
Zidan tidak membawa Safa pulang ke rumahnya. Tapi Zidan malah membawa kekasihnya itu pulang ke rumah orang tuanya.
"Lho Mas, kita kok ada di sini?" Tanya Safa yang merasa bingung.
"Mas? Kamu mau memanggilku dengan sebutan Mas?" Katanya Zidan memastikan pendengarannya berfungsi dengan baik.
Wajah Safa memerah karena malu. "Lalu aku harus memanggilmu apa? Bukankah tidak sopan jika memanggilmu hanya dengan sebutan nama?" Tanya Safa.
"Ya itu boleh juga, menurutku tidak buruk," jawab Zidan.
"Mas Zidan," panggil Willa setengah meledek.
"Eh, anak kecil ikut-ikutan. Sini papa gelitikin," goda Zidan. Willa terkekeh mendengarnya.
Setelah itu Zidan membukakan pintu mobil untuk Safa dan Willa. Dia mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Ma, calon mantu datang," teriak Zidan ketika baru menginjakkan kaki di dalam rumah. Sontak Safa membulatkan matanya ketika dia menyebut kata 'calon mantu'.
Refleks tangan Safa memukul bahu Zidan pelan karena kesal. "Aw sakit," Zidan mengusap-ngusap bahunya pura-pura merasakan sakit.
Sesaat kemudian Raina turun dari lantai atas. "Eh calon mantu," ucapan Raina itu membuat wajah Safa bersemu merah.
Safa meraih tangan Raina untuk disalami begitupun Willa, dia mencium tangan calon neneknya itu dengan takjim.
"MasyaAllah cucu Oma pinter sekali," puji Raina.
Zidan mengulum bibirnya. Dia merasa senang karena sang ibu mau menerima kedatangan Safa dan Willa di rumahnya.
"Zidan sudah memenuhi permintaan Mama untuk mendatangkan calon mantu," ucapnya pada Raina.
"Iya, sementara mama siapkan makanan, kalian bisa menunggu di ruang tamu," kata Raina.
"Ah bagaimana kalau Safa membantu Mama memasak?" Usul Zidan.
"Tentu saja boleh Mama akan merasa senang jika calon mantu mama mau membantu mama memasak di dapur."
Safa melotot pada Zidan. Bukannya takut Zidan dan malah tertawa melihat tingkah Safa yang menggemaskan.
"Willa, Ayo main sama papa," ajak Zidan. Pemuda itu meninggalkan kekasihnya bersama sang ibu.
"Ayo ikuti saya." Safa mengangguk. Dia masih canggung dengan keluarga Zidan.
"Kamu bisa memasak apa?" Tanya Raina pada Safa.
"Sejujurnya saya tidak bisa memasak." Safa menunduk malu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya juga dulu tidak bisa memasak. Nanti akan saya ajari agar kamu bisa jago memasak seperti saya," ucap Raina tanpa menghakimi calon menantunya.
Safa sungguh tersentuh dengan omongan ibunya Zidan. Jujur ia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu sejak kecil.
"Tolong ambilkan wortel kamu bisa kan mengupas wortel?" Perintah Raina.
Safa pun membuka kulkas dan mengambil dua buah wortel. "Bagaimana saya memotongnya?"
Raina tersenyum. "Sini saya ajarkan! potong menyerong wortel ini nanti kita masak tumis."
Raina dengan telaten mengajari Safa. Safa sangat senang mengerjakan apa yang diperintahkan Raina karena dia mengajarinya dengan sabar tanpa membentak sedikitpun.
Tak lama kemudian Julian tiba di rumahnya. Dia mencium bau masakan yang sangat sedap. Julian menuju ke sumber bau. "Dia terkejut ketika melihat Safa berada di dapur bersama istrinya. "Kamu?" Tunjuk Julian.
Safa mengangguk hormat pada Julian. "Ayah baru pulang? Ayo kita ke ruang makan Safa sudah memasak untuk kita," ajak sang istri.
Setelah itu Raina memanggil Zidan dan Willa yang sedang bermain di kamarnya. "Apa kalian sudah puas bermain? Ayo kita turun untuk makan," perintah Raina pada Zidan dan Willa.
"Papa gendong," rengek Willa. Raina menggelengkan kepalanya. Namun, dia bisa melihat kalau anak kecil itu sudah sangat akrab dengan putranya.
Julian memberikan tatapan tidak suka pada Safa. Safa tak banyak bicara dia hanya menunduk.
"Serem banget muka calon mertua," umpat Safa dalam hati.
"Yah kenapa ayah memandangi Safa sampai seperti itu? Apa ayah naksir dengan Safa?" Goda Zidan.
"Habis ayah nyeremin banget," ledek Zidan.
"Papa, aki galak ya?" Bisik Willa pada Zidan.
Meskipun Willa berbisik tapi Julian bisa tetap mendengarnya. "Apa? Aki? Yang benar saja! Panggil aku opa, kenapa panggil aki?" Protes Julian membuat semua orang tertawa.
"Kenapa kalian menertawakanku?" Tanya Julian yang merasa tersinggung.
"Ayah ini GR siapa yang mau jadi cucu ayah?" Lagi-lagi Zidan menggoda ayahnya.
"Bukankah dia anak dari kekasihmu? kalau begitu dia juga akan menjadi cucuku."
"Jadi ayah sudah merestui hubungan kami?" Tanya Zidan.
"Siapa bilang?" Elak Julian. Julian memang tidak begitu menyukai Safa karena statusnya janda beranak satu.
"Sebaiknya kita makan keburu dingin makanannya," ajak Raina.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing. "Bagaimana rasa makanannya Yah?" Tanya Raina meminta pendapat suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja masakan istriku selalu enak," puji Julian.
"Ayah salah, yang masak bukan mama tapi Safa. Mama hanya bantu mengarahkan dia saja."
"Uhuk," Julian tersedak lalu Raina memberikan air minum kepada suaminya.
"Makanya kalau makan pelan-pelan."
Usai makan bersama, Safa dan Willa pamit. "Zidan akan mengantar mereka pulang dulu, Ma, Yah." Zidan meminta izin bergantian kepada ayah dan ibunya.
"Hati-hati di jalan ya, terima kasih sudah mau mampir ke rumah kami," ucap Raina sambil mengulas senyum ramah. Sementara Julian hanya diam saja.
"Saya permisi dulu om, tante," pamit Safa.
Sebelum memasuki mobil Zidan mereka berpapasan dengan Sofia yang baru pulang. "Kalian sudah mau pulang?" Tanya Sofia.
"Iya, dok. Willa salim sama dokter Sofia."
"Sayang sekali, padahal aunty masih mau main sama Willa." Sofia pura-pura bersedih ketika Willa akan meninggalkan rumahnya.
"Besok Willa main ke sini lagi aunty, boleh kan?"
"Tentu saja boleh," jawab Sofia dengan ramah.
Setelah itu Zidan, Safa dan Willa meninggalkan pekarangan rumah Julian.
"Rasanya sepi ya setelah Willa pulang," ucap Raina.
"CK, baru juga sekali datang sudah bilang ramai," cibir Julian.
"Kenapa dari tadi ayah bersikap ketus kepada Safa?" Tanya Raina.
"Ah tidak, itu cuma perasaan mama saja," elaknya.
"Ayah, apa Ayah tidak merestui hubungan mereka? tapi kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau dokter Safa itu wanita yang baik." Sofia membela kekasih adiknya itu.
"Dia itu janda beranak satu, apa kata keluarga besar kita nanti jika Zidan yang masih perjaka mendapatkan calon istri seorang janda."
"Kenapa harus memperdulikan penilaian orang lain bukankah yang menjalani kehidupan itu Zidan? biarkan dia memilih pasangannya sendiri," ucap Raina tak mau kalah.
"Mama, kenalan ayah kan banyak. Bagaimana kalau ada omongan yang tidak sedap di kalangan kolega bisnis ayah. Ini akan berdampak pada bisnis keluarga kita."
"CK, seharusnya Ayah bangga memiliki calon mantu seorang dokter. Bukankah tidak banyak orang yang beruntung dan berkesempatan memiliki karir sebagus itu. Kurang apalagi? Apa hanya karena status janda ayah meremehkannya? Jangan berpikiran sempit!"
Hai sambil nunggu up kalian bisa baca novel ini ya
__ADS_1