
[Tuan Samudera mendatangi kediaman Andreas. Maaf, saya tidak bisa menahannya.]
[Bodoh! Memangnya berapa orang yang kau bawa?]
Padahal Katrina sudah menyuruh orang agar membawa beberapa rekannya untuk mencegah Samudera agar kalung itu jangan sampai kembali ke tangan Alexa. Tapi, tetap saja gagal.
[Empat orang, Nyonya,] ucap pria itu pada Katrina.
[Empat orang melawan dua orang masih kalah?] Katrina tak habis pikir, ternyata sia-sia saja dirinya membayar mahal para preman itu.
[Maaf, Nyonya.]
[Ya sudah.]
Katrina langsung memutus panggilan secara sepihak. Baru saja ia ingin menyimpan ponsel miliknya, lagi-lagi benda itu berdering,
[Apalagi!] bentak Katrina amat kesal.
[Nyonya ... ]
Suara dari orang yang berbeda. Katrina mengamati kontak sang pemanggil, ternyata bukan orang suruhannya tadi yang menghubunginya.
[Ada seseorang yang menanyakan di mana bekas CCTV lama mall ini, Nyonya,] ucap seseorang dari seberang telepon.
[Siapa?] Katrina langsung terperanjat. Perasaannya mendadak tidak enak, apa mungkin Samudera. Tapi, katanya suamiya itu saat ini sedang berada di rumah kediaman Andreas.
[Seorang pria. Apa yang harus saya katakan, Nyonya?]
[Bilang saja bekas CCTV itu sudah di buang. Beres, kan?] balas Katrina dengan sangat enteng. Katrina yakin sekali jika barang itu mungkin saja sudah ada di tukang loak. Tidak mungkin mereka masih tetap menyimpan barang bekas tersebut.
__ADS_1
[Baik, Nyonya.]
Kali ini barulah Katrina bisa menyimpan kembali benda pipih itu. Karena pikirannya sedang kacau, Katrina memilih melajukan mobilnya ke sebuah apartemen mewah di kawasan elit, tempat kekasih barunya tinggal. Pria muda yang berselisih tiga tahun di bawahnya itu menjadi simpanan Katrina sebulan belakangan ini. Katrina sadar jika ia tidak bisa lagi mengharapkan Irwan, apalagi kasus yang menimpa Irwan cukup berat. Katrina yakin jika Irwan akan mendekam cukup lama di penjara.
"Lebih baik aku bersenang-senang saja," ucap Katrina lagi, menambah laju kendaraannya.
.
.
Di tempat lain ...
[Kenapa bisa begitu?] Oma Maulin mulai emosi dengan hasil kerja orang suruhannya, karena tidak biasanya mereka akan bekerja selambat ini.
[Maaf, Nyonya. Memang mall tersebut sudah mengganti CCTV dari beberapa bulan yang lalu,] ucap seorang pria dari seberang sana.
[Apa semuanya? Kau mungkin bisa cek dari bagian lain, kan?]
Oma Mualin menghela napas berat. Kenapa keadaan mendadak sesulit ini. Apa memang ia saja yang terlalu terprovokasi oleh ucapan pria mantan kepala rumah sakit itu.
[Ya sudah, dapatkan segera!]
Klik,
Oma Maulin meletakkan ponsel begitu saja. Ia hanya ingin membuktikan tuduhan pria itu terhadap Katrina adalah salah. Ia yakin sekali orang itu hanya sengaja ingin meracuni pikirannya agar membenci cucu menantunya sendiri.
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya orang suruhan Oma Malin menghubungi lagi. Wanita tua itu dengan sigap mengangkatnya,
[Bagaimana?]
__ADS_1
[Ketemu, Nyonya. Tapi ... ] Dari seberang sana mendadak diam.
[Tapi, apa?]
[Saya tidak yakin CCTV ini masih normal. Saya akan memeriksanya lebih dulu.]
Oma Maulin menunggu, sementara panggilan masih terhubung dari seberang sana. Beberapa menit kemudian hasil rekaman CCTV itu sudah terkirim pada ponsel Oma Maulin.
[Tidak kelihatan wajahnya. Bagaimana aku bisa mengenalinya?] ucap Oma Maulin dengan kecewa. Dalam rekaman itu memang terlihat detik-detik saat Oma Maulin tiba-tiba kambuh penyakitnya, lantas terjatuh hingga tak sadarkan diri.
[Coba periksa dari sisi lain!]
[Baik, Nyonya]
Dari sana kembali di kirim rekaman lain, namun tetap saja wajah gadis sang penolong itu tidak terlalu jelas.
[Aku ingin melihat rekaman gadis itu di semua tempat. Cepat kirimkan!] Oma Maulin tak patah semangat. Memang dalam rekaman itu jelas bukan Katrina yang menolongnya, melainkan seorang gadis muda. Namun karena wajah gadis itu tertutup masker, jadi Oma Maulin tidak bisa dengan jelas melihatnya.
[Ternyata benar Katrina telah menipuku. Tega sekali dia membohongi semua orang.] Oma Maulin berbisik lirih. Ia tidak menyangka jika Katrina yang selama ini ia anggap wanita yang sangat baik begitu tega membohonginya mentah-mentah.
Oma Maulin sempat putus asa untuk bisa menemukan siapa gadis itu. Hingga rekaman terakhir memperlihatkan gadis itu masuk ke sebuah mobil di parkiran mall tersebut.
[Cepat, cari tahu siapa nama pemilik mobil itu, dan beritahu saya segera mungkin!]
[Baik, Nyonya.]
Oma Maulin menunggu setiap detik yang terlewat dengan tidak sabar. Beberapa kali wanita itu melirik ponsel yang sengaja ia letakkan di atas meja. Namun benda pipih itu masih diam tak bersuara.
[Bagaimana? Kau sudah menemukan siapa nama pemilik mobil itu?] tanya Oma Maulin dengan tidak sabar.
__ADS_1
[Sudah, Nyonya. Mobil itu milik seorang gadis bernama ... ]
Maaf ... baru bisa update, kemarin keluarga ada yang masuk RS. sekali lagi maaf buat kalian semua yang sudah nungguin novel ini, salam sayang dari author😘😘😘