
"Selamat ya." Selly ikut bahagia setelah Zidan dan Safa resmi bertunangan.
"Kamu datang sendirian?" Tanya Safa pada sahabatnya itu. Selly mengangguk lemah.
"Sebenarnya aku ingin mengajak seseorang ke sini tapi dia tidak bisa," jawab Selly.
"Oh ya apa aku mengenalnya?" Selly ragu mengatakan yang sejujurnya kepada Safa. Akhirnya dia hanya menggeleng menjawab pertanyaan temannya itu.
Flashback on
"Terima kasih," ucap Selly setelah Willy menolongnya. Willy tersenyum.
"Mau aku antar pulang?" Willy menawarkan tumpangan kepada Selly.
"Tidak aku bawa mobil sendiri," tolaknya. Kemudian Selly berjalan menuju ke mobilnya. Dia melihat ban depan mobilnya kempes.
"Hari ini memang hari sialku," umpatnya kesal pada nasibnya sendiri.
Willy berjalan mendekati Selly. "Tawaranku masih berlaku," ucapnya pada Selly.
Mau tak mau Selly menumpang mobil Willy. Dia masuk ke dalam mobil kemudian memasang sabuk pengaman.
"Mobilmu biar di jemput oleh montir langgananku saja," kata Willy sebelum menjalankan mobilnya. Selly mengangguk setuju.
Di dalam mobil mereka tidak banyak bicara. Kemudian Willy memulai percakapan. "Jadi kamu mau datang sama siapa besok?" Tanya Willy.
"Mungkin aku akan datang sendiri," jawab Selly.
__ADS_1
"Bisakah kamu menawarkan diri?" Batin Selly menatap penuh harap pada Willy.
"Andai saja aku bisa datang ke sana bersamamu." Ucapan Willy membuat Selly memiliki harapan.
"Tapi, aku tidak bisa," ucap Willy kemudian.
"Ya dia pasti tidak bisa melihat mantan istrinya bertunangan dengan laki-laki lain," batin Selly dengan wajah berubah mimik.
"Tidak apa," jawab Selly lirih. Willy melirik sekilas ke arah Selly. Dia bisa menebak kalau Selly berharap lebih padanya. Tapi sayangnya Willy tidak bisa memenuhi keinginan Selly untuk menemaninya ke acara pertunangan Willy.
"Apakah kamu sudah memesan baju untuk besok?" Tanya Willy. Selly menggeleng.
Lalu Willy memutar arah mobilnya. "Kenapa kita belok? Arah rumahku ke sana," protes Selly.
Ketika Willy menghentikan mobilnya wanita itu baru tahu kalau Willy mengajaknya ke sebuah butik. "Ayo turun!"
Selly masih mematung di kursinya. Lalu Willy membukakan pintu mobil untuk Selly. Masih tak bereaksi akhirnya Willy menunduk. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Selly hingga wanita itu bisa merasakan hembusan hangat nafasnya. "Mau aku lepaskan atau lepas sendiri?"
Ucapan Willy membuat Selly mengerucutkan bibirnya. "Sialan nih cowok," umpatnya dalam hati.
Setelah itu Selly masuk ke dalam butik tersebut. Dia kagum melihat koleksi kebaya yang sangat cantik.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" Sapa pelayan butik itu dengan ramah.
"Tolong bantu dia memilih kebaya yang cocok!" Perintah Willy pada pelayan wanita itu. Pelayan itu pun mengajak Selly mencoba beberapa koleksi kebaya terbaru mereka.
Sebelum mencoba Selly melihat harganya. "Gila semahal ini?" Gumamnya. "Aku sih bukannya tidak mampu beli tapi aku sayang uangnya kalau hanya dipakai sekali."
__ADS_1
"Mbak, sebaiknya saya coba lain kali saja." Selly mengembalikan kebaya tersebut sebelum dia coba.
"Kenapa?" Tanya Willy pada Selly.
"Aku beli di tempat lain saja," bisik Selly ke telinga Willy.
Bagian bawah milik Willy menegang ketika telinga Willy merasakan hembusan nafas wanita itu. "Ehem," Willy mencoba menetralkan perasaannya.
"Ambil yang itu saja!" Tunjuk Willy lalu dia memberikan kartu kreditnya pada kasir.
"Tidak usah. Aku benar-benar tidak perlu beli kebaya baru," tolak Selly yang merasa tak enak. Saat Selly berjalan tak sengaja kakinya tersandung karpet sehingga wanita yang berprofesi sebagai dokter itu jatuh ke pelukan Willy. Tangan Selly tepat berada di dada bidang milik Willy.
Willy cepat-cepat melepas tangan Selly dari dada bidangnya. Wajahnya sudah memerah karena merasa tidak nyaman dengan yang di bawah sana. Sedangkan Selly menahan senyum saat menyentuh dada seorang pria untuk pertama kali.
Flashback off
Selly bergabung dengan tamu undangan lainnya. Dia mencari keberadaan David karena di sana tidak ada yang dikenali selain Safa dan adiknya.
Selly merasa senang ketika dia menemukan David. Hari ini dia berdandan sangat cantik dengan memakai kebaya yang dibelikan Willy. Tapi wajahnya berubah sendu ketika melihat David mengajak ngobrol seorang wanita yang dikenali.
Selly mencengkeram erat gelas yang sedang dia pegang. Dia menatap tidak suka pada Sofia. Wanita berhijab yang selalu menjadi incaran David.
Selly memutuskan untuk pulang duluan. Dia pulang tanpa pamit pada pemilik acara. Safa melihat sahabatnya itu pulang dengan terburu-buru. Dia jadi merasa khawatir.
"Ada apa sayang?" Tanya Zidan.
"Aku melihat Selly pulang dengan tergesa-gesa," jawab Safa.
__ADS_1
"Mungkin dia ada urusan mendadak? Atau sedang ada panggilan darurat dari rumah sakit," tebak Zidan.
"Mungkin," jawab Safa dengan tidak yakin.