Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Bab 12. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

"Neng Caca, bagaimana ini?" Alexa yang baru saja mendaratkan bobot tubuhnya pada tikar lusuh tampak mengernyit heran. Hari ini seharusnya pulang kuliah Alexa langsung berangkat ke kantor, tapi karena mendapat pesan singkat dari salah satu penghuni kawasan pinggiran itu, Alexa memutuskan mampir sebentar.


"Gimana apanya, Mak?" Wanita paruh baya yang di panggil Mak Nengsih oleh para penghuni kawasan itu memberikan selembar kertas putih ke hadapan Alexa.


"Ini apaan, Mak?" Alexa lekas membukanya. Perasaannya mendadak tak enak saat matanya tak sengaja menangkap tulisan tebal di bagian paling atas.


ANDREAS GROUP


Itu nama perusahaan milik keluarga besarnya.


"Kita di suruh cepat pindah dari tempat ini, Neng. Tadi ada orang pakai baju bagus datang ke sini, terus kasih itu sama Kardi."


Alexa sedikit gemetar membaca tulisan yang tertera di sana. Apa artinya semua yang ia lakukan selama ini, jika ternyata pihak yang ingin mengambil alih tanah itu adalah keluarganya sendiri. Bagaimana kecewanya mereka nanti, jika tahu Alexa adalah cucu bungsu dari Keluarga Andreas sendiri, bagaimana perasaan mereka. Bagaimana pula ia harus bersikap dan seolah tak tahu akan kebenaran ini.


"Kita harus gimana, Neng? Apa sebaiknya kita ikuti saja permintaan mereka?" Kedua netra tua Mak Nengsih berembun. Alexa hanya mampu menatap nanar, tanpa bisa berkata sepatah kata. Alexa juga bingung harus melakukan apa. Ini adalah pilihan yang sulit, antara terus berpihak pada mereka, atau menghianati ayahnya sendiri.


"Tapi ... kita mau tinggal di mana, kalau pergi dari sini?" Mak Nengsih bersuara lagi. Mereka sudah menempati kawasan itu cukup lama. Rasanya tak rela jika harus meninggalkan tempat itu yang sudah banyak sekali memberikan mereka kehidupan yang cukup nyaman, ketimbang tinggal di kolong jembatan.


Alexa tergagap merasakan tepukan di bahu sebelah kiri. Mak Nengsih menatap wajah Alexa dengan pandangan berkaca-kaca.


"Mak tenang dulu ya, nanti biar Caca cari solusinya." Alexa berucap pelan, sambil mengusap tangan keriput Mak Nengsih.

__ADS_1


"Makasih ya, Neng. Kami berharap, tempat ini akan tetap jadi tempat tinggal kami."


Hati Alexa mencelos. Dadanya terasa sesak seolah di himpit beban yang sangat berat. Apapun yang terjadi, Alexa harus berbicara dengan sang ayah. Ia tidak boleh membiarkan kebahagiaan mereka di rampas begitu saja.


"Ca ... apa kabar?" Alexa menghentikan langkah saat baru saja pergi menyapa para anak-anak. Gadis itu menatap pria yang berdiri gagah di depan sana.


"Baik. Bang Andi apa kabar?" Alexa menghampiri Andi yang tengah tersenyum menatapnya.


"Abang juga baik. Lama nggak ke sini. Pasti kamu sibuk."


Mereka sudah duduk di bangku kayu di antara rumah petak milik warga.


Andi adalah seorang guru di salah satu sekolah dasar. Andi juga yang mengajar di kawasan kumuh itu. Seminggu tiga kali Andi akan datang dan mengajarkan anak-anak di sana membaca dan menulis secara gratis.


"Bang, makasih ya, udah mau ngajar anak-anak di sini."


Sebenarnya Alexa pernah berunding dengan para ibu-ibu kampung kumuh, untuk menyisihkan sedikit hasil penjualan barang-barang kerajinan tangan, dan menggunakan uang itu untuk membayar Andi. Tapi ternyata, Andi menolak. Andi malah mengusulkan jika uang itu di simpan saja, dan nantinya bisa di gunakan untuk biaya membangun gedung sekolah bagi anak-anak.


"Sama-sama, Ca, karena itu yang bisa abang lakukan buat mereka."


Mereka saling diam, menikmati semilir angin yang menerpa tubuh keduanya. Andi menatap wajah cantik Alexa dari samping. Lalu, beberapa detik kemudian, Alexa tiba-tiba menengok, dan tatapan mereka bertemu,

__ADS_1


"Abang kenapa?" tanya gadis itu saat menyadari Andi yang terus saja menatap kearahnya.


"Ca ... ada yang pengen abang bicarakan."


.


.


.


[Apa? Jadi, bocah ingusan itu masih saja mendekati Samudera!] Katrina mengeram kesal. Jemarinya mengepal hingga membentuk sebuah tinju saat mendengar laporan dari salah satu orang suruhannya. Pria berbadan sedikit tambun dengan rambut plontos itu menyampaikan berita, bahwa hari ini Alexa kembali bertemu lagi dengan Samudera di salah satu restoran.


[Iya, Nyonya. Tapi maaf, saya tidak bisa mendekat sama sekali. Karena sepertinya Tuan Sam sengaja memberikannya pengawalan khusus di dekat restoran itu.]


[Ya sudah, kamu terus awasi dia. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!]


Katrina mematikan sambungan telepon, bahkan sebelum pria di seberang sana menjawab. Katrina memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. Dengan cara apalagi ia harus menjauhkan gadis itu dari suamiya. Sedangkan Sam pernah mengancamnya akan bertindak tegas jika dirinya sampai berani melukai Alexa.


Katrina menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan kecil. Sepertinya kali ini Katrina harus bermain cantik. Katrina tidak ingin benar-benar tersingkir, lalu di depak dari keluarga kaya raya itu. Katrina tidak ingin hidup susah lagi, tinggal di rumah yang sempit dan harus bekerja keras jika ingin mendapatkan uang.


"Aku harus mendatangi Oma Maulin, karena cuma dia yang bisa mengendalikan Samudera."

__ADS_1


__ADS_2