Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Cowok Rese!


__ADS_3

"Kakak dari mana saja, kenapa telat?" Alexa langsung menunjukkan protes saat melihat kedatangan sang kakak yang sangat terlambat dari perkiraannya. Padahal Alexa tahu jika Rey menemui klien ayahnya hanya dua jam saja. Lantas, kenapa sampai sesiang ini baru tiba.


"Maaf, tadi Kakak ada sedikit urusan. Bagaimana keadaan kamu, Xa?" Rey langsung memeluk sang adik, setelah melepas jas yang ia kenakan. Namun, Alexa sontak memicingkan mata saat melihat sebuah noda yang menempel di baju Rey.


"Kak Rey abis ngapain, sih!" pekikan Alexa sontak membuat Rey terheran. Apalagi tatapan Alexa yang terus saja mengarah padanya.


"Maksud kamu apa sih, Xa? Kamu udah tau, kalau Kakak baru saja menemui klien Ayah, kan?"


Tapi Alexa malah menggeleng sambil menunjuk kearah pakaiannya. "Itu bekas apa? Kakak ketemu cewek, kan?"


Alexa yakin noda merah yang ada di pakaian Rey adalah bekas bibir seorang perempuan.


"Cewek? Enggak!" bantah Rey, meski dengan keadaan gugup.


"Kakak jangan bohong. Lalu, itu bekas bibir siapa? Nggak mungkin 'kan itu bekas bibir klien Ayah?" cecar Alexa lagi. Ia curiga kedatangan Rey yang terlambat pasti ada hubungannya dengan tanda merah itu.


'Sial! Kenapa juga aku sampai tidak tahu kalau gadis itu meninggalkan bekas bibirnya di pakaianku. Apa yang harus aku jelaskan sama Alexa.'


Tadi usai bertemu klien, Rey memang menemui gadis asing itu lagi di kamar sebelah. Rey tidak punya maksud apapun, ia hanya ingin memberikan sedikit hukuman untuknya. Tapi, Rey tidak menyangka saat ia baru saja masuk, Rey justru mendengar gadis itu tengah menjerit-jerit di dalam kamar mandi.


Rey yang panik dan takut gadis itu kenapa-kenapa langsung berlari dan mendobrak pintu kamar mandi. Tanpa di sangka gadis itu sedang meringkuk di pinggir bathtub sebab ketakutan lampu kamar mandi yang tiba-tiba saja padam.


'Aku yakin bekas bibir ini tertinggal saat aku menggendongnya dari kamar mandi tadi, bisik Rey kemudian.'


"Kakak ngomong apa tadi?" Alexa menelisik wajah Rey yang terlihat makin gugup. Rey merasa tidak perlu untuk menjelaskan mengenai gadis asing itu. Tidak penting juga, kan?


"Tadi Kakak nolongin orang yang pingsan. Mungkin nggak sengaja lipstiknya tertinggal di baju Kakak." Rey memang berbohong. Bahkan ia juga sudah meminta dua bodyguard sang ayah untuk tidak buka mulut mengenai kejadian yang menimpanya di hotel tadi.


"Oh, kirain Kakak abis ngapain." Akhirnya Alexa percaya, karena memang tidak mungkin Rey berani bertindak macam-macam. Apalagi jika menyangkut soal perempuan.


Tak lama pintu ruangan terbuka. Elisa dan Roy muncul dengan senyum yang mengembang menatap pada putra sulungnya itu.

__ADS_1


"Anak Mama akhirnya pulang juga." Elisa tidak bisa membendung kebahagiaannya ketika melihat putranya kini benar-benar berdiri di depannya.


"Gimana perjalanannya tadi, Rey?" Roy gantian memeluk sang putra yang kini tingginya sudah melebihi dirinya. "Gimana kabar Kakek dan Nenek di sana, mereka sehat, kan?" tanyanya lagi.


"Kakek sama Nenek sehat, Yah. Mereka titip salam buat Ayah sama Mama."


Sementara itu Elisa menyuapi Alexa karena sudah masuk jam makan siang. Obrolan dua pria itu masih terus berlanjut. Masih banyak yang harus mereka bahas, hingga Roy memutuskan untuk mengajak putranya duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Oh ya, Rey, bagaimana pembahasan bisnis tadi? Semua lancar, kan?" tanya Roy kemudian. Pria muda di depan sana nampak menghela napas panjang. Rey ingat dengan pembahasan bisnis yang ia lakukan di hotel bintang lima tadi. Dan, selama dua jam tadi Rey merasa waktunya hanya terbuang sia-sia. Apalagi wanita berpenampilan kurang bahan itu selalu saja berusaha mendekatinya, yang akhirnya membuat Rey risih sendiri.


"Rey ... kamu kenapa? Semua lancar, kan?" ulang Roy lagi menuntut jawaban putranya.


"Pembahasan bisnis macam apa yang Ayah maksud. Bahkan Rey pergi sebelum pertemuan itu selesai.".


.


.


.


Shila berjalan menyusuri gang sempit sampai akhirnya tiba di depan sebuah rumah petak berukuran sedang. Ia melangkah masuk dan langsung di sambut tatapan heran sahabatnya.


"Udah pulang aja. Gimana calon dari orang tua kamu, La, ganteng nggak?" Seorang gadis yang mungkin usianya seumuran dengan Shila langsung bangkit. Ia ingin tahu seperti apa calon yang di pilihkan oleh orang tua sahabatnya itu.


"Boro-boro ganteng, In, sumpah, ini parah banget!" Shila melepas high heels yang masih terpasang di kedua kakinya, lantas melemparnya begitu saja ke sudut ruangan.


"Maksudnya? Dia jelek, gitu?" cecar gadis bernama Indri tadi.


"Huhhhh ... gi–la, beneran. Dia bukan cuma Om-om, In. Tapi juga hampir aja perk0sa aku." Shila menyandarkan kepalanya pada sofa kecil di ruangan itu. Kedua matanya terpejam, tangan gadis itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Hahhh, seriusan? Kok bisa sih, orang tua kamu pilihin calon yang kayak gitu? Terus, kamu belum di apa-apain, kan?" Indri sampai memeriksa tubuh Shila, takut saja ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hampir. Untungnya sih belum terjadi."


Indri menarik napas lega sebab sahabatnya bisa selamat dari percobaan pemerkosaan itu. Beruntung juga Shila menabrak dan menumpahkan minuman yang ia bawa di jas pria asing itu. Hingga akhirnya Shila di tarik ke dalam salah satu kamar sebelum pria yang mengejarnya berhasil menemukan keberadaannya.


"Lalu, itu kamu bawa apa?" Indri melirik sebuah paper bag berwarna coklat yang tergeletak di atas lantai. Shila baru ingat jika paper bag itu berisi pakaian kotor milik pria asing tadi.


"Baju kotor," ungkap Shila.


"Baju kotor? Punya kamu?"


Shila langsung menggeleng. Nyatanya pertemuannya dengan pria asing tadi tak kalah menyebalkan. Shila jadi harus membawa serta mencuci pakaian itu sampai benar-benar bersih, dan sang pemilik akan mengambilnya dua hari lagi.


"Itu punya cowok rese yang aku temui di hotel," ucap Shila lagi.


"Hahhhh, cowok di hotel? Ka–kamu nggak salah kan, La. Kamu abis ngapain sama cowok itu di sana?"


Pletak!


Shila langsung menjitak kepala Indri. Pasti gadis itu sudah berpikir yang macam-macam tentang dirinya.


"Aku nggak ngapa-ngapain. Itu cuma ..."


Tring!


Sebuah notif muncul pada ponsel milik Shila. Gadis itu langsung meraihnya, lantas melihat nomor baru yang tertera di sana.


"Siapa sih?"


[Jangan lupa, dua hari lagi. Pakaianku harus benar-benar sudah bersih!]


Isi pesan itu sontak membuat wajah Shila berubah. Gadis itu mengeram kesal, sambil meremas ponsel dalam genggamannya.

__ADS_1


"Dasar cowok rese!"


__ADS_2