Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
Penyebar gosip


__ADS_3

Zidan sampai di rumah sakit. Dia langsung berjalan menuju ke ruangan wanita yang dia cintai. "Sayang." Zidan membuka pintu begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dia tidak mengetahui kalau di dalam ruangan itu ada tiga orang wanita yang berada di sana.


"Ups, maaf." Zidan merasa tidak enak memanggil sayang ketika ada orang lain.


Safa menyambar tasnya. "Aku mau balik, seharusnya aku hari ini masih istirahat." Safa berdiri lalu keluar bersama Zidan.


Di saat yang bersamaan dari arah lain tampak beberapa perawat yang sedang mendorong brankar. Mereka setengah berlari. Salah satu dari perawat itu tak sengaja menabrak bahu Safa hingga kepalanya terbentur dinding. Safa terjatuh.


Perawat yang menjadi asisten Safa melihat bagian pantatnya berdarah. "Ada darah," teriaknya panik.


Zidan langsung menggendong Safa ala bridal style dan membawanya ke ruang UGD. Safa sendiri merasa malu pada orang-orang yang melihatnya padahal kepalanya hanya terbentur sedikit.


"Tolong siapkan rumah perawatan Dokter Safa keguguran," ucap perawat yang menjadi asisten Safa.


Zidan membaringkan Safa di atas brankar. "Mas, aku...." Belum selesai Safa berbicara Zidan sudah menyela.


"Jangan bicara dulu! Lihat kamu sampai berdarah," ucap Zidan panik.


Safa malah tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu pikir aku keguguran?" Ledeknya.


"Lalu darah ini?" Tunjuk Zidan.


"Aku sedang datang bulan, Mas. Hissh nyebelin banget kalian." Asistennya membuka mulutnya lebar. Dia salah mengira. Kini terjawab sudah rumor yang tersebar di kalangan pegawai rumah sakit itu tidak benar. Safa tidak hamil.

__ADS_1


Safa menyibak selimut lalu membalutkan di badannya. "Aku pinjam selimutnya." Dia berjalan sambil memakai selimut untuk menutup bagian pantatnya yang sedang tembus.


"Sayang, tunggu!" Zidan menyusul kekasihnya itu. Zidan sedikit berlari untuk menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Safa. Sesampainya di samping mobil, Zidan membukakan pintu untuk wanita yang dia cintai.


"Sudah dong ngambeknya. Aku kan tidak tahu kalau kamu sedang datang bulan," kata Zidan.


"Aku tidak ngambek sama kamu, Mas. Aku hanya kesel sama asistenku dan para pegawai rumah sakit lainnya yang menggosipkan aku hamil di luar nikah."


"Apa? Kok bisa?"


"Itu karena mereka melihat aku muntah-muntah karena masuk angin ketika berada di toilet kemaren."


"Sudahlah jangan marah terus nanti muka kamu keriput."


"Memangnya kenapa kalau aku keriput? Kamu nggak cinta lagi? Mau cari cewek lain yang masih kenceng mukanya?" Cecar Safa. Zidan jadi bingung menanggapi sikap Safa yang mudah emosi.


Zidan melajukan mobil tanpa banyak bicara lagi.


Asisten Safa kini mengkonfirmasi berita tentang kehamilan Safa pada perawat yang ditemui Safa di toilet. Dialah yang menyebarkan rumor Safa hamil di luar nikah.


"Sini, aku mau bicara sama kamu!" Ira, asisten Safa menarik tangan temannya itu.


"Ngapain sih tarik-tarik tanganku sakit tahu," protes Fita.

__ADS_1


"Kamu tahu tidak dokter Safa tuh nggak hamil."


Fita kaget mendengar ucapan Ira. "Dari mana kamu tahu?" Tanya Fita penasaran.


"Orang tadi aku lihat sendiri dia sedang datang bulan. Aku kira dia keguguran ternyata aku salah menduga."


"Kamu yakin?" Tanya Fita memastikan. Ira mengangguk.


"Duh gimana dong nih kalau Dokter Safa sampai tahu kalau aku yang menyebarkan gosip?" Fita menjadi panik.


"Oh, jadi kalian yang menyebarkan gosip kalau Dokter Safa hamil di luar nikah?" Tanya Selly sambil menaruh tangannya di pinggang.


Kedua perawat itu menundukkan kepala karena merasa bersalah. "Maafkan kami, Dok," ucap Fita.


"Jangan sama saya. Minta maaf sama Dokter Safa besok!" Perintah Selly pada kedua perawat tersebut. Setelah itu dia melenggang pergi.


"Ini semua salah kamu yang punya mulut tapi nggak bisa diam." Ira menyalahkan Fita.


Fita merasa tidak terima. "Kamu kok ngatain aku sih," protesnya sambil mendorong bahu Ira.


"Memang kamu yang mulai menyebarkan gosip."


"Alah, kamu juga awalnya percaya 'kan? Ngaku aja kalau kamu juga nggak suka sama atasanmu," tuduh Fita.

__ADS_1


"Ah berdebat sama kamu memang tida akan ada habisnya." Ira memilih pergi dengan muka masam.


Sementara itu Fita menghentakkan kakinya karena kesal pada temannya itu.


__ADS_2