Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Korban Kecelakaan


__ADS_3

Kecelakaan yang terjadi di depan cafe siang itu langsung mengejutkan semua orang yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali Samudera yang sejak tadi menunggu kedatangan Alexa di dalam cafe. Pria itu hampir saja menjatuhkan ponselnya tatkala ingin menghubungi Alexa lagi, tapi tiba-tiba dari arah luar terdengar keributan. Salah satu orang berteriak dan memberitahukan ada kecelakaan mobil di depan sana.


"Ke–celakaan?" Pikiran Samudera sudah berkecamuk. Tidak mungkin itu Alexa, kan? Tadi ia sudah mendengar sendiri jika Alexa baru saja keluar dari mobil dan sedang menuju ke mari. Tapi, jika itu memang Alexa, bagaimana?


"Iya, Tuan. Mobil yang di tabrak sampai ringsek, dan orangnya meninggal di tempat!" ucap orang yang memberikan informasi pada Samudera.


Samudera bertambah gelisah, antara tetap diam menunggu atau keluar untuk memastikan sendiri bagaimana keadaan Alexa.


"Oma ..."


"Ada apa, Sam?" Oma Maulin yang tak tahu apa-apa hanya menatap bingung melihat perubahan pada wajah cucunya.


"Sepertinya Sam harus ke depan. Tolong Oma di sini saja, jangan ke mana-mana." Tanpa menunggu persetujuan dari sang oma, Samudera langsung berlari keluar menuju tempat kejadian kecelakaan. Sementara Oma hanya mematung menatap punggung sang cucu yang perlahan menghilang di kejauhan.


Di tempat kejadian sudah ramai. Seperti yang orang tadi katakan, Samudera seketika lemas menyadari mobil milik siapa yang ia lihat dalam keadaan ringsek pada bagian depannya.


"Alexa ... Ya Tuhan ...!" Samudera berlari menerobos orang-orang yang masih berkerumun mengelilingi tempat kejadian kecelakaan. Andai ia menjemput Alexa tadi, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


"Minggir!"


"Tuan, tolong jangan mendekat!" cegah salah satu petugas kepolisian yang sudah tiba beberapa menit lalu. Garis polisi mulai di pasang, korban mulai di evakuasi menuju mobil ambulan. Pria berseragam polisi itu menghalangi langkah Samudera yang memaksa mendekat.


"Tolong ijinkan saya melihat kondisi korban, Pak!" pinta Samudera dengan pikiran yang sudah kacau.

__ADS_1


"Maaf, korban akan segera kami bawa ke rumah sakit."


"Tidak! Saya harus melihatnya! Minggir!" Samudera tetap memaksa meski sudah di larang untuk tidak mendekat. Pria itu bahkan menerobos begitu saja dan berlari kearah ambulan yang sudah mulai bergerak menuju rumah sakit.


"Stop! Tolong berhenti!"


Mobil berdecit, sang supir terpaksa menginjak pedal rem sebab seseorang tiba-tiba muncul di depan mobil.


"Hei, minggir!" teriak sang supir.


"Biarkan saya melihat kondisi korban! Saya mohon." Samudera mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Petugas dari rumah sakit terpaksa turun, membuka kembali pintu belakang ambulan untuk Samudera. Dan, kedua mata pria itu langsung terbelalak sempurna saat melihat keadaan di dalam sana.


.


.


.


Ketegangan juga tengah menyelimuti seluruh keluarga Andreas. Bagaimana Elisa tidak shock saat tiba-tiba menerima kabar bahwa putrinya mengalami kecelakaan. Wanita paruh baya itu langsung jatuh lemas terduduk di lantai, meraung seperti orang kesurupan sampai menggemparkan orang seisi rumah.


Mbok Nah yang terkejut mendengar tangisan sang majikan langsung tergopoh-gopoh menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Elisa lantas menyuruh asisten rumah tangganya itu untuk menghubungi Roy.

__ADS_1


Di kantor Roy juga langsung kalang kabut saat mendengar berita mengenai putrinya. Roy membatalkan seluruh agendanya hari ini dan segera meluncur ke rumah sakit setelah menyuruh sang adik untuk melihat keadaan Elisa di rumah. Roy yakin jika sang istri saat ini tengah kacau sekali.


Tidak tahu sepanik apa pria itu sekarang. Roy yang mendapat kabar Elisa yang pingsan berkali-kali, sedangkan menurut keterangan dari polisi bahwa mobil milik Alexa yang ringsek pada bagian depannya membuat pikiran Roy campur aduk. Pria itu menekan pedal gal dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya hanya dalam waktu lima belas menit Roy sudah tiba di pelataran rumah sakit.


"Mbak, bagaimana keadaan putri saya? Di mana dia sekarang?" Roy langsung menuju resepsionis dan menanyakan di mana ia bisa bertemu dengan putrinya.


"Apa kerabat dari korban kecelakaan di depan cafe XX?" tanya sang petugas.


"Iya. Tolong katakan, di bagaimana keadaan putriku?" ucap Roy lagi dengan tidak sabar.


"Silahkan Anda lurus saja, nanti belok kiri ada ruang jenazah," jawab sang petugas lagi.


"Apa, ruang jenazah?" Roy berbisik lirih. Tubuh Roy mendadak lemas. Kedua lututnya seolah tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya setengah mendengar kabar itu. Roy jatuh terduduk di atas lantai dengan dada yang teramat sesak.


"Ja–jadi ... putriku Alexa ..." Lidah Roy seolah kelu. Apa yang harus ia jelaskan pada Elisa nanti. Bagaimana ia akan meredam amarah dari istrinya itu jika mendengar kabar ini. Dunianya seolah runtuh detik itu juga


"Alexa ... maafkan Ayah, Nak," lirih Roy di sela tangisannya. Rasanya ia tak akan mampu melihat tubuh putrinya yang terbujur kaku di dalam sana.


Roy masih terus menangisi putrinya, ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Tuan Roy ... Anda sudah datang?"


Roy mendongak, menatap pria yang berdiri di sebelahnya. "Tuan Sam ..."

__ADS_1


"Mari ikut saya."


__ADS_2