
"Jadi benar, kalung itu milik Alexa, bukan pemberian dari ibumu?"
Katrina terkesiap melihat Samudera yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya. Pria yang masih mengenakan stelan jas rapi itu menyunggingkan senyum misterius sekali yang entah apa artinya.
"Apa maksud kamu, Mas. Kalung itu memang pemberian dari ibuku." Katrina masih mengelak. Tidak tahu saja jika Samudera telah mengetahui fakta yang sebenarnya. Bahkan Samudera sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri inisial huruf A yang berada dalam liotin kalung itu.
"Apa yang kau maksud ini?" Samudera mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas miliknya. Katrina sontak membeliak, menatap benda yang tak lain kalung yang ia tinggalkan pada pembuat perhiasan tadi.
"Dari mana Mas dapatkan benda itu? Kembalikan!" Katrina berusaha merebut kalung itu dari Samudera, tapi sia-sia saja karena pria itu sudah lebih dulu berhasil menyembunyikannya dari Katrina.
"Kenapa kau ngotot sekali ingin memiliki benda ini? Sebenarnya ada rahasia apa?" Samudera curiga ada yang sesuatu yang di sembunyikan Katrina. Bagaimana bisa benda berharga milik Alexa bisa ada pada Katrina.
"Kalung itu benar-benar milikku, Mas. Tolong kembalikan!"
"Milikmu?" Samudera menatap Katrina dengan dahi yang mengernyit. "Jika benda ini milikmu, kenapa ada inisial huruf A di dalamnya?"
"Itu karena ... "
"Karena kalung ini memang milik Alexa. Jadi, aku akan mengembalikan pada pemiliknya."
"Sebenarnya aku tak sengaja menemukan kalung itu. Aku pikir tidak ada pemiliknya, jadi aku simpan saja."
"Kau yakin?" Samudera menatap Katrina tak percaya. Ia lebih tahu bagaimana sifat wanita itu yang pandai sekali bersilat lidah.
"Ten–tu saja. Untuk apa aku berbohong," balas Katrina dengan wajah gugup.
__ADS_1
.
.
"Nyonya, tunggu!"
Hari ini pagi sekali pria yang pernah menjabat sebagai kepala rumah sakit sengaja mendatangi kediaman Oma Maulin untuk memberi tahu sesuatu. Pria itu mengatakan bagaimana ia pernah beberapa kali bertemu Katrina secara tak sengaja.
"Apalagi? Anda ingin bilang kalau menantu saya doyan mengencani pria-pria muda, begitu?" balas Oma Maulin yang sudah mulai kesal. Tidak mungkin Katrina yang selama ini ia kenal sebagai wanita yang baik bisa melakukan perbuatan serendah itu.
"Sungguh, Nyonya. Untuk apa saya berbohong. Lagipula apa gunanya saya membohongi Anda. Bahkan saya pernah melihat menantu Anda bersama pria yang berbeda beberapa kali," ucap pria itu lagi masih berusaha meyakinkan Oma Maulin.
"Itu karena menantu saya wanita pebisnis. Mereka hanya teman bisnis Katrina," jelas Oma Maulin masih sangat membela Katrina.
"Hotel?" Oma Maulin malah terbahak kencang. Tentu saja ia tak kaget jika Katrina ada di sana. Keluarganya memang punya beberapa hotel mewah di kota ini. "Anda pasti sudah salah paham. Tolong ... jangan pernah mengatakan sesuatu hal buruk mengenai menantu saya."
"Tapi, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan."
Oma Maulin menarik napas pelan. masih mencoba sabar menghadapi tamu tak di undang yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya. "Apalagi? Saya tidak punya banyak waktu. Jika tak penting sekali sebaiknya Anda segera pergi!"
Oma Maulin sudah sangat kesal. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi mendengar omong kosong dari pria itu.
"Saya yakin sekali jika gadis yang menolong Anda kala itu bukan wanita yang saat ini menjadi menantu Anda."
"Maksud Anda apa?" Oma Maulin sampai mengeram kesal mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"Anda telah salah orang," jelasnya lagi.
"Cukup!" Oma Maulin langsung bangkit dan menatap sang pria dengan tajam. "Pergi! Dan jangan katakan apapun lagi!"
"Tapi, Nyonya ... "
"Satpam .. !"
Tak lama seorang pria berbadan tinggi besar datang dengan tergesa. Oma Maulin menyuruh satpam itu untuk segera menyeret pria yang ada di depannya.
"Tolong dengarkan penjelasan saya dulu, Nyonya. Saya benar-benar mengatakan yang sebenarnya."
"Usir pria ini, dan pastikan jangan sampai kembali menginjakkan kakinya di rumahku!"
"Baik, Nyonya."
Meski terus memberontak, tapi satpam tetap memaksa pria itu untuk segera keluar dari rumah Oma Maulin.
"Tapi .. apa benar, gadis yang menolongku bukan Katrina, lantas kenapa Katrina diam saja mengenai hal ini?" Oma Maulin bermonolog sendiri sepeninggalan pria tadi. Apa benar selama ini ia telah salah sangka, dan menganggap Katrina sebagai gadis yang menolongnya waktu itu.
Oma Maulin meraih ponsel di atas meja. Dalam hitungan detik panggilan sudah tersambung dengan seseorang di seberang sana.
[Tolong cari informasi mengenai gadis yang membawaku ke rumah sakit dua tahun lalu. Dan jangan lupa, cek juga CCTV yang ada di depan lift mall XX!]
[Baik, Nyonya.]
__ADS_1