
"Kak Caca ...!" Mereka serempak memekik girang melihat gadis yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Ada sekitar lima orang anak mendekat kearah Alexa, dan mengambil alih barang yang gadis itu bawa dari dalam mobil.
"Gimana kabar kalian? Maaf ya, Kak Caca baru sempat ke sini," ungkap Alexa sambil membawa langkahnya mengikuti para bocah itu.
"Nggak apa-apa, Kak. Kami baik-baik aja. Kak Caca sehat, kan?"
Alexa tersenyum haru. Meski ia sudah mendapatkan segalanya dari keluarganya, tapi di sinilah Alexa menemukan arti ketulusan dari para orang-orang yang kehidupannya tak seberuntung dirinya.
"Kak Caca juga baik. Oh ya, kalian masih sekolah seperti biasa, kan?"
"Masih, Kak. Kami mau pandai kayak Kak Caca. Makasih ya, Kak, udah baik sama kita."
Kedua mata Alexa berkaca-kaca menatap wajah polos para anak-anak itu. Cairan bening sudah berdesakan di sudut matanya. Mereka lantas berteriak memanggil para penghuni lain di daerah kumuh itu. Selanjutnya mengobrol sambil menikmati makanan yang di bawa Alexa dengan sesekali melempar canda.
"Kak Caca pasti sibuk ya, makanya jarang ke sini?" tanya seorang bocah laki-laki berusia enam tahun. Di antara yang lain, Diki memang terbilang paling dekat dengan Alexa, bahkan pertemanan mereka sudah terjalin beberapa bulan sebelum Alexa mengenal tempat kumuh itu.
"Kak Caca 'kan harus kerja, Diki. Nggak bisa dong tiap hari ke sini." Ibu Diki yang menjawab. Semua penghuni yang ada di sana sangat menghormati Caca, dari gadis itulah mereka memiliki ketrampilan mengolah barang bekas yang mereka kumpulkan untuk di jadikan kerajinan tangan hingga bisa menghasilkan uang sendiri.
Sebenarnya pemukiman kumuh itu sudah ada sejak dulu. Namun, baru beberapa bulan terakhir ini kehidupan mereka ada sedikit perubahan. Anak-anak yang tadinya tidak sekolah dan hanya membantu pekerjaan orang tua mengumpulkan barang bekas, kini bisa mengenyam pendidikan gratis meski dengan keadaan yang masih terbatas. Dan para orang tua, tak harus susah payah menjual hasil rongsokan mereka lagi ke penadah, karena Alexa sedikit banyak sudah mengajarkan mereka untuk mengolah sendiri barang-barang itu.
Awalnya Alexa juga mendapat penolakan keras dari para penghuni daerah itu. Mereka mengira jika Alexa hanya seseorang yang sengaja di kirimkan oleh mereka yang ingin mengambil alih kawasan itu yang katanya ingin di bangun sebuah mall. Tapi, berkat kesabaran dan kegigihannya, Alexa mampu membuktikan, jika dirinya bukanlah bagian dari mereka.
"Maaf ya, Kak Caca harus pamit. Kapan-kapan Kakak ke sini lagi. Tapi janji, kalian harus rajin belajar."
Mereka melambaikan tangan kearah mobil Alexa yang perlahan menjauh dari daerah itu.
.
__ADS_1
.
Samudera merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang menjadi tempat melepas penat. Ingatannya berputar kembali pada kejadian siang tadi. Saat ia sengaja mengikuti mobil milik Alexa secara diam-diam yang bergerak meninggalkan restoran.
Gadis yang memiliki sejuta pesona itu memang sungguh misterius sekali. Sam pikir Alexa membungkus sisa makanan itu untuk di berikan pada teman kantornya, tapi ternyata ...
Perlahan mobil Alexa menepi di sebuah area pemukiman kumuh. Sam sendiri tidak tahu kenapa Alexa sampai mendatangi tempat seperti itu. Tapi, detik selanjutnya Sam di buat terkesiap saat samar-samar mendengar suara teriakan dari para bocah yang berlari menyambut kedatangan Alexa.
"Caca? Jadi, mereka punya panggilan khusus pada Alexa."
Sam menyipitkan mata, meski dari jarak yang lumayan jauh, tapi ia bisa melihat dengan jelas saat Alexa berbaur dengan mereka.
Sam masih mengawasi dari kejauhan, saat Alexa terlihat mengobrol asik dengan para orang tua, tertawa bersama seolah tanpa sekat di antara mereka. Meski, Sam tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi, Sam dapat melihat dengan jelas wajah bahagia orang-orang itu. Sedangkan anak-anak sibuk menyantap makanan yang Alexa bawa dengan saling melempar canda.
Dari dulu, bahkan Sam tidak pernah percaya jika malaikat tanpa sayap itu benar-benar nyata. Tapi sekarang, Sam baru percaya setelah melihatnya sendiri di depan matanya.
Tuhan ... kalau boleh meminta, tolong sisakan satu saja yang seperti dia, Sam berbisik pelan sebelum akhirnya terlena dalam mimpi indah.
.
.
.
"Sia–lan!" Irwan menghempas kasar barang-barang yang ada di atas nakas hingga terjatuh berserak di atas lantai. Irwan menjambak rambut kasar, frustasi tentu saja, karena sudah beberapa hari ini tidak ada satupun perusahaan yang mau menerimanya sebagai karyawan.
[Katrina ...]
__ADS_1
[Ada apalagi?] jawab wanita itu dari seberang telepon.
[Aku butuh pekerjaan. Bisakah kau membantuku?]
Ck!
[Apa ijazah terakhirmu?] tanya Katrina lagi.
[Aku hanya lulusan SMA, tapi aku pernah bekerja menjadi asisten manager di salah satu perusahaan swasta,] ungkapnya lagi. Ya, Irwan memang pernah ada di posisi itu karena bantuan Edi.
Di seberang sana Katrina tertawa sumbang. Heran saja dengan Irwan, padahal ia sudah mencukupi semua kebutuhannya. Apartemen yang Irwan tempati sekarang juga pemberian Katrina, termasuk uang bulanan. Kecuali urusan orang tua Irwan di kampung, itu sama sekali bukan tanggungjawab Katrina.
[Aku butuh pekerjaan. Aku butuh penghasilan agar bisa menghidupi orang tuaku dan dua adikku di kampung,] ungkap Irwan dengan nada putus asa.
[Office boy.]
[Kau gi–la, ya? Aku kekasihmu, Kat. Tega sekali kau menyuruhku jadi OB? Aku tidak mau!] Irwan memang memiliki gengsi yang lumayan tinggi.
[Lalu menurutmu, kau pantasnya jadi apa? Direktur? Hahahaha ....] Katrina tergelak kencan. [Hanya itu yang bisa aku tawarkan. Lagipula, aku tidak mungkin terang-terangan memasukkan dirimu ke perusahaan suamiku. Apalagi memberikan posisi yang tinggi.]
Irwan mengusap wajah kasar. Haruskah ia menerima tawaran dari Katrina. Tapi, itu sama saja turun derajat. Masa dari asisten manager, sekarang malah jadi OB.
Semua ini gara-gara Alexa! Hidupku hancur gara-gara gadis sia–lan itu!
"ALEXA ...!!" teriak Irwan sekuat tenaga. Menyebut nama gadis itu dengan penuh kebencian.
Hai kesayangan, boleh dong tinggalin jejak, biar othor tau kalau karya ini ada yang baca🙏🙏🙏
__ADS_1