
"Oma .... " Samudera langsung bangkit dari kursi kebesaran yang sejak tadi ia duduki. Pria itu melesat buru-buru kearah wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Kenapa tidak memberitahu, kalau Oma mau ke sini?"
Wanita yang masih terlihat garis kecantikannya meski dengan usia tak muda lagi itu melenggang begitu saja melewati Samudera. Duduk di sofa ruangan itu, dan meneliti sekeliling ruangan.
"Haruskah Oma minta ijin, hanya karena ingin mengunjungimu?" Oma Maulin melipat kedua tangannya di dada, melirik Samudera yang sudah duduk tepat di sebelahnya.
"Maksudku, Oma bisa kasih kabar, biar aku yang ke sana. Oma tak perlu repot-repot datang ke sini."
Oma Maulin memicing dengan tatapan sinis. "Apa kau sungguh keberatan Oma datang ke sini?" ucap Oma Maulin tak suka.
"Bukan begitu, Oma. Tapi ..."
"Bagaimana kabarmu dengan Katrina, baik-baik saja, kan?" Oma Maulin langsung memotong sebelum Samudera menyelesaikan ucapannya.
"Kami baik-baik saja."
Samudera meraba tengkuknya yang tiba-tiba tak enak. Jarang sekali Oma Maulin mendatanginya, apalagi sampai menemuinya di kantor seperti ini. Samudera jadi merasa, pasti ada sesuatu yang membuat wanita itu sampai menemuinya.
"Kapan kau akan berhenti bermain-main dengan wanita. Apa kau tidak kasihan dengan Katrina?" ucap Oma Maulin tiba-tiba. Samudera berusaha bersikap santai. Karena ia tahu, peringatan seperti ini bukan pertama kalinya ia dapatkan dari sang Oma. Setiap kali ia dekat dengan seorang wanita, Samudera memang akan mendapatkan teguran keras, bukan hanya dari Katrina, melainkan dari Oma Maulin juga. Tapi, tidak pernah secara langsung seperti kali ini.
"Apa yang aku lakukan, tidak seburuk penilaian Oma. Bahkan Katrina pun melakukan– ...."
"Apa? Kau mau bilang, jika Katrina tidak jauh beda dengan dirimu, begitu?" Sambar Oma Maulin. Terlihat kilatan amarah dari sorot matanya.
Samudera mendesah frustasi. Oma Maulin akan tahu, bahkan hal sekecil apapun tentang dirinya. Tapi, kenapa beliau seolah menutup mata jika berhubungan dengan Katrina.
__ADS_1
"Oma ... "
"Oma hanya ingin, kau bisa menerima Katrina. Apa salah?" ucap Oma Maulin lagi. Kedua netranya berkaca, menatap penuh permohonan pada pria yang terduduk di sampingnya, "Kalau bukan karena Katrina, mungkin Oma ... "
Oma Maulin terisak. Samudera paham apa yang di rasakan sang Oma saat kembali membahas kejadian itu. Kejadian yang mungkin saja hampir merenggut nyawanya jika saja hari itu Katrina tidak menyelamatkan Oma.
"Maafkan aku, Oma."
Oma Maulin mengurai pelukan Samudera. Di tatapnya wajah tampan dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya yang keriput,
"Jangan sampai garis keturunan Wisam Setiawan terputus, Sam. Kami semua sangat berharap itu darimu. Bisakah kau mengabulkannya?"
.
.
.
"Ca ..."
"Please ... Bang. Abang tau kalau dari dulu aku udah anggap abang seperti kakak aku sendiri. Lagian, banyak yang harus kita pikirkan. Abang mau bantu aku buat ngomong ke mereka, kan?"
Huhhh ...
Andi menghela napas pelan. Padahal, ia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya, dan tentu mencari waktu yang tepat untuk mengatakan itu semua. Tapi nyatanya, hubungannya dengan Alexa memang hanya sebatas ini.
__ADS_1
Tidak tahu saja, kalau selama ini Andi begitu tersiksa dengan terus memendamnya sendiri. Namun setelah mendengar langsung jawaban dari Alexa, apalagi yang bisa ia lakukan. Tetap diam-diam menyukainya, atau menyerah saja?
"Aku khawatir kalau mereka datang pas aku nggak ada di sini. Abang juga punya kerjaan sendiri. Nggak bisa setiap saat jaga mereka."
Alexa frustasi. Ia meremat kertas putih yang di berikan Mak Nengsih tadi hingga tak berbentuk, lalu melemparkannya begitu saja.
"Jadi, benar-benar nggak ada harapan buat abang?"
Alexa menoleh, menatap Andi yang lagi, membahas tentang pernyataan cintanya tadi.
"Bang ..."
"Apa karena laki-laki itu? Apa dia kekasihmu?"
Andi memang pernah sekali, secara tak sengaja melihat Alexa dengan seorang laki-laki di sebuah cafe.
"Maaf, Bang. Tapi, aku sungguh nggak bisa kasih harapan apapun buat Abang. Maaf ... "
Alexa bangkit, mungkin pergi adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Tapi, Andi dengan cepat mencekal pergelangan tangan Alexa,
"Maaf ... abang nggak ada niat buat paksa kamu." Andi merutuki kebodohannya sendiri, hingga tanpa sadar hampir menghancurkan semuanya. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Alexa menjauh hanya karena pernyataan cintanya tadi.
"Abang benar-benar minta maaf. Abang janji, nggak akan bahas itu lagi. Abang mohon kamu jangan marah."
Alexa kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi kayu tadi. Cukup lama mereka bungkam dengan pikirannya masing-masing. Andi yang terus saja menyalahkan dirinya, sedangkan Alexa terus memikirkan bagaimana caranya ia akan berbicara pada ayahnya nanti. Hingga suara Andi terdengar, dan mendadak membuat jantung Alexa seolah ingin melompat dari tempatnya,
__ADS_1
"Ca ... gimana kalau kita ketemu sama pimpinan mereka langsung?"