Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Putra Sulung Elisa


__ADS_3

"Kamu usaha dong, Sel. Jangan cuma diam seperti ini." Baskoro sampai gemas sendiri melihat kelakuan putrinya. Memang Oma Maulin sudah mengembalikan mobil serta membujuk pihak kampus agar menerima Sella lagi. Tapi, untuk bantuan yang wanita itu janjikan, kenapa sampai sekarang belum juga ada kejelasan.


"Usaha gimana maksud, Papa? Ap aku harus datang ke rumahnya, lalu ngemis-ngemis gitu? Ogah!" jawab Sella acuh. Sesombong itu memang sifat asli Sella. Gadis itu masih bergeming sambil mengotak-atik benda pintarnya.


"Ya apapun lah terserah kamu. Saat ini harapan Papa memang hanya kamu, Sel," lanjut Baskoro dengan nada putus asa. Keadaan perusahaannya sudah benar-benar kritis. Para karyawan sudah menagih gaji yang belum sempat Baskoro berikan. Belum lagi sang istri yang saat ini sedang membutuhkan banyak biaya.


"Aku males, Pa. Lagian aku harus ngomong apa coba? Sebenarnya aku juga nggak tahu kenapa tuh wanita tua tiba-tiba baik banget sama aku."


Sella masih memikirkan perkataan Oma Maulin mengenai balas budi. Namun, Sella sama sekali tak paham apa maksudnya.


"Itu tak penting, Sell. Intinya kamu datang saja ke rumahnya. Terus bilang, kapan Oma mau membantu perusahaan Papa. Bisa, kan? Lagipula ini juga demi kamu. Papa janji akan membantu Irwan bebas kalau perusahaan kita sudah kembali normal."


Sella langsung bangkit mendengar nama Irwan di sebut. Memang saat ini hanya itu keinginan Sella. Bisa membebaskan Irwan, lantas hidup bahagia dengan pria itu.


"Beneran? Papa nggak bohongin Sella lagi, kan?"


"Emang kapan Papa bohong sama kamu sih, Sel? Papa janji akan sewa pengacara mahal buat bebasin dia lagi," janji Baskoro pada putrinya.


"Oke. Papa tenang aja, nih aku telepon Oma Maulin sekarang juga."


Baskoro langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban putrinya. Pria berusia hampir kepala lima itu langsung duduk di samping Sella yang siap menghubungi Oma Maulin demi bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Ayo buruan!"


"Sabar kenapa sih, Pa." Sella berdecak kesal dengan papanya yang tak sabaran.


Sella mulai menghubungi nomor Oma Maulin. Pada detik ketiga, panggilan langsung terhubung, suara wanita itu terdengar dari seberang sana.


[Hallo, Oma. Selamat siang,] sapa Sella berbasa-basi lebih dulu. Sebenarnya ia malas sekali harus bersikap manis seperti ini, jika saja tidak demi orang yang sangat ia cintai dan juga papanya.


[Sella, ini kamu?] Oma Maulin menjawab antusias. Sella malah memutar kedua bola matanya malas. [Gimana kabar kamu, Nak?] tanya Oma Maulin lagi.


[Kabar Sella baik. Oma sendiri gimana kabarnya?]


[Oma juga baik. Kamu ada apa menghubungi Oma?]

__ADS_1


Sella nampak terdiam. Ia melirik sang papa yang tengah mengangguk kearahnya.


[Oma ... mengenai bantuan yang Oma janjikan buat perusahaan Papa, gimana ya?] Sella mengigit bibirnya pelan.


[Bantuan? Jadi, astaga ...!] Oma Maulin malah memekik terkejut, Sella tidak tahu apa maksudnya.


[Jadi Samudera belum melakukannya sampai sekarang? Terus gimana keadaan perusahaan Papa kamu?] Suara Oma Maulin terdengar kesal. Sella pun menarik napas panjang.


[Belum, Oma. Perusahaan Papa sekarang benar-benar kritis. Mungkin dalam beberapa hari ini Papa akan benar-benar kehilangan perusahaan itu.]


[Astaga, maaf ya, Sell. Oma benar-benar tidak tahu kalau cucu Oma ternyata belum melakukan apa yang Oma minta.] Oma Maulin terdengar menyesal. [Tapi kamu tenang saja, sekarang juga Oma akan hubungi cucu Oma. Pokoknya kamu tunggu ya?]


.


.


.


Sementara di sebuah bandara, seorang pria muda baru saja menjejakkan kakinya lagi di tanah air. Dialah Rey–putra sulung dari Elisa dan Roy, sekaligus kakak kandung dari Alexa.


Rey berjalan di dampingi dua bodyguard yang sengaja di kirimkan oleh Roy untuk menjemputnya.


"Nanti kita langsung ke rumah sakit saja, Pak. Aku ingin segera bertemu Alexa," ucapnya pada salah satu pria yang ada di sebelahnya.


"Tapi Tuan Roy menyuruh Anda untuk menggantikan dirinya bertemu klien hari ini, Tuan Muda. Katanya klien ini penting sekali."


Rey berdecak kesal. Padahal ia ingin secepatnya bertemu dengan Alexa, tapi sang ayah justru menyuruhnya menggantikan jadwalnya hari ini.


"Bagaimana, Tuan Muda?" tanya bodyguardnya lagi.


"Baiklah. Kita bertemu klien lebih dulu, baru ke rumah sakit menemui Alexa."


Mobil mulai melaju meninggalkan bandara menuju salah satu hotel bintang lima. Setelah sampai, Rey langsung di bimbing menuju salah satu kamar VVIP yang sudah dipesan oleh klien sang ayah.


"Apa-apaan ini, memang ada pembahasan bisnis di kamar hotel? Kenapa tidak di tempat lain saja."

__ADS_1


Meski cukup lama tinggal di luar negeri bersama kakek dan neneknya. Tapi, Rey begitu sangat menjaga pergaulannya. Niat Rey hanya ingin belajar agar bisa secepatnya kembali ke tanah air demi membantu sang ayah mengelola bisnis mereka.


"Kami tidak tahu, Tuan Muda. Kami hanya mengikuti apa yang di perintahkan ayah Anda. Tapi Tuan tenang saja, kami akan memastikan keamanan Anda terjamin." Dua bodyguard itu tetap sigap, bahkan mereka juga akan ikut masuk demi memastikan keamanan tuannya.


"Baiklah."


"Silahkan, Tuan. Ini kamar yang sudah di pesan oleh klien Anda." Seorang petugas hotel mengantar mereka sampai di depan pintu, lantas berpamitan pada ketiganya.


"Terimakasih."


Petugas tadi pergi, dan satu bodyguard ingin membuka pintu kamar tempat di mana klien itu menunggu. Tapi baru saja tangannya menyentuh pintu, tiba-tiba dari arah sebelah kanan datanglah seorang gadis yang berjalan dengan terburu-buru.


Sangking terburu-burunya sampai tidak sadar menabrak Rey yang tengah berdiri di antara dua bodyguardnya.


"Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?" Salah satu bodyguard bergerak maju. Wajahnya berubah pias kala melihat bercak noda di bagian depan pakaian tuannya.


"Ma–maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Wajah gadis itu pun ikut pucat saat menyadari minumannya ternyata mengenai pakaian pria itu. "Sekali lagi, maafkan saya."


"Hei, tunggu! Kamu tidak lihat, bajuku kotor karena kecerobohanmu!" Rey langsung mencekal pergelangan tangan gadis itu yang berniat melarikan diri.


"Apa?" Kedua alis gadis itu saling bertaut. "Aku 'kan udah minta maaf, lagipula aku tidak sengaja."


"Tetap saja kamu harus tanggung jawab! kamu tahu, berapa harga baju ini, hahhh?!" ucap Rey dengan nada sedikit membentak. Padahal acara pertemuan dengan klien tinggal beberapa menit lagi akan di mulai, tapi sekarang ia justru harus mengganti pakaiannya yang kotor sebab ulah gadis asing itu.


"Saya sudah minta maaf, Tuan. Kenapa Anda malah marah-marah?" ucap gadis itu lagi sedikit geram.


"Pokoknya kamu harus ganti rugi!"


"Tapi ..."


"Bawa dia ke kamar sebelah, Pak. Aku akan menemuinya setelah pertemuan ini selesai!" perintah Rey pada satu bodyguardnya.


"A–apa? Hei, tunggu!" teriak gadis itu, tapi sayangnya Rey tidak menghiraukannya.


Maaf temans, upnya bolong-bolong. Bisa baca PUBER KEDUA ISTRIKU dulu sambil nunggu yang ini update lagi yah🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2