Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Perhiasan Turun Temurun


__ADS_3

Katrina sangat kesal karena Sam masih saja mencurigainya ikut terlibat dalam penculikan Alexa kemarin. Apalagi yang menjadi tersangka utamanya adalah Irwan. Bukan hanya Sam, bahkan Alex turut serta mengancam akan menghukum dengan caranya sendiri jika benar Katrina ikut andil dalam masalah ini. Membuat Katrina merasa terkekang karena ke mana pun dirinya pergi terus ada saja yang mengawasi.


Seperti kali ini, Katrina yang baru saja pulang dari rumah sakit langsung memukul setir kemudinya berkali-kali karena melihat sebuah mobil hitam yang terus mengikutinya.


Hari ini Katrina memang sengaja mendatangi rumah sakit tempat di mana ia bertemu dengan Oma Maulin untuk pertama kalinya. Dan sebab itu pula ia bisa menjadi menantu di keluarga kaya raya itu.


Saat itu Katrina yang baru saja menebus obat untuk sang ibu tiba-tiba di panggil perawat, lantas di tanya banyak hal yang sebenarnya ia sendiri sama sekali tak mengerti. Tapi siapa sangka kesalahpahaman itu malah merubah kehidupan Katrina. Mereka menyangka jika Katrina adalah gadis yang menyelamatkan Oma Maulin dan membawanya ke rumah sakit.


"Ck, sialan! Ke mana aku harus menemukan gadis itu. Aku yakin sekali dia bukan dari keluarga sembarangan." Katrina berdecak kesal, ia melirik kalung dengan liontin gambar hati yang ia perkirakan harganya lumayan mahal itu. Katrina lantas meraih ponsel miliknya karena orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk mencari tahu mengenai kalung itu menghubungi.


[Bagaimana? Apa kau sudah menjalankan apa yang aku perintahkan?]


[Maaf, Nyonya, saya sudah mencari tahu ke semua toko, tapi tidak ada satupun yang menjual perhiasan dengan model seperti itu. Mungkin perhiasan itu di pesan khusus oleh pemiliknya.] Dari seberang sana menjelaskan dengan hati-hati. Ia yakin sekali jika Katrina tidak akan senang mendengar kabar ini.


[Maksudmu, kau belum menemukan di mana barang itu di beli?] Katrina berdecak kembali. Kenapa sesusah ini sih. Padahal kalau ia bisa menemukan di mana tempat kalung itu berasal, bisa jadi Katrina bisa langsung menemukan siapa pemilik yang sebenarnya.


[Ma–maaf, Nyonya.]


[Dasar tidak becus!] Katrina langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Sedangkan di seberang sana orang suruhan Katrina langsung gelagapan karena merasa telah gagal melaksanakan tugas.


.

__ADS_1


.


.


"Silahkan di minum, Tuan Sam. Saya tinggal sebentar untuk memanggil Alexa." Elisa bangkit setelah basa-basi sebentar dengan tamunya. Elisa memang cukup mengenal Samudera setelah foto-foto pria itu dan juga Alexa tersebar dulu. Tapi Elisa tidak pernah menyangka jika kali ini Samudera akan berkunjung ke rumah langsung untuk menjenguk bagaimana keadaan putrinya.


"Terimakasih, Nyonya. Maaf sudah merepotkan Anda." Samudera tersenyum kikuk. Sejujurnya ia merasa tak enak langsung datang ke rumah Alexa. Tapi mau bagaimana lagi. Samudera hanya ingin melihat kondisi Alexa yang sebenarnya.


Samudera menatap sekeliling ruangan itu. Beberapa foto keluarga Alexa terpajang di sana, termasuk foto Alexa dengan seorang laki-laki muda di sampingnya. Namun, ada satu hal yang sangat menarik perhatian Samudera, yaitu sebuah foto seorang wanita yang cukup besar. Samudera bangkit karena ingin melihat secara jelas foto itu, tapi Alexa sudah lebih dulu datang dan menyapanya,


"Hai ... bagaimana kabarmu, Xa?" Sam terpaksa kembali ke tempat duduknya semula. Rasa penasarannya tadi langsung lari entah ke mana setelah melihat kedatangan Alexa.


"Xa, mama tinggal sebentar ya?" Elisa memilih menyingkir, memberikan waktu pada mereka untuk berbincang. Meski Elisa masih akan sesekali mengawasi.


Alexa mengangguk, menatap kepergian sang mama sampai menghilang di balik pintu ruangan itu.


"Om nggak kerja?"


Sam tersentak oleh pertanyaan dari Alexa. Tadi pagi Samudera memang berencana untuk pergi ke kantor, tapi berhubung ia mendengar kabar Alexa sudah keluar dari rumah sakit, jadi Samudera langsung memutuskan untuk langsung mendatangi rumah gadis itu.


"Kerja. Tapi Om ingin melihat keadaan kamu dulu."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Alexa.


"Maksudnya?"


"Kenapa tidak dari kemarin?" Alexa langsung membekap mulutnya sendiri. Memang sejak di rumah sakit Alexa terus saja berharap Samudera datang untuk menjenguknya. Tapi, ternyata Alexa harus kecewa karena pria itu tak menampakkan diri sama sekali.


"Maaf, sebenarnya kemarin-kemarin om sibuk." Samudera terpaksa berbohong. Lagipula ia tidak mungkin mengatakan jika paman dari Alexa sendiri terus saja mengusirnya saat ia ingin menemui Alexa di rumah sakit.


Alexa mengangguk. Dalam hati sedikit kecewa sih dengan jawaban yang di berikan Samudera.


"Xa ... boleh tanya sesuatu? Mengenai foto itu ... " Samudera tiba-tiba bersuara lagi. Ia menunjuk sebuah bingkai besar dengan foto seorang wanita muda.


"Itu foto Mama waktu masih muda." Wajah Alexa langsung berubah masam. Gadis itu menyangka jika sejak tadi Samudera pasti sedang mengagumi kecantikan mamanya. "Kenapa? Apa Om mau bilang kalau Mama ternyata cantik saat masih muda, kan?"


"Bukan, Xa. Om cuma pengen tahu, Mama kamu beli di mana kalung itu?" Meski terdengar sedikit aneh, tapi Samudera terpaksa menanyakan langsung pada Alexa.


"Kalung .... ?" Alexa langsung menatap benda yang melingkar di leher sang mama pada foto tersebut. "Oh, itu kalung pemberian dari Kakek. Katanya sih kalung itu perhiasan turun temurun dari keluarga kakek dulu. Tapi sayangnya sekarang udah nggak ada!" jelas Alexa lagi.


"Maksudnya?" Jantung Samudera mendadak terpompa dengan cepatnya. Jika kalung itu perhiasan turun temurun dari keluarga Alexa, lantas kenapa sangat mirip dengan yang milik Katrina. Apa mungkin hanya mirip saja?


"Dulu kalung itu sempat Mama kasih ke aku, tapi nggak lama terus ilang."

__ADS_1


__ADS_2