Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu

Kau Ambil Kekasihku, Ku Pacari Suamimu
Sebuah Kalung


__ADS_3

"Oma, tumben datang ke sini?" Katrina menyambut Oma Maulin yang tidak mengabari sama sekali ingin berkunjung. Beruntung Katrina belum pergi menemui Irwan, jika sedikit lebih awal lagi ia pergi, pasti wanita itu akan kecewa karena tidak mendapati Katrina di rumah.


"Aku memang sengaja ingin memberimu kejutan." Wanita tua itu mendaratkan bobot tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Baiklah. Oma mau minum apa?"


"Sepertinya kau sibuk, apa kedatangan oma ke sini mengganggumu?" Wanita itu melihat penampilan Katrina yang rapi.


"Oh tidak, aku hanya ingin keluar ke supermarket sebentar, Oma. Tapi berhubung Oma datang, jadi aku bisa melakukannya nanti saja."


Dua wanita berbeda usia itu terlibat obrolan cukup panjang. Membahas apa saja kegiatan mereka masing-masing. Oma Maulin pun menanyakan bagaimana perkembangan hubungan Katrina dengan sang suami,


"Apa sudah ada perubahan?"


Katrina menggeleng lemah. Katrina tahu jika Oma Maulin pernah menemui Samudera di kantor, karena itu juga atas permintaannya. Tapi, entah kenapa sikap Samudera makin ke sini malah semakin dingin terhadapnya.


"Sabar aja. Oma yakin jika suatu saat Sam pasti akan melihatmu." Oma Maulin mengusap lembut punggung Katrina. Wanita itu hanya bisa mengangguk. Semoga saja apa yang mereka harapkan bisa terjadi.


"Oh ya, ada sesuatu yang ingin oma berikan padamu." Oma Maulin melirik Sindi. Wanita yang tadi datang bersamanya itu nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


"Ini apa, Oma? Oma kasih hadiah sama aku?" tanya Katrina dengan mata berbinar. Katrina menatap kalung dengan liontin kecil berbentuk hati.


"Apa maksudmu? Apakah kau lupa, jika kalung itu milikmu?" ungkap Sindi yang langsung di balas tatapan bingung oleh Katrina.

__ADS_1


"Milikku?" ulang Katrina.


"Ya, apa kau lupa, kalung itu milikmu yang terjatuh saat kau menyelamatkan oma. Apa kau lupa?" Oma Maulin berusaha mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu. Saat ia baru saja tersadar dari koma, seorang suster memberikan kalung itu. Suster bilang jika kalung itu tersangkut di pakaian milik Oma Maulin. Dan wanita itu yakin sekali jika benda tersebut milik Katrina yang tak sengaja tersangkut saat berusaha menyelamatkannya.


"Eh, iya. Maaf, Oma. Mungkin aku lupa, kejadian itu sudah lumayan lama sih." Katrina menjawab gugup, karena ia memang sama sekali tidak tahu mengenai kalung itu. Katrina meraih kalung dari tangan sang oma, tapi belum juga benda itu berhasil berpindah tempat, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan kemunculan Samudera. Katrina reflek menjatuhkan kalung itu hingga tepat berada di depan sang suami.


"Oma, kapan datang?" Samudera melirik kearah sang istri. Apalagi yang kau rencanakan, Katrina? batin Samudera. "Ini, kalung milik siapa?" Samudera mengambil benda di dekat kakinya, tapi Katrina dengan cepat menyambar benda itu.


"Ini milikku!"


"Itu punya Katrina. Mungkin dulu tak sengaja terjatuh saat dia membawa oma ke rumah sakit. Dan sekarang oma baru ingat, makanya oma kembalikan pada dia." Wanita itu menjelaskan pada cucu laki-lakinya.


"Sam, gimana? Kalian sudah memikirkan mengenai permintaan oma, kan?" Oma Maulin berbicara lagi, membuat Samudera terpaksa harus menelan ludahnya dengan susah payah.


.


.


.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" Seorang pria paruh baya langsung menghardik Alexa saat baru saja mendekat kearah tempat yang menjadi tempat tinggal dadakan untuk para penghuni pemukiman kumuh. Langkah Alexa langsung terhenti, apalagi menatap wajah mereka yang seolah tengah menahan amarah padanya.


"Pak, ada apa ini? Mak?" Alexa mencari keberadaan Mak Nengsih di antara wajah-wajah itu.

__ADS_1


"Dasar penghianat! Bisa-bisanya kamu nipu kita selama ini!" ucap salah satu ibu yang juga ada di sana.


"Sebenarnya, ada apa ini?"


"Nggak usah pura-pura bodoh. Kami sudah tahu semuanya. Ternyata kamu juga bagian dari mereka, kan?"


"Kamu anak dari orang pemilik tanah itu sendiri, kan? Lalu, apa maksudnya kamu mendekati kami? Kamu ingin pura-pura baik, agar kami simpati?"


"Itu nggak benar, Bu."


"Alahhh kenyataannya emang begitu!"


Alexa sendiri tidak mengerti, bagaimana mereka bisa tahu mengenai hal itu. Atau, adakah seseorang yang sengaja membocorkan mengenai identitas aslinya?


"Kamu Alexa Andreas, kan? Putri bungsu dari orang yang mau mengambil tanah itu dari kami?" ulang ibu itu lagi.


Alex sampai mundur beberapa langkah. Kaget karena mereka benar-benar sudah tahu identitas sebenarnya mengenai dirinya.


"Sekarang pergilah! Kami tidak butuh seorang penghianat sepertimu!"


Penolakan mereka benar-benar membuat Alexa terpukul. Gadis itu melangkah gontai meninggalkan pemukiman sementara itu dengan wajah murung, sementara mobil miliknya Alexa tinggalkan begitu saja.


Dari arah seberang jalan terlihat bocah laki-laki menatap kanan-kiri, menunggu sampai lalu lalang kendaraan sedikit sepi. Diki berniat menghampiri Alexa dan ingin memberitahu apa yang terjadi hari ini. Tapi, baru saja Diki bergerak satu langkah, dari seberang jalan terlihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di samping Alexa. Dua orang pria tiba-tiba saja keluar dan menarik paksa tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Kak Caca!" teriak Diki yang melihat mobil tersebut melaju dengan sangat kencang.


__ADS_2