Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Alexa Di Culik


__ADS_3

"Maaf. Di luar ada pria bernama Alex memaksa ingin bertemu dengan Tuan Sam." Salah satu staf terpaksa mengetuk pintu ruangan meeting, padahal saat ini Samudera sedang sibuk-sibuknya dengan para klien membahas suatu proyek besar di dalam ruangan tersebut.


"Kau tahu saat ini Tuan Sam sedang sibuk!" Devi menatap penuh kesal dengan bawahnya itu. Bisa tidak sih, tunggu sampai urusan ini selesai! makinya dalam hati.


"Tapi, orang itu sangat menyeramkan, Mbak. Dia bahkan mengancam akan menghancurkan seluruh gedung ini jika tidak di ijinkan untuk masuk." Wanita itu menunduk dengan wajah sedikit pucat. Ia membayangkan bagaimana pria bernama Alex tadi sempat membuat kekacauan karena merasa jalannya di halangi.


"Kalau seperti ini, pasti aku lagi yang bakalan kena!" Devi memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.


Suasana di dalam ruangan itu memang sedikit panas, di tambah gangguan yang baru saja datang, membuat Samudera mendesahkan napas berkali-kali saat melihat kedatangan Devi lagi.


"Kau tahu bukan, kalau aku sangat membenci gangguan, apalagi saat seperti ini!" Samudera berucap ketus, bahkan tanpa menatap pada wajah Devi yang kini berdiri di sampingnya.


"Maaf, Tuan, tapi di luar ada Tuan Alex. Dia mencari Anda," ucap Devi dengan tatapan takut.


"Alex ...?" tanya Samudera dengan kening yang berkerut.


"Alex Aditama, Tuan."


"Hahh ...?" Tentu saja Samudera bingung. Untuk apa Alex Aditama ingin menemuinya, apa ini ada hubungannya lagi dengan Alexa? Ya ... Samudera tahu jika pria bernama Alex itu tak lain adalah paman dari Alexa Andreas.


"Kau urus meeting ini, aku akan menemuinya sebentar."


"Tapi, Tuan ... " Ucapan Devi hanya menggantung di udara, karena Samudera sudah lebih dulu melangkah keluar dari ruangan meeting, hingga menimbulkan sedikit kegaduhan di sana.


"Baiklah, kita lanjutkan. Sampai mana tadi?" Devi terpaksa ambil alih posisi sang bos tadi. Tapi, mereka malah nampak saling pandang dengan wajah kurang meyakinkan melihat siapa yang kini menggantikan posisi Samudera.


"Bisa kita lanjutkan? Atau, meeting ini kita bubarkan saja. Tapi, saya yakin proyek ini akan gagal, dan kalian sendiri yang akan mengalami kerugian!" ucap Devi dengan tatapan kesal.


"Lanjutkan saja, Mbak."


Di susul anggukan dari beberapa anggota lain. Barulah Devi melanjutkan pembahasan yang tadi, meski dengan mood yang benar-benar buruk.

__ADS_1


.


.


Samudera menuju ruangan di mana pria bernama Alex Aditama itu menunggunya. Mendorong pintu pelan, Samudera melihat pria itu sedang duduk di sebuah sofa ruangan itu.


"Selamat siang, Tuan Alex."


Pria itu langsung bangkit ketika melihat kemunculan Samudera.


"Tidak usah basa-basi. Aku datang ke sini bukan untuk berkunjung." Alex melipat kedua tangannya di depan dada, menatap pada Samudera yang berdiri dengan tenang di depan sana. "Katakan, di mana kau sembunyikan Alexa?"


"Silahkan duduk, Tuan Alex, dan sekali lagi tolong jelaskan, karena saya sama sekali tidak mengerti apa maksud Anda."


"Alexa menghilang, semalam dia tidak pulang. Dan anak buahku menemukan mobil Alexa di pinggir jalan. Anda sudah paham dengan ucapanku, kan?"


Samudera berusaha mencerna ucapan pria itu. Alexa menghilang? Tapi, kenapa anak buahnya tidak melapor mengenai hal ini?


"Tunggu, Tuan. Saya sungguh ..."


"Saya tidak menyembunyikan Alexa, Tuan Alex. Saya memang menugaskan seseorang untuk selalu membuntutinya, tapi saya tidak pernah ada niat untuk mencelakai Alexa, apalagi sampai menculiknya," ungkap Samudera dengan dada yang sama-sama kembang kempis. Pikirannya pun mendadak kacau. Jika Alexa hilang, lalu apa yang di lakukan anak buahnya.


"Istrimu. Aku yakin istrimu punya niat buruk pada Alexa. Bukankah dia sangat membencinya."


"Katrina ... " Samudera mengepalkan kedua tangannya. Ia pun sepemikiran dengan Alex. Apa mungkin semua ini ulah Katrina. Tapi, jika memang benar, Samudera tidak akan memaafkan Katrina jika sesuatu yang buruk terjadi pada Alexa.


"Aku bersumpah, jika sesuatu yang buruk sampai menimpa keponakanku, kalian berdua akan jadi orang pertama yang akan aku cari!" ancam Alex sebelum melangkah keluar dan meninggalkan suara pintu yang di banting dengan sangat keras.


.


.

__ADS_1


.


Sementara di kediaman Andreas, sejak tadi malam sudah terjadi kekacauan. Elisa terus meraung menangisi kehilangan putrinya yang sampai saat ini keberadaan belum di ketahui. Elisa terus mendesak Roy untuk melaporkan hilangnya Alexa ke polisi.


"Tenanglah, El. Polisi juga sedang berusaha menemukan Alexa. Semoga secepatnya ada kabar baik dari mereka." Roy berusaha menenangkan istrinya, meski ia sendiri juga di landa rasa cemas yang teramat sangat.


"Bagaimana aku bisa tenang, Kak. Gimana kalau Alexa benar-benar di culik, terus mereka ... " Tangis Elisa semakin kencang, membayangkan kemungkinan terburuk yang menimpa Alexa.


"Jangan berbicara yang tidak-tidak. Aku yakin Alexa akan baik-baik saja." Roy menarik tubuh sang istri dalam dekapannya.


Tak lama Alex datang dengan sang istri untuk melihat keadaan Elisa yang dari semalam tidak mau keluar kamar, bahkan Elisa tidak mau makan apapun sejak pagi tadi.


"Kamu yang sabar ya, El. Aku yakin Alexa pasti akan baik-baik saja." Airin mengusap punggung Alexa lembut. Sedangkan Alex menyingkir karena salah satu anak buahnya menghubungi,


[Bagaimana, apa kalian punya kabar mengenai Alexa?] tanya Alex dengan tidak sabar. Ia sangat berharap ada titik terang tentang di mana keberadaan gadis itu.


[Kami menemukan tas serta barang-barang Nona Alexa di tempat pembuangan sampah, Tuan, dalam keadaan ponsel yang hancur,] ungkap orang dari seberang telepon.


[Apa!!] Alex sampai melotot mendengarnya. Pantas saja ia tidak bisa melacak keberadaan Alexa lewat GPS yang sengaja ia pasang di ponsel milik gadis itu. Ternyata mereka lebih cerdik daripada yang Alex kira.


[Jadi maksudmu, mereka sengaja membuang barang-barang milik Alexa untuk menghilangkan jejak?]


[Kemungkinan seperti itu, Tuan.]


[Cepat sisir area itu, aku akan segara datang ke sana!]


Klik,


Alex mematikan sambungan telepon. Tanpa di sangka Elisa sudah berdiri di belakang Alex dan mendengar semua percakapan Alex dengan orang suruhannya tadi.


"Kau bilang apa tadi, Alexa ..."

__ADS_1


Brukkk!


Elisa langsung jatuh dalam keadaan tak sadarkan diri.


__ADS_2