Kekasihku Pria Amnesia

Kekasihku Pria Amnesia
David


__ADS_3

"Pak hari ini anda ada meeting dengan Pak Alex," kata Leo.


"Ke mana Astrid?" Tanya Zidan.


"Astrid sekarang menjadi sekretaris Pak Julian, Pak," jawab Leo.


"Sejak kapan? Ayah selalu mau menang sendiri. Tapi tidak masalah, aku lebih butuh asisten laki-laki yang bisa kuandalkan seperti kamu." Zidan tersenyum licik.


"Leo, kapan Alex akan datang kemari?" Sebelum Leo menjawab, Alex tiba-tiba masuk ke ruangan Zidan.


"Gue ada di sini," sahut Alex.


Zidan mendesis kesal. "Kenapa Lo? Kayaknya eneg banget lihat gue?" Tanya Alex kesal. Gaya bicaranya memang santai pada sepupunya itu.


"Long time no see, apa kabar istri Lo?" Goda Zidan.


Alex melempar berkas yang ada di tangannya. "Suek Lo, udah jadi bini gue juga. Makanya cari cewek. Gue curiga elo ada main sama asisten Lo," tuduh Alex sambil melirik ke arah Leo.


"Sialan Lo. Gue udah punya pasangan keles," jawab Zidan tak mau kalah.


"Oh ya? Bagus. Jadi gue nggak khawatir lagi sama elo. Jadi kapan elo mau ngenalin calon Lo ke gue sama Sandra?" balas Alex.


"Ck, nggak bisa sekarang," jawab Zidan dengan lesu.


"Kenapa?" Tanya Alex penasaran.


"Kepo Lo. Udah kita bahas meeting saja."


Sementara itu Safa merasa bosan karena Zidan tidak menghubunginya sama sekali. Dia terus melihat handphonenya.


"Ya ampun kalau kangen telepon aja kali," kata dokter Selly.


Safa menghela nafas berat. "Apa harus aku duluan?" Tanya Safa meminta pendapat sahabatnya.


"Lah yang kangen siapa? Kamu kan?" Tunjuk Selly.


Safa menaruh kepalanya di atas meja kantin. "Hampa terasa hidupku tanpa dirimu."

__ADS_1


"Lah ni janda kenapa malah nyanyi." Dokter Selly tertawa melihat tingkah konyol sahabatnya.


"Kamu nggak ngerasain sih apa yang aku rasain sekarang," balas Safa.


Lalu seseorang duduk di kursi sebelah Safa. "Ngerasain apa?" Tanya seseorang yang dia kenal.


"Kapan kamu balik dari luar negeri?" Tanya Safa ketus.


"Baru saja, aku langsung cari tempat kerjamu," jawabnya.


"Ya ampun siapakah gerangan pangeran tampan ini?" Tanya Selly yang terpesona dengan ketampanan pemuda itu.


Dia mengulurkan tangan. "David," ucapnya memperkenalkan diri.


Selly membalas uluran tangannya dengan cepat. "Selly."


"Jadi kalian ini temenan?" Tanya Dokter Selly.


"Tuh kan aku bilang apa? Mukamu itu boros," ledek Safa diiringi tawa mengejek.


Selly membulatkan mata. "Kok selama ini kamu tidak cerita kalau punya adik seganteng ini," protes Selly. Safa memutar bola matanya jengah.


"Kak aku menginap di rumahmu ya," pinta David setengah memohon.


"Jadi kamu belum pulang ke rumah?" Tebak Safa.


"Aku malas menemui papa. Bisakah kita pulang sekarang aku sangat capek," kata David.


"Ya sudah aku antar kamu ke rumahku dulu. Sel aku balik duluan ya," pamit Safa pada Selly.


"Jadi apa rencana kamu?" Tanya Safa berbincang dengan adiknya sampai menuju ke parkiran mobil.


Ketika dia akan memasuki mobil, Zidan memperhatikan Safa dari kejauhan. Safa terlihat memberikan kunci pada seorang laki-laki yang tidak dia kenali. Zidan merasa cemburu terlebih saat Safa tersenyum pada laki-laki itu.


"Siapa dia?" Gumam Zidan. "Leo cari tahu siapa laki-laki yang bersama Safa!" Leo mengangguk patuh. Setelah itu, mobil Zidan meninggalkan lokasi.


Safa tak sengaja melihat Zidan sekilas. "Kak, kok bengong?" Tanya David.

__ADS_1


Suara David membuyarkan lamunan Safa. "Ah tidak," jawabnya sambil memasang sabuk pengaman.


Sesampainya di rumah Safa, David menurunkan kopernya. "Ayo masuk!" Ajak Safa.


Willa berlari dari dalam rumah. "Papa," panggil Willa. Dia mengira Safa datang bersama Zidan. Namun, dia kecewa ketika melihat ternyata yang datang adalah orang lain.


"Hi sweat heart," sapa David.


"Dia siapa, Bun?" Tanya Willa.


"Kamu pasti lupa, dia om David, adik bunda," jawab Safa mengingatkan Willa.


"Nggak ingat," jawab Willa singkat.


David berjongkok di depan Willa. "Tentu saja kamu tidak ingat. Saat itu kamu masih kecil," ucap David.


*


*


*


"Pak, saya membawa biodata yang anda minta." Leo menyerahkan berkas itu ke meja Zidan.


"David Harrison, 25 tahun seorang dokter obgyn?" Zidan membaca biodata itu dengan lantang.


"Jadi dia adalah junior kekasihku?" Tanya Zidan memastikan.


Leo mengangguk. "Ada hal lain yang perlu saya sampaikan, Pak."


"Apa itu Leo?" Tanya Zidan sambil menutup berkas yang ada di tangannya.


"Dia adalah adik dokter Safa."


"Apa? Kenapa Safa tidak pernah cerita padaku kalau dia memiliki seorang adik," gumam Zidan. Zidan tersenyum licik. Dia memikirkan suatu ide cemerlang.


Kira-kira apa ide Zidan ya? apakah dia akan bersatu lagi dengan Safa? tunggu kelanjutannya ya

__ADS_1


__ADS_2