Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Jangan Menghina Ayahku!


__ADS_3

Plak!


Satu tamparan keras mendarat sempurna pada pipi Sella. Mata gadis itu membeliak sempurna dengan tindakan yang di lakukan Alexa. sedangkan Tika hanya bisa menatap dengan mulut menganga lebar, pun Baskoro yang tak menyangka akan menyaksikan langsung aksi penamparan pada putri kesayangannya itu.


"Aku peringatkan untuk pertama kalinya padamu!" Alexa menatap Sella dengan tatapan bengis. Bahkan deru napasnya yang naik turun saling berpacu dengan amarah yang kian memuncak. "Jangan pernah menghina ayahku lagi. Atau, aku tak akan segan untuk membunuhmu!" ucap Alexa lagi tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah Sella.


"Dan, Anda." Menunjuk kearah Baskoro yang masih terpaku di samping Sella." Tolong ajari putri Anda bagaimana caranya menghargai orang lain. Jangan sampai karena ketololannya itu, bisa menghancurkan hidupnya sendiri!"


Alexa berbalik dan melangkah meninggalkan rumah kediaman Baskoro, di susul Tika yang melangkah cepat di belakang Alexa menuju mobil miliknya yang terparkir di depan gerbang.


"Xa ... "


"Tolong jangan katakan apapun lagi, Tik. Aku pusing." Alexa bersandar pada sandaran kursi mobil dan melemparkan pandangan ke luar jendela. Alexa menghela napas dalam untuk mengisi rongga dadanya, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


Sementara Tika memilih mengambil alih kemudi sebab tidak mungkin membiarkan Alexa membawa mobil dengan keadaan pikiran kacau.


Alexa merasa sikapnya tadi pada Sella memang sedikit keterlaluan dengan menampar gadis itu di depan ayahnya sendiri. Tapi Alexa juga tidak kuasa saat mendengar ayahnya di hina seperti itu.


Memang apa yang salah dari seorang supir? Mereka juga manusia. Lagipula pekerjaan mereka halal. Ya ... Alexa memang pernah mendengar sedikit mengenai cerita masa lalu ayahnya. Bagaimana dulunya sang ayah bisa menikah dengan putri dari majikannya sendiri. Bagi Alexa ayahnya tetap laki-laki paling baik yang tak akan pernah menghianatinya.


"Kita ke tempat anak-anak aja, Tik. Aku mau ketemu mereka aja."


Demi meredam emosinya yang masih naik turun, Alexa memutuskan untuk pergi ke daerah pemukiman kumuh. Alexa meraih ponsel dalam tas, dan menghubungi dua bodyguardnya yang tadi sempat ia suruh menunggu di depan gerbang kampus.

__ADS_1


[Non Alexa, Anda di mana?] Terdengar suara panik dari seberang telepon. Mereka terpaksa menyusul Alexa ke kediaman Sella, tapi menurut satpam yang berjaga di sana, jika gadis yang mereka maksud sudah pamit pulang beberapa menit lalu.


Tentu saja mereka panik karena panggilan mereka tidak mendapat respon dari majikan perempuannya itu. Mereka khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada Alexa lagi.


[Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.] Alexa menjawab santai.


[Sekarang Anda di mana? Kami akan segera menyusul Anda. Saya takut Tuan Roy memarahi kami lagi.] Mereka masih panik, dan terus memberondong Alexa dengan berbagai pertanyaan.


[Aku akan ke pemukiman kumuh. Kalian pulang saja.]


[Tidak, Nona. Kami akan segera menyusul Anda ke sana,] tolak salah satu bodyguardnya.


[Terserah!]


Mobil melaju menuju daerah di mana penghuni kawasan kumuh itu tinggal. Kedatangan Alexa dan Tika di sambut penuh suka cita oleh mereka.


"Nyonya Maulin, apa kabar?" sapa seorang laki-laki yang usianya tak berbeda jauh dari wanita itu. Mereka saling menjabat tangan, lantas terlibat obrolan basa-basi.


"Oma, aku ke toilet sebentar yah?" pamit Katrina, sambil tersenyum sekilas pada tamu laki-laki itu.


"Iya, hati-hati, Sayang," balas Maulin pada Katrina.


"Nyonya Maulin apa kabar?" Mereka melanjutkan obrolan setelah kepergian Katrina. "Oh ya, tadi itu ... putri Anda?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Saya baik. Itu tadi cucu menantu saya."


Laki-laki yang usianya enam puluh tahunan lebih itu mengangguk pelan. Lantas terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu.


"Oh, menantu ya? Sepertinya saya pernah melihatnya, tapi di mana ya?"


"Mungkin saja, karena Katrina seringkali ikut suaminya untuk melakukan pertemuan bisnis. Atau, mungkin saat dulu Anda masih menjabat sebagai kepala rumah sakit."


Laki-laki yang pernah menjabat sebagai kepala rumah sakit itu pun terdiam lagi.


"Dia yang menolong saya. Bukankah dulu Anda juga tahu, sebab Anda ikut menangani langsung, kan?" Oma Maulin bersuara lagi, kedua matanya nampak berbinar mengingat bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan Katrina. "Gadis itulah yang akhirnya saya nikahkan dengan cucu saya. Saya sangat berterimakasih padanya."


Laki-laki yang sebagian kepalanya sudah di tumbuhi uban itu nampak mengerjap mendengar penuturan Oma Maulin.


"Maksud Anda?" tanya laki-laki itu belum begitu paham dengan arah pembicaraan Oma Maulin. Karena yang ia tahu bukan Katrina yang membawa Oma Maulin ke rumah sakit, sekaligus bukan dia juga yang menjadi pendonor untuk Oma Maulin. Lalu, apa hubungannya dengan peristiwa itu.


"Ya ... Katrina itu dulu yang sudah menolong saya, kan? Sekaligus yang sudah mendonorkan darahnya untuk saya. Saya sangat berhutang budi padanya. Dan sekarang saya bahagia sekali karena cucu saya bisa menikahi Katrina."


Mulut laki-laki itu langsung mengatup rapat. Meski sudah cukup lama, tapi kejadian itu masih terekam jelas di otaknya. Bagaimana seorang gadis dengan wajah panik membawa seorang wanita tua yang tak lain Oma Maulin ke rumah sakit. Gadis itu pula yang akhirnya sedia mendonorkan darahnya untuk Oma Maulin. Jelas-jelas gadis itu bukanlah Katrina.


"Tapi, Nyonya, saat itu bukan ... "


"Oma, sebaiknya kita pulang sekarang." Tiba-tiba Katrina datang dan mengajak sang oma untuk segera meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Hari ini dobel update lho ya, mana semangatnya dong😁😁😁


__ADS_2