
[Bodoh! Kenapa kalian mengijinkan Alexa satu mobil dengan pria itu?] Benar, kan, apa yang di takutkan dua pria itu sejak tadi. Jika keputusannya tadi membiarkannya Alexa pulang satu mobil dengan Samudera ternyata salah. Apalagi mereka tahu, Alex sangat membenci Samudera.
[Maaf, Tuan, tapi Nona Alexa sendiri yang mau. Kami harus bagaimana?] ucapnya lagi, berusaha mencari pembelaan.
[Kalian bodoh, atau bagaimana? Harusnya kalian ikut serta juga di mobil itu. Kalau Alexa sampai di apa-apakan sama pria itu, kalian apa mau tanggung jawab?] Keduanya saling menoleh dengan tatapan cemas. Tak lama ponsel berpindah tangan sebab di rebut paksa oleh anak buah Samudera.
[Saya yang akan menjamin, kalau Nona Alexa pasti baik-baik saja, Tuan. Anda tidak perlu khawatir]
[Hei, siapa kau! Beraninya kau mencampuri urusanku!] maki Alex yang justru makin meradang sebab merasa di sepelekan.
[Saya bawahan Tuan Samudera. Tapi saya berani jamin kalau Nona Alexa akan baik-baik saja.]
[Omong kosong! Cepat, berikan ponsel itu pada anak buahku!] titah Alex. Anak buah Samudera lantas mengembalikan benda itu lagi pada pemiliknya.
[Dasar bodoh! Sebenarnya kalian di bayar berapa sih, hingga bersekongkol seperti ini. Dasar, tidak berguna!] Alexa masih terus memaki, sedangkan dua pria tadi lebih memilih menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
[Ma–af, Tuan, Di sini ... ]
[Hei, ke mana kalian! Hallo!]
[Maaf, Tuan ... ]
Klik,
Sambungan berakhir. Alex tambah gusar sebab panggilan yang tiba-tiba terputus. Apalagi memikirkan Alexa yang saat ini tengah berduaan dengan Samudera dalam satu mobil.
__ADS_1
"Alexa sudah dewasa, kau tak perlu secemas itu, Lex. Aku yang ayahnya saja yakin kalau dia pasti bisa menjaga diri," ucap Roy yang sejak tadi mendengar pembicaraan sang adik dengan dua bodyguardnya. Roy malah terlihat santai sekali, sebab ia percaya dengan Alexa maupun Samudera, jika mereka tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan diri mereka sendiri.
"Heran saja, kau bisa setenang ini. Bagaimana kalau Samudera membawa Alexa kabur. Kita tidak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang."
"Kabur ke mana maksudmu? Kalau dia mau, mungkin sudah dari dulu. Tapi, kenyataannya tidak, kan?"
Roy hanya menggeleng pelan dengan sikap posesif Alex. Ia jadi berpikir, bagaimana sikapnya dengan putrinya sendiri jika pada keponakannya saja sekhawatir ini.
"Ahhh ... terserah kau saja! Aku saja tidak ingin hal buruk menimpa Alexa. Dia keponakanku, bagaimana aku tidak khawatir."
Roy tersenyum seraya menepuk pundak sang adik dengan perasaan haru. "Terimakasih, karena telah peduli dengan Alexa."
Tapi Alex justru menatap tangan Roy yang masih menempel di pundaknya. "Apa yang kau katakan? Tentu saja aku khawatir, dia keponakanku. Alexa juga sudah seperti putriku sendiri."
Di depan pintu dua wanita paruh baya yang hendak masuk jadi menghentikan langkah mereka. Elisa dan Airin saling tatap dengan senyum yang mengembang. Mereka bersyukur, keduanya benar-benar sudah melupakan masa lalu mereka, bahkan Roy maupun Alex sudah bisa saling menyayangi satu sama lain.
.
.
.
Keesokan harinya ...
"Oke, kalian jemput saja gadis itu di kontrakannya. Pastikan, jika dia benar-benar menepati janjinya hari ini," perintah Rey pada dua bodyguardnya setelah tiba di kantor. Pria itu terus mengembangkan senyum, sebab bisa memenuhi permintaan ayahnya untuk membawa calon sekretaris baru ke hadapannya.
__ADS_1
Malam tadi usai pulang kantor, Rey mendapat kabar dari gadis itu. Tentu saja Rey langsung girang sebab rencananya untuk menekan gadis itu berhasil juga. Rey memang sengaja menyuruh ibu kontrakan untuk menagih uang sewa dan memberikan waktu dua hari pada Shila. Ternyata usahanya berhasil, Shila langsung menghubungi Rey dan menyetujui tawarannya kemarin.
"Baik, Tuan. Tapi, apa perlu kami berdua, saya sendiri pun bisa," usul salah satu dari pria itu.
"Tidak! Kalian pergi saja berdua, biarkan aku sendiri di ruangan ini!" Rey langsung mengibas tangannya sebagai bentuk pengusiran. Lantas mereka akhirnya pamit untuk segera meluncur ke tempat tinggal gadis itu. Tinggallah Rey di ruangan itu sendiri, ia membuka laci meja, lantas melihat foto seorang gadis kecil di sana.
'Aku yakin, saat ini kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik," gumam Rey pelan, lalu menyimpan benda itu lagi.
Di tempat lain, tepatnya di kontrakan sempit milik Shila, gadis itu sedang di dandani habis-habisan oleh sahabatnya. Indri yang hari ini kebetulan libur terlihat antusias sekali saat tahu jika Shila akan bekerja di sebuah perusahaan besar.
"Andreas Group, kamu nggak salah, kan, La? Astaga ... jadi pria itu seorang CEO?" Indri sampai beberapa kali mengerjap. Ia tak percaya jika pria yang pernah di ceritakan Shila ternyata keturunan dari keluarga Andreas yang kaya raya itu.
"Ya kamu bisa baca itu, kan, masa aku bohong." Shila mendengus, sesekali melihat wajahnya yang tengah di rias oleh Indri.
"Fix, kamu udah cantik, La. Aku yakin, CEO itu pasti akan langsung terpesona saat lihat kamu." Indri tersenyum puas melihat hasil maha karyanya. Sedangkan Shila justru tak nyaman dengan penampilannya saat ini.
Ia mematut penampilannya sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari pintu kontrakannya. "Ini beneran, aku nggak kayak ondel-ondel dandan ginian?" tanya Shila yang malah merasa aneh dengan penampilannya. Ia terbiasa tampil sederhana, jadi merasa make up dari Indri sedikit berlebihan.
"Enggaklah. Kamu cantik, serius!" Indri mengacungkan dua jempolnya. Meski ia sendiri tak yakin apa Shila akan nyaman dengan penampilannya hari ini.
"Oke!"
Tepat setelah melangkah keluar pintu, dua bodyguard yang Rey kirimkan datang. Mereka langsung mempersilahkan Shila untuk masuk mobil, dan secepatnya melesat kembali kearah kantor.
"Hei, kamu merasa ada yang salah tidak dengan penampilan gadis itu?" bisik salah satu pria pada rekannya.
__ADS_1
"Hussssttt! Kita tidak perlu ikut campur. Pokoknya bawa mobil ini biar cepat sampai kantor!"
Bab menuju ending, maaf jika banyak kekeliruan 🙏🙏🙏