Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Di pecat!


__ADS_3

"Wan, kamu di panggil ke ruangan Pak Bos."


Irwan yang baru saja melangkah menuju pantry untuk membuat kopi terpaksa memutar langkah dan menghampiri Edi yang berdiri di depan pintu. Irwan mengikuti langkah Edi dengan tatapan bingung,


"Ada apa ya, Di. Kayaknya aku nggak buat salah deh."


Edi hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Laki-laki berperawakan gemuk itu segera meninggalkan Irwan yang berbelok menuju lift yang akan mengantarnya ke ruangan sang bos, sedangkan dirinya terus melangkah mendekati para teman-temannya yang tengah asik bergosip di salah satu ruangan.


"Eh iya, nggak nyangka banget ya Irwan kayak gitu orangnya."


"Mana jelas banget lagi muka dia pas menghadap ke kamera."


"Eh, tapi kira-kira siapa sih ceweknya, kayaknya sengaja di tutupi."


Edi yang mendengar nama Irwan beberapa kali di sebut pun penasaran. Meraih ponsel yang sejak tadi menjadi pusat perhatian mereka dan melihat sendiri berita seperti apa yang sedang mereka tonton.


"Eh, ngapain sih ganggu aja!" sembur sang pemilik ponsel.


"Lho, ini Irwan, kan?" Edi setengah tak percaya melihat berita apa yang sedang viral di antara karyawan kantor. Di sana terdapat beberapa foto Irwan tengah satu ranjang dengan seorang wanita yang wajahnya sengaja di tutupi.


"Ini pasti ada yang sengaja ingin memfitnah Irwan. Aku percaya Irwan tidak mungkin melakukan hal serendah itu," bisik Edi namun tetap terdengar oleh orang yang berdiri di sebelahnya. Irwan yang selama ini ia kenal sebagai laki-laki yang cukup baik, tidak pernah neko-neko tidak mungkin melakukan perbuatan memalukan seperti itu, kan?


"Fitnah apaan sih? Lagian ngapain juga ada yang mau fitnah dia, kurang kerjaan amat!"


Memang benar sih. Tidak ada alasan sama sekali bagi mereka untuk tidak menyukai Irwan. Laki-laki itu memang di kenal ramah pada siapa saja, dan yang Edi tahu Irwan tidak pernah sama sekali terlibat masalah dengan siapapun.


"Muka doang yang polos, kelakuannya ternyata gini!" ucap salah satu dari mereka yang ikut melihat foto-foto Irwan yang sudah tersebar di antara karyawan kantor.

__ADS_1


Sementara sepanjang perjalanan menuju ruangan sang bos Irwan cukup bingung melihat tatapan para teman sekantornya yang terlihat aneh saat tak sengaja berpapasan dengannya. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memandangnya dengan tatapan sinis. Irwan yang tidak merasa melakukan kesalahan tidak ambil pusing, mungkin saja ada tugas penting hingga sang bos tiba-tiba memanggilnya.


"Lama amat. Pak Bos udah nungguin dari tadi tuh!" Sang sekretaris yang biasanya selalu ramah pun kini mendadak sinis. Irwan jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa sikapnya mendadak berubah.


Klek,


"Permisi, Pak."


"Masuk!"


Terdengar suara sahutan dari dalam sana. Irwan melangkah perlahan mendekati sang bos dengan jantung yang berdebar kencang.


"Kamu tahu apa alasan kamu saya panggil ke sini?" Sang bos mulai membuka percakapan. Irwan menelan salivanya dengan susah payah merasakan aura yang mencekam di ruangan itu.


"Ti–tidak, Pak. Memangnya ada apa ya, Pak?" Meski merasa tidak melakukan kesalahan, Irwan tetap saja merasa ngeri saat menangkap gelagat kurang ramah dari pria yang berdiri di depannya.


Pak bos melempar ponsel dari saku celananya ke hadapan Irwan. Irwan tampak diam dengan beribu pertanyaan di benaknya,


"Ini apa Pak Bos?"


"Kamu bisa jelaskan ini apa?"


Irwan meraih ponsel, dan betapa terkejutnya saat melihat foto-foto dirinya yang tengah berada di kamar apartemen bersama Katrina kini terpampang jelas di sana.


"Sa–ya bisa jelaskan, Pak."


"Apa yang ingin kamu jelaskan, hahh! Kamu tahu, apa yang akan terjadi jika foto-foto itu sampai ke rekan bisnis kita. Bisa hancur nama baik perusahaan ini."

__ADS_1


"Tapi, saya benar-benar tidak ..."


"Kau ingin mengelak jika itu bukan kamu? Cih, memalukan!"


Irwan tidak bisa membela diri lagi karena memang dirinya yang ada di foto itu. Namun dalam hati Irwan juga mengutuk orang yang telah tega menyebarkan foto-foto itu hingga dirinya harus mendapatkan amukan dari sang bos.


'Pantas aja tadi semua orang melihatku dengan tatapan aneh.'


"Mulai hari ini kamu saya pecat!" ucap Sang Bos seketika.


"Maafkan saya, Pak. Tolong jangan pecat saya." Irwan luruh dari tempatnya berdiri. Bagaimanapun ia sangat membutuhkan pekerjaan ini karena tak selamanya ia akan bisa mengharapkan pemberian dari Katrina.


"Pergi kamu! Saya muak melihat wajahmu!" ucap pria itu sambil menunjuk letak pintu keluar.


"Saya mohon, Pak. Jangan pecat saya. Bagaimana nasib saya nanti?" Irwan masih mengiba, tapi malangnya sang bos tidak peduli sama sekali.


[Cepat datang ke ruanganku!] Pak Bos terdengar menghubungi seseorang dari sambungan telepon. Tak sampai lima menit dua orang Satpam datang dengan langkah cepat masuk ke dalam ruangan itu.


"Seret dia, dan jangan biarkan dia menginjakkan kakinya di kantor ini lagi!"


Dengan sigap dua satpam tadi menyeret Irwan keluar dari ruangan sang bos.


"Sial! Breng–sek!" Irwan memaki dengan sumpah serapah setelah di usir paksa dari kantor yang sudah tiga tahun belakangan ini menjadi sumber penghasilannya. Meski masih ada Katrina yang mau membiayai hidupnya, tapi tak selamanya wanita itu akan bersamanya kan? Bagaimana jika suatu saat Katrina bosan dan membuangnya. Tidak! Sedangkan Irwan masih harus menanggung biaya sekolah dua adiknya di kampung.


Irwan yakin sekali jika Alexa yang berada di balik kekacauan ini. Karena hanya gadis itu yang memiliki foto-foto dirinya yang tengah bersama Katrina, dan sebab itu juga Irwan terpaksa terusir dari apartemen yang ia tempati dulu.


"Padahal aku udah ikuti apa mau kamu. Tapi kenapa kamu malah ingkar janji. Awas kamu, Xa!" desis Irwan dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


__ADS_2