
"Om ... " Gadis itu menatap pria paruh baya di sebelahnya. Alex terpaksa menepikan mobil sejenak, lalu mengambil napas dalam-dalam.
"Ternyata kamu keras kepala juga."
"Ini tidak seperti yang Om bayangkan. Tadi kami hanya tidak sengaja bertemu," ucap Alexa, berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Please, Xa ... kali ini saja. Tolong dengarkan apa yang om katakan." Alex bukan tidak tahu jika pertemuan itu memang tanpa di sengaja. Tapi masalahnya, kenapa Katrina kebetulan juga ada di sana. Alex curiga jika Katrina memang sengaja memata-matainya Alexa.
"Om janji, ayahmu tidak akan tahu mengenai masalah ini." Alex bersuara lagi saat melihat wajah Alexa yang gelisah. Gadis itu tersenyum, ternyata pria itu cukup peka membaca sikapnya. Alexa memang takut jika sang om akan melapor masalah ini dengan ayahnya. Akan semurka apa sang ayah nanti, apalagi hubungannya dengan Alexa saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, sana turun. Ingat ya om katakan tadi."
Alexa mengangguk, meski sempat ragu. Tapi, ya sudahlah, Alexa akan pikirkan nanti. Yang terpenting masalah ini tidak akan sampai di ketahui oleh sang ayah.
Waktu cepat sekali berlalu. Nyatanya, Alexa belum juga menemukan cara untuk menggagalkan rencana penggusuran daerah kumuh itu. Bukan tak pernah mencoba, hanya saja Alexa tak ingin terlalu kentara memusuhi sang ayah.
Waktu itu Alexa pernah mendatangi perusahaan yang bekerjasama dalam pembangunan proyek. Namun, hasilnya nihil, mereka tidak bisa membatalkan kerjasama, apalagi perjanjian yang sudah di sepakati bersama.
Hingga akhirnya hari ini pun tiba. Di bantu Andi serta yang lain, Alexa menunggu kedatangan orang-orang itu yang katanya ingin membersihkan bangunan apapun yang masih berdiri di atas tanah milik perusahaan.
"Tolong hentikan, Pak. Setidaknya beri kami waktu untuk mencari tempat tinggal baru."
Sang mandor menyusuri wajah orang-orang yang tinggal di sana, lalu berhenti pada sosok gadis cantik yang berada di antara mereka.
"Maaf, kami hanya menjalankan perintah. Saya harap kerja sama kalian, agar kami tidak perlu memakai cara kekerasan lagi."
__ADS_1
Alexa terkesiap. Bahkan mereka hanya menatapnya sekilas, lalu fokus kembali pada pekerjaan mereka.
"Tolong jangan hancurkan rumah kami, Tuan. Di mana kami akan tinggal?" ucap salah satu penghuni kawasan itu. Satu persatu bangunan mulai di ratakan dengan alat berat. Aksi saling tarik tak dapat di hindari lagi. Ada yang menangis melihat tempat tinggalnya di robohkan, ada pula yang memaki, bahkan berusaha melawan. Tapi, jumlah mereka cukup banyak. Lagipula, mereka tak punya cukup keberanian untuk hal itu.
"Ca, bagaimana ini?" Andi masih berdiri di samping Alexa. Mengawasi kericuhan yang di dominasi oleh para penghuni kawasan itu dan para karyawan.
"Tolong hentikan, Pak. Saya mohon," pinta Alexa sekali lagi. Tapi, tetap mereka tidak peduli sama sekali.
"Maaf, sebaiknya Nona minggir, karena saya tak segan untuk melukai Anda!"
Dan benar saja, beberapa menit kemudian ...
"Akkkkh ... !" Alexa meringis, merasakan nyeri pada kedua sikunya. Ia tak sengaja terjatuh saat sedang menyelamatkan seorang bocah yang nyaris tertimpa sisa bangunan.
"Aku nggak apa-apa, Bang. Mereka nggak ada yang luka, kan?"
Sebagian dari mereka memang memilih pasrah. Melihat rumah tempat tinggal mereka di ratakan dengan tanah. Meski sebagian lagi masih ada yang masih berusaha mempertahankan tempat tinggal mereka.
"Lebih baik kita segera ajak mereka pergi dari sini aja, Ca. Takutnya nanti keadaan tambah runyam," usul Andi yang di balas persetujuan oleh Alexa.
.
.
.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan, Kak!" pekik Elisa ketika Roy baru saja membuka pintu kamar. Wanita itu terlihat marah, entah apa penyebabnya.
"Kau kenapa sih, El? Apa salahku?" Roy berdecak heran, ada apa sebenarnya hingga tiba-tiba Elisa terlihat marah seperti ini.
"Alexa terluka, dan itu gara-gara Kak Roy. Ayah macam apa, sih!"
"Alexa terluka, lantas, apa hubungannya denganku? Memang apa yang aku lakukan?"
"Bisa ya, hanya karena pekerjaan sampai mengorbankan Alexa seperti itu!" Bagaimana Elisa tidak emosi, sore tadi Elisa melihat Alexa pulang dengan tubuh lecet-lecet. Meski awalnya Alexa bersikeras tidak mau mengaku, tapi Elisa cukup cerdas untuk bisa membuat Alexa akhirnya mau membuka mulut.
"Itu karena Alexa yang keras kepala, El. Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku batalkan kerjasama ini." Roy sebenarnya sedikit kesal mendengar putri tercintanya sampai terluka. Tapi, itu memang karena kesalahan Alexa sendiri.
"Tapi, putri Anda terus menghalangi pekerjaan kami, Tuan," adu pria yang bertanggungjawab langsung dalam proses pembangunan itu. Roy jadi lema, satu sisi ia tidak mungkin bisa melihat putrinya terluka. Tapi, Roy juga tidak mungkin mengecewakan sang mertua.
"Jangan pedulikan dia. Jalankan saja apa yang menjadi tugasmu! Alexa tidak mungkin bertindak ceroboh," balas Roy tetap pada keputusan awal.
"Tapi, jika putri Anda terluka, tolong jangan salahkan kami. Seperti yang Anda bilang tadi, kami hanya menjalankan perintah."
"Kak ... !" Roy tersentak. Lamunannya buyar mendengar suara Elisa lagi. "Lepaskan saja tanah itu, Kak. Bisa, kan?"
Roy mengusap wajah kasar mendengar permintaan konyol Elisa.
"Biarkan tanah itu di tempati mereka. Aku yang akan bertanggung jawab berbicara dengan Papi," lirih Elisa sekali lagi dengan penuh permohonan.
"Maaf, El. Tapi, rencana pembangunan itu akan tetap berjalan. Aku tidak mungkin membatalkannya begitu saja!" jawab Roy sambil melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1