
[Iya, iya. Papa juga sudah usaha, Sel. Bahkan papa sudah sewa pengacara mahal untuk mengurus kasus temanmu itu.] Baskoro memijit pelipisnya yang seketika berdenyut. Pria dengan perawatan sedikit tambun itu sampai pusing tujuh keliling menghadapi desakan putrinya mengenai pembebasan Irwan yang sampai sekarang belum juga berhasil.
[Pokoknya Papa harus bisa bebasin Kak Irwan. Sella nggak mau tahu!] ucap Sella dari seberang telepon. Lantas detik selanjutnya sambungan telepon langsung terputus secara sepihak.
"Dasar, anak tidak tahu di untung!" Baskoro menghentak ponsel sedikit kasar. Mulutnya masih mengomel tidak jelas saat mendengar suara ketukan pintu yang lumayan keras.
"Kau ingin aku pecat, hahh! Dasar tidak sopan!"
Klak,
Pintu terbuka lebar, kedua mata Baskoro sontak membola ketika melihat siapa orang yang memasuki ruangannya.
"Anda?"
"Kau masih keras kepala juga rupanya," ucap pria berperawakan tinggi gagah. Tatapan matanya yang tajam seolah siap mencabik siapapun yang ada di depannya.
"Silahkan duduk Tuan Arya. Kiranya ada sesuatu yang penting hingga Anda sampai datang ke mari." Baskoro berusaha bersikap setenang mungkin, meski hatinya sudah was-was sendiri menatap gelagat kurang bersahabat dari pria itu.
"Apa ucapanku kemarin kau kira main-main?" ucap pria yang tak lain adalah Arya Pratama, putra tunggal dari pemilik Pratama Group.
"Saya hanya ingin membantu teman dari putri saya, Tuan. Apa itu salah?"
"Membantu? Apa kau sadar orang yang kau bantu itu seorang penjahat? Selain menculik, dia bahkan nyaris merenggut kehormatan seorang gadis!" ungkap Arya dengan suara yang meninggi.
"Tapi, Tuan. Saya hanya ... "
Brakkk!
__ADS_1
Arya menggebrak meja cukup kencang sampai Baskoro terjingkat ke belakang. Ia tak menyangka jika pria di depannya akan sangat murka akan jawabannya.
Nampaknya Baskoro memang sengaja ingin bermain-main dengan Arya. Buktinya pria itu malah sengaja menyewa seorang pengacara yang cukup handal untuk melawannya.
"Baiklah. Itu pilihanmu. Tapi kau harus ingat, jangan hanya karena kau membela putrimu, kau akan menyesal setelah ini!" Arya bangkit lantas mengayun langkahnya menuju pintu. Tinggallah Baskoro yang mematung di tempatnya dengan pikiran kacau.
.
.
.
"Mas, apa ini nggak berlebihan. Maksudku, Mas nggak harus menarik seluruh saham yang ada di perusahaan itu, kan, hanya karena masalah ini?" Rengganis terus mengikuti langkah suamiya hingga pria itu sampai di dalam kamar.
"Apa maksudmu? Kau tahu ini menyangkut Alexa, dia putri Roy." Arya melepas kain yang melilit di leher cukup kasar. Ia paham maksud ucapan istrinya. Haruskah melibatkan kerjasama juga dalam masalah pribadi. Padahal hanya di berikan peringatan saja rasanya cukup.
Arya langsung menghela napas kasar. Ia tarik tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat. "Percayalah, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Elisa. Itu semua sudah masa lalu. Aku hanya mencintaimu," ungkap Arya dengan wajah serius.
"Bukan seperti itu, Mas." Rengganis mengurai pelukan suaminya. Ia tatap wajah Arya yang masih terlihat tampan meski dengan usia yang tak muda lagi. "Aku percaya sama kamu, Mas."
"Lalu, apa yang kau khawatirkan? Baskoro pantas mendapatkannya. Apa kau ingat, dulu Roy hampir kehilangan nyawanya karena membantu kita? Dan sekarang, aku ingin sedikit bisa membantunya."
Bagaimana mungkin Rengganis bisa melupakannya. Kejadian itu bahkan masih membekas dengan jelas di ingatan. Meski, kejadian itu sudah berlalu cukup lama.
"Baiklah. Aku percaya padamu." Mereka saling berpelukan. Namun tak lama aktivitas mereka harus terganggu karena suara ketukan pintu dari luar.
"Maaf, Nyonya, makan malamnya sudah siap," ucap bibik pelayan yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Makasih, Bik. Sebentar lagi kami akan turun," balas Rengganis.
"Baik, Nyonya. Saya pamit ke belakang lagi."
"Bik, tunggu. Tolong panggilkan Haidar sekalian ya?"
Bibik pelayan tadi nampak kebingungan, pasalnya laki-laki muda itu sejak siang tadi pamit keluar dan sampai saat ini belum kembali ke rumah.
"Eh, anu Nyonya ... "
"Kenapa, Bik?"
"Den Haidar belum pulang, Nyonya."
Arya mendengus mendengar putranya yang jarang sekali ada di rumah."Ke mana bocah itu, kenapa suka sekali keluyuran."
"Ya udah, Bibik kembali aja ke dapur, biar Haidar jadi urusan saya."
Pelayan tadi mengangguk patuh, lantas pamit dari hadapan kedua majikannya. Sedangkan Rengganis langsung sigap menuju kamar mandi menyiapkan air untuk Arya.
"Kau turun saja lebih dulu, aku masih ada urusan sebentar," ucap Arya pada sang istri.
"Baiklah."
Setelah Rengganis pergi Arya langsung meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas.
[Kau urus penarikan saham pada perusahaan Baskoro. Besok pagi harus selesai!] ucap Arya tanpa basa-basi.
__ADS_1
[Baik, Tuan.]