
Alexa sudah lupa dengan pertemuannya dengan Oma Maulin di sebuah supermarket waktu itu. Mengenai benda milik Katrina yang mirip sekali dengan kepunyaannya pun sudah tak ia pikirkan lagi. Alexa yakin di dunia ini ada puluhan, bahkan ratusan orang memiliki kalung yang sama persis dengan miliknya.
Alexa sudah mulai masuk kantor lagi. Ikut membantu mengatur jadwal sehari-hari sang ayah. Kadangkala juga ikut terlibat dalam pembahasan bisnis penting di kantornya.
Dan hari ini Alexa cukup canggung, karena lagi-lagi sang ayah memintanya untuk ikut menemani pertemuan bisnis di salah satu restoran. Sebenarnya jika hanya pertemuan bisnis Alexa sudah cukup terbiasa melakukannya, tapi masalahnya kali ini orang yang akan mereka temui adalah Samudera, kekasih kontraknya sendiri. Hari ini ayahnya akan bertemu dengan pria itu untuk membahas mengenai proyek baru.
Alexa sudah siap sejak setengah jam yang lalu. Tak lama sang ayah keluar dan langsung mengajaknya meluncurkan menuju tempat pertemuan.
"Selamat siang, Tuan Roy. Senang bisa bertemu Anda lagi." Samudera menyalami Roy yang berjalan di posisi depan. Namun, matanya sejak tadi tanpa berkedip menatap pada gadis cantik di belakang sana.
"Begitupun saya, senang bisa bertemu Anda kembali." Roy sampai berdehem pelan untuk menyadarkan pria di depannya. "Tapi nampaknya, Anda kurang serius untuk pertemuan kali ini, Tuan Sam." Roy sengaja menyindirnya. Biar tahu saja, jika sejak tadi Roy sudah menangkap mata pria itu yang tanpa berkedip menatap kearah putrinya.
"Tentu saja tidak, Tuan Roy. Saya akan selalu berusaha fokus jika menyangkut tentang pekerjaan." Mereka duduk saling berhadapan. Roy duduk tepat di depan Samudera, sedangkan Alexa persis di sebelah Roy.
"Apa bisa kita mulai sekarang?" Roy tidak ingin mengulur waktu lagi. Menurutnya semakin cepat pembahasan itu di lakukan, semakin baik pula mereka bisa cepat pergi dari tempat itu.
"Tunggu sebentar, Tuan. Saya sedang menunggu ... " Ucapan Samudera terhenti karena orang yang ia tunggu sudah mendekat kearah mejanya.
__ADS_1
Hari ini Samudera terpaksa mengajak Katrina karena wanita itu terus memaksa, bahkan Katrina mengancam sekretaris Samudera agar tidak ikut karena dirinya yang akan menggantikan tugas sekretaris hari ini.
"Katrina ... " Alexa langsung berbisik. Matanya langsung ia fokuskan pada leher milik Katrina, tempat di mana ia melihat sesuatu yang terpasang di leher wanita itu.
"Baiklah, karena sudah lengkap, bagaimana kalau sekarang kita ... "
"Tunggu, Tuan Sam. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" sambar Alexa. Sang ayah yang duduk di sebelahnya sampai mendengus kesal. Roy harap tidak akan drama pertengkaran atau keributan lagi, karena proyek baru ini cukup penting baginya.
"Ya, Nona Alexa?" Samudera berbinar senang. Lain halnya dengan Katrina yang langsung memasang wajah kurang bersahabat saat mendengar jawaban yang sangat lembut dari suaminya.
"Ck, sok cantik!" bisik Katrina tak suka. Wanita itu melengos ke samping dan enggan menatap pada wajah gadis yang duduk di depannya.
"Ini kalung pemberian orang tuaku. Aku tidak mungkin memberikannya pada orang lain!" tolak Katrina secara tegas. Katrina juga menutupi kalung itu dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi saya hanya ingin melihatnya, Nyonya, bukan memintanya," ucap Alexa penuh harap. Dari jarak yang lumayan dekat, kenapa ia mendadak yakin jika kalung itu memang miliknya.
"Tidak! Aku tidak akan memberikannya padamu!" tolak Katrina sekali lagi.
__ADS_1
"Xa ... tolong, jangan buat keributan. Mungkin itu hanya mirip saja." Roy bukan tak tahu jika kalung milik putrinya memang hilang. Tapi, ia juga yakin jika kalung yang di pakai Katrina mungkin hanya mirip saja dengan kepunyaan Alexa.
"Tapi, Yah. Itu mirip sekali dengan milikku. Ayah juga tahu 'kan mengenai kalung pemberian Mama. Lagian aku hanya ingin melihatnya saja."
"Tapi Nyonya Katrina merasa keberatan, Alexa. Kau tidak boleh memaksanya." Roy merasa tak enak dengan Samudera yang hanya bungkam.
"Tapi kata Mama, kalung itu hanya satu-satunya karena di pesan khusus sama Kakek. Di dalam liotin itu ada inisial huruf A. Aku cuma ingin melihatnya, Yah." Alexa masih bersikeras ingin memastikan jika kalung tersebut memang miliknya.
Roy dan Samudera saling pandang. Sedangkan wajah Katrina mulai pias mendengar setiap kalimat yang di ucapkan Alexa. Ia merasa bodoh karena telah memakai kalung itu di tempat umum. Harusnya ia menyimpannya saja. Kalau benar kalung itu memang milik Alexa, dan keluarga besar Samudera sampai tahu kebenarannya, maka tamatlah sudah riwayatnya.
"Apa-apaan ini, Tuan Roy! Tolong, ajari putri Anda untuk bersikap sopan! Kalung ini milikku, jadi tidak mungkin ada inisial nama keluarga Anda di sini!" Katrina bangkit, dan melangkah cepat meninggalkan meja restoran. Ia kesal karena Samudera bukan membelanya, tapi malah diam dan seolah tidak keberatan sama sekali dengan sikap Alexa.
"Katrina, kau mau ke mana? Pembahasan bisnisnya belum selesai." Samudera mengejar Katrina yang pergi dengan membawa semua berkas penting yang sengaja mereka siapkan dari kantor.
"Persetan dengan pembahasan proyek, aku tidak peduli!" ucap Katrina tetap melanjutkan langkah menuju mobil.
Sedangkan di dalam Roy harus menghela napas panjang berkali-kali. Ini adalah kali kedua Alexa mengacaukan proyek besar yang hampir Roy tangani. Roy bangkit dan meninggalkan Alexa menuju parkiran dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Yah ... aku minta maaf," ucap Alexa, namun Roy tetap bungkam dan langsung menginjak pedal gas menuju kantor.