucap Rey secara spontan, meski ia sendiri tak yakin gadis itu akan menerima tawarannya.


"Tiga hari?" ulang sang ayah. "Kamu yakin? Kenapa tidak Erika saja. Sebenarnya ada apa denganmu, sampai tidak mau menerima Erika bekerja di perusahaan kita?" tanya Roy dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada apa-apa, Yah. Hanya saja, Rey merasa kurang cocok jika dengan Erika," jawab Rey dengan sejujurnya. Sang ayah hanya menggeleng pelan. Bingung saja dengan jawaban putranya. Jelas-jelas mereka cocok sekali, bahkan sangat serasi jika di pasangkan. Tapi kenapa Rey malah begitu kekeuh menolaknya.


"Oke. Tapi jika tiga hari kamu tidak bisa membawanya ke sini, Ayah minta kamu menerima saran dari Ayah."


'Sial! Kenapa juga aku hanya minta waktu tiga hari, bukan seminggu. Kalau seperti ini, aku sendiri 'kan yang bingung. Aku harus melakukan sesuatu, agar Ayah membatalkan rencananya menerima Erika," gumam Rey usai pamit untuk meninggalkan ruangan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2