
[Bagaimana, apa sudah ada perkembangan mengenai penyelidikan tentang kasus yang menimpa putriku?]
Seminggu setelah peristiwa kecelakaan itu, Roy langsung ikut turun tangan sendiri untuk menyelidiki kasus yang hampir menewaskan putrinya. Tentunya, dengan bantuan dari Alex yang juga sudah menyuruh beberapa orang bayarannya untuk ikut serta.
[Begini, Tuan. Dari hasil penyelidikan, kami sudah menemukan siapa pemilik mobil yang dipakai tersangka.]
Roy langsung menajamkan pendengarannya. Ia melirik kearah Alex yang juga tak sabar mendengar kabar itu.
[Katakan!] ucap Roy menuntut jawaban orang dari seberang telepon.
[Mobil itu milik seorang wanita bernama Antika, Tuan. Tapi kabar yang kami dengar jika mobil itu sudah lama ia jual.]
[Lalu ...]
[Kami baru akan menyelidikinya lagi, karena wanita bernama Antika saat ini sudah pindah ke luar kota.]
[Jika sudah ada perkembangan lagi, kau harus secepatnya menghubungiku!]
Roy menghela napas berat. Ternyata cukup sulit juga menemukan siapa pelaku di balik kejadian naas yang menimpa Alexa. Meski saat ini pihak polisi sudah menahan gadis yang pernah berkelahi dengan Alexa saat itu, tapi tetap saja mereka tidak bisa melakukan tindakan apapun sebab belum ada bukti-bukti yang cukup kuat.
"Kau tenang saja, mereka pasti akan segera menemukan siapa pelaku sebenarnya. Dan aku akan menyuruh beberapa orang untuk tetap menjaga Alexa ke mana pun ia pergi." Alex paham bagaimana perasaan Roy saat ini. Ia pasti masih mengkhawatirkan keamanan Alexa, sebab pelaku yang sebenarnya masih bebas berkeliaran di luar sana. Bisa saja, mereka tengah merencanakan sesuatu yang lebih berbahaya lagi buat Alexa.
.
.
__ADS_1
.
Sementara di tempat lain, Katrina tengah memberesi beberapa barang berharganya dan ia masukkan jadi satu kedalam koper. Tak lupa semua uang yang ia simpan di dalam brankas, turut ia simpan ke dalam wadah berbentuk persegi panjang itu. Hingga sang ibu yang melihatnya pun terheran-heran.
"Sebenarnya kau mau pergi ke mana, Katrina? Kenapa membawa semua barang-barangmu?"
Katrina langsung beralih pada sang ibu yang baru saja memasuki kamar.
"Ibu juga harus membereskan semua barang-barang Ibu, kita akan pergi secepatnya dari sini," ungkap Katrina yang langsung di balas gelengan kepala oleh ibunya.
"Ini rumah Ibu. Ibu tidak akan pergi ke mana-mana," jawab wanita bertubuh sedikit gemuk itu.
"Tapi kita di sini sudah tidak aman lagi, Bu. Pokoknya Ibu harus ikut sama aku. Kita akan pergi dari sini, dan memulai kehidupan di tempat yang baru." Katrina memegang tangan ibunya, tapi wanita itu justru menyentaknya dengan kasar.
"Lalu, bagaimana dengan suamimu? Kau jangan bodoh, Katrina, apa kau akan melepaskan Samudera begitu saja?" Sang ibu melotot mendengar rencana konyol putrinya.
"Tidak! Rumah ini adalah hadiah dari suamimu. Ibu akan selamanya tinggal di sini. Dan mengenai masalah itu, bukankah Ibu sudah katakan, kau tak perlu khawatir. Mereka tidak akan tahu."
Katrina berdecak kesal. Ibunya memang tidak akan tahu saat ini siapa yang sedang mereka hadapi. Katrina merasa hidupnya terancam jika memaksa terus tinggal. Jadi, Katrina memutuskan untuk pergi lebih awal sebelum semuanya terlambat.
"Rumah ini bisa di jual, Bu. Nanti uangnya bisa Ibu belikan lagi yang baru. Sekarang Ibu siap-siap ya, sebentar lagi taksi yang aku pesan akan jemput kita."
"Tidak! Kau saja yang pergi. Ibu akan tetap di sini!"
Katrina tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Sejak tadi ia sudah berusaha membujuk sang ibu, tapi tetap saja wanita itu lebih keberatan meninggalkan rumahnya daripada memikirkan keselamatan putrinya sendiri.
__ADS_1
"Oke, kalau Ibu memang tidak ingin ikut. Aku akan pergi sendiri."
Katrina tak perlu pusing, jika hanya keluar dari rumah ibunya. Toh selama ini ia sudah berhasil mengumpulkan pundi-pundi uang yang di dapat dari keluarga Samudera.
Mungkin di tempat baru nantinya Katrina akan menggunakan uang itu untuk membuka sebuah usaha. "Tapi tolong, jangan katakan apapun jika Samudera mencariku ke sini."
Katrina menyeret koper miliknya, mengabaikan panggilan sang ibu yang berusaha menahan kepergiannya. Tak lama terdengar suara dering ponsel dari dalam tas milik Katrina.
[Ya ... ]
[Dari kemarin ada yang datang ke sini, apa yang harus aku katakan?] tanya seseorang dari seberang telepon.
[Apa kau tidak kenal siapa mereka? Maksudku, kau bisa cari tahu 'kan siapa mereka.]
[Dia menanyakan mobil yang kau pinjam. Tapi aku bilang kalau mobil itu sudah lama sekali aku jual.]
[Lalu?]
[Mereka tidak menanyakan apapun lagi]
[Ya sudah. Jika ada yang bertanya lagi, katakan saja jika mobil itu memang sudah lama kau jual. Aku akan mentransfer bayaranmu.]
[Baiklah.]
Katrina menyimpan benda pintar itu lagi, lalu melangkah tergesa menuju taksi yang sudah menunggu di halaman rumah.
__ADS_1
"Kita langsung ke bandara saja, Pak!"
"Baik, Nyonya."