
Alexa mengerjapkan mata, merasakan leher bagian belakangnya yang masih berdenyut. Tatapannya menyapu sekeliling pada ruangan bernuansa putih yang saat ini dirinya tempati.
Seketika ingatan sebelum ia jatuh tak sadarkan diri pun melintas di otaknya. Entah dari mana datangnya tiba-tiba dua pria itu menyeret Alexa, lalu memaksanya masuk ke dalam mobil.
Alexa tersentak, mengingat bagaimana dua pria berwajah sangar itu tertawa puas, lalu memukul leher bagian belakang karena Alexa berusaha berteriak, sebelum akhirnya semua nampak gelap.
Klak,
Pintu ruangan itu terbuka. Alexa terjingkat kaget, tanpa sadar ia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh kepala ranjang yang ia tempati.
"Sudah bangun rupanya." Salah satu pria yang menculiknya tadi melangkah mendekat. Bibirnya mengulas senyum tipis, menatap pada setiap jengkal tubuh gadis itu penuh nafsu. "Ternyata kau lumayan cantik juga. Bagaimana kalau sebelum bos datang, kita bersenang-senang lebih dulu."
Kedua mata Alexa membola sempurna. Tubuhnya semakin menggigil tak karuan. Jika biasanya Alexa akan bersikap berani pada siapa saja, tapi dengan keadaan tangan serta kakinya yang terikat, ia bisa apa.
"Tolong jangan mendekat! Pergi kamu!" teriak Alexa dengan wajah panik. Ia tatap pintu ruangan itu yang masih terbuka lebar, berharap ada seseorang yang akan menolongnya.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Kita hanya akan bersenang-senang saja." Pria itu meraih wajah Alexa. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung meludah hingga mengenai wajah pria itu.
Plak!
Alexa meringis, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah. Tapi, itu tak sebanding dengan rasa takut yang tengah menyelimuti Alexa saat ini.
"Ternyata kau memang seliar ini. Pantas saja, bos sangat menginginkanmu."
__ADS_1
Alexa tidak tahu, siapa yang pria itu maksud. Apa mungkin pria itu adalah orang suruhan Katrina, karena hanya dengan wanita itulah Alexa pernah terlihat masalah.
"Siapapun bos kamu, tolong lepaskan aku. Berapapun yang kamu minta, aku akan mengabulkannya." Alexa berusaha berbicara, meski sejak tadi tubuhnya sudah menggigil ketakutan.
"Cih! Bahkan jika kau berjanji akan memberikan semua yang kau miliki, aku akan lebih memilih untuk menikmatimu, lalu menjadikan dirimu mainanku di sini." Pria itu mendekat lagi, di tariknya dengan kuat rambut Alexa, hingga Alexa merasakan seluruh rambutnya nyaris tercabut dari kepalanya.
"Akhhhh ... sakit, lepas!" Alexa merontah, tapi pria itu malah tertawa semakin kencang.
"Lepaskan dia, bodoh! Sebentar lagi bos akan datang!" Tiba-tiba pria satunya lagi muncul dari arah luar. Ia melangkah tergesa mendekati teman prianya yang masih mencengkeram kuat rambut Alexa.
"Huhhhh ... mengganggu saja, padahal kita bisa bersenang-senang lebih dulu, kan? Apa kau juga tidak tergiur dengan gadis cantik ini?" Pria yang baru masuk melirik Alexa, lalu nampak berpikir sejenak.
"Bagaimana? Kau setuju, kan? Bos tidak akan tahu!" ucapnya meyakinkan teman prianya.
"Tidak! Bos akan marah jika kita berani menyentuh gadis ini." Pria itu menggeleng cepat. Alexa bisa sedikit lega, meski ia masih di lana cemas, memikirkan siapa sebenarnya sang bos yang di maksud oleh dua pria itu.
Setengah jam kemudian Alexa hanya di biarkan sendiri di ruangan itu. Masih dengan kondisi tangan serta kaki yang terikat, tanpa makan ataupun minum. Alexa berusaha turun dengan susah payah dari atas tempat tidur. Berusaha meraih vas bunga yang ada di atas nakas. Namun, sebelum Alexa berhasil meraihnya, pintu ruangan itu kembali terbuka. Alexa melihat sosok pria yang muncul dari luar sana. Pria itu berhenti tepat di ambang pintu dan hanya menatap Alexa dengan diam.
"Si–apa kau? Tolong ... jangan sakiti aku."
"Baguslah, kalau kau tidak mengenaliku," ucap pria itu sambil menyeringai di balik penutup wajahnya.
.
__ADS_1
.
.
Di kediaman Andreas kesedihan masih menyelimuti Elisa karena sampai detik ini belum ada perkembangan terbaru mengenai kasus penculikan Alexa.
Hanya saja tas beserta barang milik Alexa yang di temukan di lokasi pembuangan sampah di sita oleh pihak kepolisian sebagai barang untuk penyelidikan.
Elisa terus saja menyalahkan Roy atas kasus yang menimpa putri mereka. Bahkan wanita itu sampai menolak berbicara dengan sang suami meski Roy sudah meminta maaf berkali-kali.
"Aku minta maaf, El. Kumohon jangan mendiamkanku seperti ini," ungkap Roy putus asa. Namun Elisa tetap bergeming pada posisinya semula, yaitu diam termenung sambil menatap kosong kearah jendela kamar.
"El ..."
"Tuan Roy, mungkin Nyonya sedang butuh waktu sendiri. Nanti biar mbok yang coba bujuk Nyonya." Asisten rumah tangga yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga itu berusaha menenangkan sang majikan yang sejak tadi nampak frustasi saat membujuk sang istri.
"Makasih, Mbok. Kalau bisa, tolong bujuk Elisa agar mau makan. Aku tinggal sebentar." Roy melangkah keluar kamar dengan wajah murung, bertepatan dengan bunyi dering ponsel miliknya,
[Maksudnya, ada seseorang yang menjadi saksi saat penculikan putri saya?]
[Benar, Tuan. Saat ini bocah itu masih berada di kantor polisi,] ucap seorang kepala polisi dari seberang telepon.
[Baik, Pak. Saya akan segera ke sana.]
__ADS_1
Roy menggenggam erat ponsel miliknya, lantas berjalan menuruni tangga dengan sangat cepat.
Ayah pasti akan segera menemukanmu, Alexa ... tunggu ayah ...