Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Membohongi Kita Semua


__ADS_3

"Kamu sadar nggak, Xa ... kalau makin ke sini, Sella tambah ngawur aja omongannya. Sebenarnya dia masih waras nggak, sih?" Tika terus mengomel sepanjang melangkah dari parkiran tadi, membicarakan perihal ucapan Sella yang katanya ingin membebaskan Irwan. Padahal Sella tahu apa yang di lakukan pria itu sudah sangat keterlaluan.


"Ya ... itulah cinta, Tik, kadang bisa buat orang jadi nggak waras." Alexa menjawab santai, meskipun hatinya sangat menyayangkan sikap Sella yang begitu terobsesi pada Irwan. Seperti tidak ada laki-laki lain saja di dunia ini.


"Tapi kamu merasa aneh nggak sih sama Sella? Kita tahu sendiri, kan, kalau kemarin pihak kampus udah keluarin dia, terus kenapa mendadak keputusan itu bisa di cabut lagi? Terus mobil yang tadi Sella pakai, bukannya mobil itu juga udah papanya jual? Lah, kenapa masih aja di pakai sama tuh bocah?" Tika sampai menghentikan langkah sejenak, demi mengekspresikan kebingungannya. Begitupun dengan Alexa yang juga sempat berpikir sedemikian rupa.


"Kamu tahu dari mana kalau mobil Sella udah di jual sama papanya?" tanya Alexa sambil menatap wajah sahabatnya yang masih terlihat bingung itu.


"Aku tahu karena kebetulan yang beli tuh mobil masih saudara aku, Xa. Dan katanya, tuh mobil di jual cepat karena uangnya mau di pakai buat nyicil hutang papanya Sella. Bingung 'kan kalau tiba-tiba mobil itu udah di pakai Sella lagi?"


"Ya mungkin aja papanya Sella nggak jadi jual tuh mobil, Tik. Bisa aja 'kan," ungkap Alexa.


"Tapi nggak mungkin banget lah, Xa, orang baru dua hari lalu aku udah lihat tuh mobil ada di rumah saudara aku. Gimana ceritanya nggak jadi di jual?" bantah Tika lagi. Mereka masih berbincang seputar Sella sampai tiba di kelas, lalu duduk di bangku masing-masing.


"Ah, udah. Ngapain sih kita mikirin sesuatu yang bukan jadi urusan kita lagi. Mending kita fokus belajar aja, bentar lagi dosen masuk." Alexa mengakhiri obrolan karena ia tidak ingin terlalu terlibat lebih jauh lagi dalam urusan Sella. Terserah saja apa yang akan mantan sahabatnya itu lakukan, Alexa sudah tidak peduli lagi.


.

__ADS_1


.


.


Di tempat lain ...


Siang itu suasana kantor sedikit berbeda dengan kedatangan Oma Maulin. Keadaan pun berubah sedikit memanas saat tiba-tiba wanita itu membicarakan mengenai rencananya yang ingin membantu menstabilkan perusahaan milik Baskoro yang nyaris bangkrut. Tentu saja hal itu di tolak mentah-mentah oleh Samudera. Sebagai seorang pebisnis, tentunya masalah untung-rugi sangat ia pertimbangan sekali. Lagipula, yang menjadi alasan dari Oma Maulin belum terlalu jelas. Balas budi? Tentang apa?


"Pokoknya keputusan Oma sudah bulat, Sam, Oma ingin membantu perusahaan itu." Oma Maulin duduk di sofa besar ruangan itu. Sedangkan Samudera masih pada kursi kerjanya dengan memijit pangkal hidungnya berkali-kali.


"Oma tidak peduli, Sam. Apapun alasan mereka meninggalkan perusahaan itu, Oma tetap ingin membantunya. Kau hanya perlu mendukung Oma, karena semua tidak akan bisa tanpa persetujuan darimu." Oma Maulin tetap kekeuh pada pendiriannya. Sejak dulu wanita itu memang terkenal keras kepala sekali. Apapun yang menjadi keinginannya harus terpenuhi.


"Oke, kalau Oma memang ingin membantu perusahaan itu. Tapi tolong, kasih tahu aku apa yang menjadi alasan Oma kenapa tiba-tiba ingin membantunya." Akhirnya Samudera mengalah juga. Pria itu jadi pusing sendiri lama-lama berdebat dengan sang oma. Biarlah ia akan menyelidikinya sendiri nanti.


"Ini mengenai balas budi, Sam. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Oma ceritakan padamu," ucap Oma Maulin lirih, suaranya sedikit tersendat-sendat.


"Balas budi? Mengenai apa Oma?" Samudera makin pusing saja menebak ke mana arah pembicaraan sang oma.

__ADS_1


"Ternyata selama ini Oma telah salah, Sam. Ternyata gadis yang menolong Oma dua tahun lalu bukanlah Katrina. Istrimu itu sudah membohongi kita semua," ungkap Oma Maulin kemudian.


Samudera hanya membisu mendengar semua penjelasan wanita itu. Ingatannya kembali melayang akan kejadian dua tahun lalu, saat tiba-tiba Oma Maulin memintanya menikahi seorang gadis yang tak lain adalah Katrina, sebab Katrina telah menolong menyelamatkan nyawa Oma Maulin.


"Maksud Oma, gadis itu bukan Katrina? Lalu, bagaimana Oma tahu mengenai hal ini? Bukankah dulu salah satu perawat yang membawa Katrina ke hadapan Oma langsung? Perawat itu juga bilang kalau Katrina adalah orang yang menyelamatkan Oma sekaligus membawanya ke rumah sakit?"


"Ceritanya panjang, Sam. Oma terlalu bodoh sebab saat itu langsung percaya tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu. Tapi sekarang Oma bersyukur karena sudah benar-benar menemukan gadis itu. Makanya Oma ingin membantu perusahaan milik ayah dari gadis itu yang nyaris bangkrut." Oma Maulin menghela napas panjang. Ia berjanji akan menebus kesalahannya dulu dengan cara membantu perusahaan milik Baskoro.


"Oh ya Sam, ada sesuatu yang ingin Oma katakan padamu. Ini masih mengenai Katrina." Oma Maulin bangkit dari sofa yang sejak tadi menjadi tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Samudera yang masih membisu mendengar setiap penjelasan dari wanita itu.


"Mengenai rumah tangga kamu, Oma tidak akan ikut campur lagi. Dan satu hal lagi." Oma Maulin menjeda ucapannya. Ia sangat kesal jika mengingat pertemuannya dengan Katrina kemarin. "Kalung yang di temukan oleh perawat rumah sakit dulu, ternyata bukan milik Katrina, Sam, melainkan milik gadis yang menolong Oma dulu."


"Kalung?" bisik Samudera lirih.


"Iya, kalung dengan liontin itu. Kamu juga tahu, kan, karena Oma pernah mengembalikannya pada Katrina saat kamu juga di rumah."


Perasaan Samudera mendadak tidak enak. Pikirannya langsung tertuju pada kalung yang ia kembalikan pada Alexa beberapa hari lalu. Apa mungkin kalung yang Oma maksud adalah kalung dengan inisial A di dalamnya itu? Bukankah itu milik keluarga Alexa, tapi kenapa Oma Maulin bilang itu milik putri dari Baskoro?

__ADS_1


__ADS_2