
Dua jam sebelumnya ...
"Awas!!"
Brakkk!
Terdengar sebuah dentuman keras yang berasal dari sebuah mobil yang menabrak mobil milik Alexa. Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu nyaris menabrak Alexa jika sedetik saja seseorang terlambat mendorong tubuh gadis itu. Alhasil mobil bagian depan milik Alexa rusak parah, sedangkan sang pengemudi mobil langsung tak sadarkan diri sesaat setelah tabrakan yang sangat keras itu terjadi.
"Ya Tuhan ... lihat itu!" teriak orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian.
Tubuh Alexa berguling-guling beberapa meter di trotoar bersama seorang pria yang tadi menolong menyelamatkannya dari maut. Entah apa jadinya jika pria itu tidak segera mengambil tindakan, mungkin saat ini nasib Alexa tak beda jauh dengan si pengendara mobil itu.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" Perlahan keduanya bangkit. Meski tertatih, beruntung Alexa hanya menderita lecet di beberapa bagian tubuhnya saja. Sedangkan pakaian milik pria tadi sampai robek di pangkal lengan hingga sedikit menggores pada bagian kulitnya.
"Anda terluka." Pria itu melihat cairan merah menetes dari siku sebelah kiri Alexa.
"Sa–saya tidak apa-apa, Tuan. Terimakasih. Saya tidak tahu ... "
"Cepat, bantu dia keluar!"
"Hubungi ambulan!"
Terdengar teriakan dari orang-orang yang ada di sekitar kejadian. Ada yang berusaha menyelamatkan korban yang masih terjebak di dalam mobil, ada pula yang langsung sigap memanggil ambulan.
Tak lama mobil ambulan datang untuk mengevakuasi korban. Di bantu orang-orang yang ada di sana, korban berhasil di keluarkan dari dalam mobilnya meski dalam keadaan yang sudah meninggal dunia.
.
__ADS_1
.
.
"Alexa ... Ya Tuhan ... kamu baik-baik aja, kan, Sayang." Elisa tidak bisa membendung air matanya haru saat melihat keadaan putrinya baik-baik saja. Semua sudah berkumpul di rumah sakit, termasuk Alex dan sang istri yang sempat shock karena mengira korban kecelakaan yang meninggal adalah Alexa.
"Berkat doa Mama, aku baik-baik aja."
Elisa memeluk tubuh Alexa, lantas menciumnya berkali-kali. Air mata Elisa terus mengalir deras, seiring dengan ucapan syukur yang terus keluar dari bibirnya.
Roy juga tampak lega setelah melihat langsung keadaan Alexa. Tadinya Roy sudah lemas saat mendengar dari bagian resepsionis yang salah memberinya informasi. Roy mengira jika ia tidak akan pernah bertemu dengan putrinya lagi.
"Sekarang ceritakan sama Ayah, apa yang terjadi? Kenapa polisi bilang, sebenarnya orang itu mengincarmu."
Roy memang sudah sedikit mendapat informasi dari pihak kepolisian. Dari hasil penyelidikan di temukan bahwa target sebenarnya adalah Alexa. Namun polisi belum tahu pasti apa motifnya karena orang tersebut malah meninggal di tempat kejadian.
"Yang menyelamatkan aku adalah orang suruhan Om Sam, Yah," sela Alexa. Tatapan semua orang langsung mengarah pada Samudera. Tak terkecuali Alex, namun pria itu menatap sinis pada Samudera.
"Bisa saja itu hanya akal-akalan dia, Xa, biar dapat simpati dari kamu. Atau jangan-jangan, dia sendiri dalang di balik kecelakaan ini."
"Mohon Anda tidak salah paham Tuan Alex. Selama ini saya memang menyuruh salah satu anak buah saya untuk membuntuti Alexa. Tapi sungguh, bukan saya pelaku yang ingin mencelakai Alexa."
"Nah, kan, dia sudah mengakuinya sendiri." Alex semakin yakin saja jika pemicu kejadian naas ini ada kaitannya dengan Samudera. Apalagi mereka yang tak pernah mau mendengarkan nasehat dari dirinya. Alex yakin sekali jika ada pihak yang tidak suka dengan kedekatan Alexa dan Samudera.
"Saya akan membantu pihak kepolisian melakukan penyelidikan," ucap Samudera lagi. Pria itu menatap pada Alexa yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit.
"Tidak perlu, karena campur tangan Anda bisa saja menimbulkan petaka baru buat Alexa," sambar Alex dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Maksud Anda apa?" Padahal Samudera memang benar-benar ingin membantu Alexa. Mencari tahu siapa dalang di balik kasus yang hampir mencelakakan Alexa.
"Cukup! Kenapa kalian malah bertengkar seperti ini, sih? Bikin pusing saja!" Roy terpaksa buka suara saat melihat suasana mulai tidak terkontrol.
"Sebaiknya kau pulang saja, Lex. Kasihan istrimu juga 'kan perlu istirahat," perintah Roy pada sang adik. "Dan Anda Tuan Samudera. Sekali lagi terimakasih karena Anda telah menyelamatkan Alexa."
"Tidak! Aku akan tetap di sini, bagaimanapun Alexa adalah keponakanku."
Berhubungan Alex tetap bersikeras tidak ingin pulang, jadi Samudera memutuskan untuk pamit lebih dulu. Ia tidak ingin terlibat perdebatan lagi dengan pria bernama Alex tadi.
"Menurutmu, apa ini ada kaitannya dengan Katrina?" tanya Roy pada sang adik. Jika menuduh Irwan, rasanya tidak mungkin sekali. Mengingat Irwan masih berada di dalam penjara.
"Kemungkinan sih iya. Lagipula, yang tidak suka dengan Alexa 'kan hanya dia," jawab Alexa yang sepemikiran dengan Roy.
"Oke. Aku akan segera menyelidiki wanita itu lagi. kalau pun benar dia pelakunya ..."
"Tunggu, Yah!" Tiba-tiba Alexa bersuara. Kedua pria paruh baya yang terlibat obrolan serius tadi sontak menoleh.
"Aku mau ngomong sesuatu ke Ayah," ucap Alexa dengan sedikit ragu. Tadinya Alexa ingin menceritakan masalah kecil ini pada keluarganya.
"Sebenarnya tadi di kampus, aku ... sempat berkelahi, Yah, sama Kakak senior aku," ungkap Alexa.
"Kamu berkelahi?" Elisa terkejut mendengar pengakuan Alexa, begitu juga dengan dua pria di depan sana.
"I–iya, Ma. Dan dia, sempat kasih ancaman, kalau dia ... bakal balas dendam."
"Hahhhh?"
__ADS_1