
"Lepas! Apa-apaan ini. Kalian tidak tahu siapa aku!" berontak Katrina sesaat baru saja keluar dari taksi yang ia tumpangi, dan entah dari mana datangnya dua pria berpakaian serba hitam tiba-tiba menyergapnya.
Katrina tidak tahu siapa mereka. Tapi, melihat penampilannya, sepertinya dua orang itu adalah orang-orang bayaran yang sengaja di sewa oleh seseorang.
"Anda tidak akan bisa kabur lagi. Ayo, ikut kami!" Dua pria itu menyeret paksa Katrina. Wanita itu berteriak, meminta siapa pun untuk menolongnya, tapi sayangnya orang-orang yang ada di sana hanya menatapnya sekilas, lalu kembali pada aktivitasnya masing-masing.
"Tolong lepaskan aku. Kalau tidak, aku akan melaporkan kalian ke polisi!"
Mereka tetap tidak menghiraukan ancaman Katrina. Ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Katrina, barulah seorang pria berperawakan tinggi tegap keluar dari mobil itu
"Kau ..."
"Kenapa? Anda pikir bisa lari? Jangan mimpi!" ungkap pria tersebut, yang tak lain Alex Aditama.
Saat ini Alex menjadi orang pertama yang mengetahui siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa naas yang hampir menimpa Alexa, setelah berhasil memaksa Antika untuk membuka mulut.
Awalnya Antika memang terus menghindar, bahkan wanita itu berusaha membodohi Alex. Namun, pria itu berhasil mengancam Antika menggunakan keluarganya, hingga akhirnya Antika menyerah dan mau mengungkapkan semuanya yang ia ketahui mengenai mobil tersebut, termasuk berapa Katrina membayarnya.
"Apa maksudmu, a–aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan."
Alex berdecih sinis. Ia mendekati Katrina yang masih memasang wajah tanpa dosa.
"Jangan berpura-pura bodoh, Katrina. Kau tahu, aku sudah menemukan semua bukti tentang kejahatanmu. Kali ini, aku pastikan kau akan membusuk di penjara." Alex menata dua bodyguardnya yang terus siaga menunggu perintah darinya lagi.
__ADS_1
"Bawa wanita ini ke mobil, dan pastikan dia sampai ke kantor polisi dengan aman!"
"Baik, Tuan."
"Tunggu! Lepaskan aku! Hei, lepas!" Suara Katrina perlahan menghilang seiring dengan laju mobil yang membawanya semakin menjauh. Sementara Alex harus menghubungi Roy, dan menceritakan semua yang terjadi. Karena Roy yang lebih berhak tahu mengenai kejadian ini. Setelah ini Alex juga ingin menghubungi Samudera dan memberitahukan jika istrinya saat ini sedang ada di kantor polisi.
Di tempat lain ...
Usai mendapat kabar jika ternyata Katrina yang menjadi tersangka di balik kecelakaan yang menimpa Alexa, Samudera langsung bergegas membatalkan segala agenda kegiatannya hari ini.
Samudera menyuruh salah satu bawahan kepercayaannya untuk menghandle semua urusan kantor sebab dirinya akan segera meluncurkan menuju kantor polisi.
Jujur saja Samudera sangat terkejut mengetahui kabar ini. Apalagi kali ini Katrina benar-benar sudah melampaui batas karena sengaja ingin mencelakai Alexa.
Oma Maulin langsung meminta supir untuk mengantarnya menuju kantor polisi. Ia juga ingin memberikan pelajaran untuk wanita tak tahu diri itu. Wanita yang sudah membohongi seluruh keluarga besarnya mentah-mentah. Oma Maulin janji, tidak akan mengampuninya begitu saja setelah banyaknya kebohongan yang Katrina lakukan pada keluarganya.
.
.
.
Sementara di sebuah rumah petak berukuran sedang seorang gadis tengah mengomel tak jelas sebab di luar sana ada tamu yang tak di undang tiba-tiba mendatangi rumah kontrakannya.
__ADS_1
Tamu itu bukan hanya datang sendiri, melainkan membawa serta dua bodyguardnya hingga membuat orang-orang yang tinggal di sekitarnya mengira jika sang pemilik kontrakan pasti sedang terjerat hutang dengan seorang rentenir.
"Nih baju kamu, cepat pergi! Ganggu orang saja!" Shila sengaja melempar pakaian bersih yang baru saja ia setrika. Tapi pakaian itu justru mendarat tepat di wajah pria itu.
"Upsss ... sorry, sengaja!" Shila nyengir tanpa dosa, gadis itu pun siap menutup pintunya lagi, tapi gerakan pria di depan sana sigap menahan pintu itu dengan sebelah kakinya.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Shila saat Rey tiba-tiba menerobos masuk. Pria itu mengamati tempat tinggal Shila, lantas tanpa meminta ijin langsung mendaratkan tubuhnya pada sofa kecil yang ada di ruangan itu.
Shila panik, melihat pria di depan sana dengan santainya merebahkan diri di sofa. Sementara ia tahu, jika di kontrakan itu di larang menerima tamu lawan jenis. Bagaimana kalau sang pemilik kontrakan tiba-tiba datang dan memarahinya? Bagaimana jika dirinya sampai di usir dari tempat itu.
Benar saja, beberapa menit kemudian apa yang di takutkan Shila benar-benar terjadi. Sang pemilik kontrakan tiba-tiba datang. Wajah Shila sudah berubah pucat, ia berlari mendatangi sang ibu kontrakan dengan tergesa.
"Bu, maaf. Saya bisa jelasin. Dia ini sebenarnya ... "
"Tak apa, ini pengecualian buat kamu." Wanita berperawakan gemuk itu mengembangkan senyum pada bibir merah bergincunya.
Shila terkesiap. Antara percaya atau tidak, ia benar-benar tak tahu kenapa sang pemilik kontrakan tidak memarahinya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya sang pemilik kontrakan itu lagi.
"Hahh, menikah?" Shila menatap bingung pada wanita itu, lalu beralih pada pria yang tengah tersenyum menyeringai di sebelah sana.
"Iya, menikah. Bukankah dia calon suami kamu?"
__ADS_1