
"Bu, di mana Willa?" tanya Willy pada ibunya ketika dia baru siuman.
"Dia diambil oleh mantan istrimu," akunya.
Willy terkejut. "Apa? bagaimana bisa?"
"Kemarin dia sengaja mengikutiku lalu sesampainya di rumah dia menerobos masuk," jawab ibunya.
"Kenapa biarkan?" Willy benar-benar kesal pada ibunya.
"Tenaga Ibu tidak cukup untuk melawan Safa," jawabnya membela diri.
"Antar aku menemuinya Bu!" Pinta Willy kepada ibunya. Lalu ibunya mengambilkan kursi roda agar Willy bisa menemui Safa.
"Mil, kembalikan Willa padaku!" Teriak Willy ketika bertemu dengan mantan istrinya.
Safa menarik ujung bibirnya. "Kembalikan katamu? Kamu gila Wil? Kamu tahu tidak? Saat aku ke rumahmu aku menemukan Willa dalam keadaan pingsan."
"Apa? mana mungkin?" Willy tidak percaya dengan omongan Safa.
"Seharusnya kamu tanya kepada ibumu? Kenapa dia mengunci anakku di dalam kamar sampai dia pingsan? bagaimana jika aku tidak datang kemarin?" Safa menyalakan ibunya Willy.
Willy menoleh ke arah ibunya. "Apa benar yang dia katakan Bu?" Tanya Willy pada ibunya. Namun ibunya hanya diam saja.
"Jawab Bu!" Bentak Willy.
__ADS_1
"Willy kamu berani membentak ibu?" Ucapnya dengan nada bergetar karena merasa kecewa pada anaknya.
Safa tidak berniat melihat pertengkaran antara ibu dan anak itu, dia memilih berlalu meninggalkan mereka.
"Mila tunggu!" Teriak Willy memanggil nama mantan istrinya.
Safa menoleh ke arah Willy. "Apalagi Wil? Jangan harap aku menyerahkan anakku padamu."
"Beri aku kesempatan untuk bertemu dengan Willa sebentar saja."
Safa mempertimbangkan permintaan Willy. "Baiklah tapi sebentar saja." Willy mengangguk.
Lalu Willy dan ibunya berjalan mengikuti Safa menuju ke sebuah ruangan rawat pasien. Safa membuka pintu perlahan. Dia melihat bila sedang bercanda dengan seorang perawat.
"Bunda," panggil Willa dengan senyum lebar ketika melihat sang ibu. Namun, senyumnya tiba-tiba menyurut ketika melihat ayah dan neneknya. Willa memalingkan muka.
"Bunda, Willa tidak mau menemui mereka. Mereka jahat bunda," adunya pada sang ibu.
"Kamu dengar sendiri kan apa yang dikatakan anakmu?" Tanya Safa pada mantan suaminya.
Wajah Willy berubah sendu. Ia kecewa pada Willa. "Baiklah besok ayah akan kembali."
Setelah Willy keluar Safa mencoba memberi pengertian pada anaknya. "Willa meskipun ayah dan nenek tidak memperlakukan Willa dengan baik tapi kasian ayah yang sedang sakit. Tolong maafkan mereka ya. Bunda janji tidak akan membiarkan mereka mengambil Willa dari bunda." Willa mengangguk.
"Oh iya nanti Willa sudah boleh pulang," Willa senang mendengar perkataan ibunya. Dia bersorak kegirangan.
__ADS_1
Tak lama kemudian datang menemui Willa. Setelah mengetuk pintu, dia masuk begitu saja dengan membawa sebuah boneka beruang yang besar untuk Willa.
Zidan tersenyum ketika melihat sang kekasih yang juga ada di sana. "Willa papa bawa sesuatu buat Willa." Dia menyerahkan beruang berwarna pink itu pada anak kecil itu.
Willa dengan senang hati menerimanya. "Terima kasih, papa." Zidan mengangguk.
"Jadi pulang sekarang?" Tanya Zidan pada kekasihnya.
"Jadi, aku beresin dulu barang-barangnya," jawab Safa.
Setelah itu ketiganya keluar dari ruangan. Zidan menggendong Willa saat berjalan menuju ke mobil.
Willy melihat ketiganya begitu akrab. Bahkan Willa terlihat ceria ketika bersama Zidan. Hatinya terasa perih melihat kebahagiaan mereka.
"Kamu harus sembuh dulu, setelah itu ambil kembali anakmu!" Perintah Sang ibu.
"Tidak, Willa terlihat bahagia bersama mereka. Aku tidak akan memaksa Willa lagi." jawaban Willy membuat ibunya terkejut.
Lalu Willy mendorong kursi rodanya sendiri ke kamarnya meninggalkan sang ibu. Dia kesal karena ibunya telah membuat Willa sampai pingsan karena tak terurus selama dia berada di rumah sakit menjaga Willy.
Zidan mengantarkan Safa dan anaknya sampai ke rumah.
Sementara itu Raina, ibunya Zidan datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak Safa. "Di mana ruangannya?" Tanya Raina pada dokter Sofia, anak sulungnya.
"Di sini, Ma."
__ADS_1
Saat keduanya masuk, mereka tak melihat siapapun. Lalu Sofia bertanya perawat yang lewat. "Kemana perginya pasien yang kemaren menginap di sini?"
"Oh anaknya dokter Safa ya Dok? Dia sudah pulang."