Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Jika Kau Lupa


__ADS_3

"Tapi, aku tidak mungkin membiarkan mereka meninggalkan tanah itu, Ma. Di mana lagi mereka akan tinggal." Alexa tergugu dengan bahu yang terguncang hebat. Isaknya masih terdengar meski tak sekencang tadi.


"Mama juga tidak bisa berbuat apapun, Xa. Itu udah keputusan dari Ayah. Kamu ngerti, kan?" Elisa mengusap punggung Alexa lembut. Baru kali ini Elisa melihat kegigihan Alexa demi mempertahankan sesuatu. Apa mungkin sepenting itukah mereka bagi Alexa?


"Aku tetap akan berusaha mempertahankan mereka, Ma. Meskipun, harus berhadapan dengan Ayah."


Elisa menarik napas berat. Memang pilihan yang cukup sulit. Jika Alexa tetap bersikeras, artinya sama saja menentang keputusan ayahnya sendiri.


"Tapi tanah itu memang hak milik perusahaan, Xa. Mereka hanya menempati karena awalnya lahan itu kosong." Elisa berusaha memberikan pengertian. Namun, alih-alih paham, Alexa justru semakin ngotot ingin mempertahankan.


"Aku tahu, Ma. Tapi, tidak bisakah keluarga kita melepas saja lahan itu, toh kita tidak mungkin bangkrut hanya karena gagal mendirikan mall di sana, kan?" Umur Alexa memang masih terbilang belia, tapi dirinya cukup paham seberapa banyak kekayaan yang di miliki keluarga besarnya. Mungkin lahan itu hanyalah secuil dari beberapa tanah milik keluarganya yang sampai saat ini belum di kelola.


"Entahlah. Mungkin Mama akan berusaha berbicara sama Ayah. Kamu sabar ya?"


Alexa mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi. Semangatnya bertambah berkali lipat mendengar ucapan sang mama yang ingin membantu. Alexa yakin, sang mama akan selalu bisa di andalkan jika menyangkut apapun dengan ayahnya.


"Makasih, Ma."


"Tapi kamu juga harus tahu, keputusan tetap di tangan Ayah." Elisa kembali memberikan pengertian pada Alexa sebelum pergi meninggalkan kamar gadis itu.

__ADS_1


.


.


.


"Kenapa Ayah malah menyerahkan tanggung jawab ini padaku?" Alexa memicing seraya menelisik wajah sang ayah yang berdiri dengan tenang di depannya.


"Lalu, ayah harus menyerahkan pada siapa? Kau tahu, jika kakakmu Rey belum kembali, jadi ayah memilihmu untuk menggantikan."


Alexa mengetatkan rahangnya. Tatapan tajam menyorot pada sang ayah yang seolah tengah mengejeknya. Bagaimana mungkin Alexa yang harus bertanggungjawab mengenai proyek itu, sedangkan dirinya menolak keras rencana pembangunan yang akan di lakukan di atas lahan tersebut.


"Bersikaplah profesional, Alexa. Ayah tahu, kau mampu." Roy menepuk pundak putrinya pelan.


"Kau memang putriku, Alexa. Tapi, di kantor aku adalah atasanmu. Itupun, jika kau lupa!" Roy menekankan setiap kalimatnya. "Bersiaplah, setengah jam lagi Nia akan menjemputmu ke sini," ucap Roy lagi sebelum berjalan meninggalkan ruangan Alexa.


Alexa termenung cukup lama, memikirkan langkah apa yang harus ia ambil saat ini. Sampai pintu terbuka, Nia muncul dengan membawa berkas yang akan mereka bahas dalam pertemuan nanti.


"Nona Alexa, apa Anda sudah siap?"

__ADS_1


Alexa memilih mengangguk, lalu mengikuti langkah Nia yang melangkah menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


. . . .


"Saya setuju. Saya juga yakin proyek ini akan selesai dalam lima bulan ke depan jika pengerjaannya lancar." Dari pihak klien yang akan mengelola kerja sama mengenai pembangunan mall baru di kawasan kumuh itu.


Dalam pembahasan kerja sama tadi Alexa lebih banyak diam, malah Nia yang akhirnya mewakilinya berbicara.


"Nona Alexa baik-baik saja, kan?" Nia menepuk pundak Alexa yang malah terlihat murung.


"Eh, saya baik-baik aja, kok, Mbak." Alexa memaksa senyum.


"Saya mau langsung pulang, apa Nona Alexa mau bareng saya?"


Jam kantor memang sudah habis. Nia pun sudah berkemas untuk langsung pulang ke rumah. Jadi, Nia memutuskan untuk mengajak sekalian Alexa untuk pulang.


"Mbak Nia duluan aja. Saya masih ada urusannya sama teman."


Alexa hanya berbohong, karena sebenarnya ia malas sekali untuk pulang ke rumah. Dan pasti nanti akan di tanya macam-macam oleh ayahnya.

__ADS_1


"Oh, ya udah. Saya pulang dulu, Nona," pamit Nia berjalan meninggalkan Alexa sendiri. Alexa kembali diam. Pikirannya tengah kacau balau. Tiba-tiba sebuah suara membuat Alexa tersentak dari lamunan,


"Cantik, kamu di sini juga?"


__ADS_2