Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Nyaris


__ADS_3

Saat pertama kali membuka mata, Alexa langsung di sambut dengan ruangan berwarna putih. Rasa perih di sekujur tubuhnya mulai terasa. Alexa meringis, mengusap tangan sebelah kanannya yang di balut perban. Gadis itu seketika tersentak, lalu bangkit buru-buru ketika sekelebat ingatan itu tiba-tiba muncul.


"Apa yang terjadi? Apa aku benar-benar udah .... " Cairan bening meluncur bebas membasahi kedua pipi Alexa. Alexa memekik keras, seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia pikir hidupnya memang sudah benar-benar hancur, karena setelah tak sadarkan diri, Alexa tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan dirinya.


"Alexa ... tenanglah!" Elisa mendekap erat tubuh putrinya yang masih tergugu di atas ranjang. Alexa terus memberontak, hingga selang infus yang terpasang di tangan sebelah kirinya pun nyaris tercabut.


"Hidupku udah hancur, Ma ... pria itu pasti telah .... " Tangis Alexa semakin kencang. Elisa yang tak kuasa melihat penderita putrinya pun ikut meneteskan air mata. Beruntungnya petaka itu tidak sampai terjadi, karena sebelum sang penculik berhasil menodai Alexa, Roy dan Alex sudah lebih dulu datang dan menyergapnya.


"Tenang, Sayang. Tidak ada yang terjadi, percayalah." Elisa juga tidak bisa membayangkan, jika sedikit saja mereka terlambat datang, mungkin pria brengsek itu benar-benar telah merenggut masa depan putrinya.


"A–aku takut, Ma. Aku .... "


"Stttt .... ada mama di sini. Kamu aman di sini, Alexa. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi."


Elisa tahu jika putrinya pasti masih shock atas kejadian yang baru saja menimpanya. Alexa masih terus gelisah meski Elisa berkali-kali berusaha menenangkan. Sampai akhirnya dokter datang dan terpaksa memberikan obat penenang karena Alexa terus memberontak.


Alexa tertidur pulas lagi setelah obat yang di suntikkan dokter tadi mulai bereaksi. Elisa keluar dari dalam ruang rawat bertepatan dengan Roy yang datang bersama Alex.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Alexa, El? Apa dia sudah sadar?" Roy menatap cemas pada sang istri. Roy terpaksa meninggalkan Elisa sebentar karena ia sedang mengurus kasus penculikan kemarin.


"Tadi Alexa udah sadar, Kak. Tapi dia masih shock. Alexa pikir kalau pria itu benar-benar sudah merenggut kehormatannya."


Roy nampak mengepalkan sebelah tangannya. Urat-urat di pelipisnya mulai mengencang kembali mengingat sosok pria yang baru saja ia temui di sel tahanan. Pria yang nyaris menghancurkan masa depan Alexa itu terlihat tenang sekali, bahkan ketika Roy hampir menghajarnya lagi, jika saja pria itu tidak segera di amankan oleh pihak polisi.


"Pelakunya pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Kau tenang saja. Aku akan pastikan laki-laki bajingan itu akan membusuk di penjara." Alexa menepuk pundak Roy pelan. Ia paham bagaimana murkanya lelaki itu. Mungkin Alex juga akan melakukan hal yang sama jika kejadian itu menimpa putri kandungnya.


.


.


.


Elisa tengah menyuapi Alexa saat pintu ruangan itu terbuka dari luar. Dua gadis cantik muncul masing-masing membawa oleh-oleh untuk pasien yang menghuni ruangan tersebut. Tentu saja kedatangan mereka di sambut bahagia oleh Elisa, setidaknya Alexa akan sedikit terhibur dengan kedatangan kedua sahabatnya itu.


"Bagiamana keadaan kamu, Xa? Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpamu. Tapi syukurlah semua baik-baik saja." Tika menatap sedih pada Alexa dengan luka yang cukup serius di tangan kanannya. Juga beberapa bagian tubuh Alexa yang terlihat memar.

__ADS_1


"Sudah lebih baik, Tik. Aku bersyukur Tuhan masih menolongku di saat yang tepat."


Mereka terlibat obrolan yang cukup asik. Hanya saja sikap Sella dari pertama datang ke ruangan itu terlihat sedikit aneh. Sella nampak lebih pendiam tidak seperti biasanya. Dan hal itu tentu sangat di sadari oleh Tika.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, Tika dan Sella akhirnya pamit. Alexa masih di harusnya istirahat total sampai keadaannya membaik. Dua gadis itu berjalan melewati koridor rumah sakit menuju parkiran, tempat di mana mobil mereka berada. Namun Tika mendadak pamit ke kamar mandi karena merasakan panggilan alam yang tidak bisa ia tahan lagi. Sementara Sella yang tadinya ingin menunggu Tika di parkiran harus menghentikan langkah karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sella melihat jika papanya yang sedang menghubungi.


[Kenapa tidak bisa? Papa punya uang, punya kekuasaan juga. Please ... Pa, bantu Sella kali ini aja,] ucap Sella penuh permohonan.


[Maaf, Nak. Bukannya papa tidak mau membantumu, tapi papa benar-benar tidak bisa.]


[Tapi kenapa? Bukankah kemarin Papa udah janji, akan mengabulkan permintaan Sella?] Gadis itu mengingatkan janji papanya mengenai kesanggupannya untuk memenuhi permintaannya itu.


[Keluarga Pratama mengancam papa, Nak. Mereka akan mencabut seluruh saham pada perusahaan kita jika papa sampai berani ikut campur masalah ini. Papa harus bagiamana?]


[Keluarga Pratama? Ke–kenapa bisa? Lagipula, apa hubungannya masalah ini dengan mereka?]


Sella tak pernah tahu, jika perusahaan Andreas dan perusahaan Pratama memiliki hubungan yang sangat baik. Mencari perkara dengan salah satu sari mereka, sama halnya menceburkan diri dalam masalah yang sangat besar.

__ADS_1


[Tapi ... Sella tidak bisa membiarkan Kak Irwan di penjara, Pa.]


"Sel ... kamu berbicara dengan siapa? Dan, kamu menyebut nama siapa tadi? Irwan?" Tika muncul secara tiba-tiba di belakang Sella.


__ADS_2