
Safa sedang berada di depan meja riasnya. Seorang penata rias sedang menata rambutnya. "Anda cantik sekali," puji penata rias tersebut.
Usai menata rambut Safa, dia juga memasangkan aksesoris untuk mempercantik rambut mempelai wanita.
Hari ini hari yang telah ditunggu oleh semua orang terutama pasangan Zidan dan Safa. "Aku jadi deg-degan gini ya," ucap Safa sambil memegangi dadanya yang berdebar.
"Wah ini bunda atau bidadari?" Puji Willa yang baru datang. Safa memakai gaun pengantin warna putih. Mereka memilih konsep pernikahan internasional.
Selain itu setelah ijab qobul, rencananya resepsi juga akan langsung digelar mengingat mereka berasal dari orang-orang yang sibuk sehingga mereka tak mau membuang waktu mereka untuk berpesta.
"Sudah sah." Seseorang memberi tahu kepada Safa. Salah seorang kerabat Safa datang ke kamar lalu mengajaknya keluar. Dia berjalan menuju ke pelaminan. Di sana sudah ada Zidan yang menunggu.
Safa meraih tangan Zidan lalu menciumnya sebagai tanda bakti seorang istri. Lalu mereka bertukar cincin nikah.
"Cium, cium, cium!" Sorak para tamu yang berkunjung saat itu.
Zidan mencium kening Safa dengan takzim. "Nanti ada saatnya aku mencium bibirmu," bisik Zidan dengan seringai liciknya.
Setelah itu, satu per satu tamu naik ke atas panggung dan memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin.
Di saat yang bersamaan, seseorang menaiki panggung. Safa menatap wanita itu dengan mata yang mulai memerah. David yang melihat adegan itu mencengkeram gelas yang sedang dia pegang. "Untuk apa dia datang ke sini?" David hendak naik ke atas panggung tapi tangannya ditarik oleh sang ayah.
"Jangan halangi dia! Biarkan ibumu menjelaskan pada putrinya alasan dia meninggalkan anak-anaknya selama ini. Papa yakin dia sudah menyesali perbuatannya," kata Yudha sambil memegang gelas sirup saat ini.
"Safa, maafkan mama." Maya hendak memeluk Safa tapi Safa mundur selangkah.
"Tolong jangan rusak hari bahagiaku."
"Sayang, beri kesempatan ibumu untuk memperbaiki kesalahannya selama ini agar di sisa hidupnya dia tidak menyesal."
"Apa maksudmu?" Tanya Safa.
__ADS_1
"Bukankah umur tidak ada yang tahu. Bagaimana kalau salah satu dari kita mati besok. Apakah kamu tidak menyesal ketika kamu belum berdamai dengan ibumu. Ingat sayang bagaimana pun beliau yang sudah melahirkan kamu." Zidan memberikan nasehat pada istrinya.
Semua orang melihat interaksi antara Safa dan Maya. "Aku, aku," lidah Safa terasa kelu. Air matanya mengalir dengan deras. Lalu dia melihat ke arah sang ayah. Yudha mengangguk memberikan kode agar Safa memaafkan kesalahan ibunya.
"Aku maafkan." Ucapan Safa membuat semua orang merasa lega.
"Siapa dia?" Tanya Selly pada Willy.
"Mantan mertuaku," jawab Willy. Ucapan Willy membuat Selly cemburu. "Jadi bagaimana kalau kuganti mertuamu saat ini? Aku yakin jika kamu bertemu dengan kedua orang tuaku kamu tidak akan berpikir untuk mengganti mereka."
Willy mencerna omongan Selly. "Jadi kamu memintaku untuk melamarmu?" Tanya Willy memastikan dugaannya. Selly tersenyum malu-malu.
Willy meletakkan gelas yang dia pegang lalu memegang kedua bahu Selly. "Apa kamu yakin dengan permintaan kamu?" Selly mengangguk.
"Aku tidak tahu kapan aku menyukai kamu. Yang jelas saat ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu."
"Tapi kamu tahu latar belakangku. Aku pernah gagal dalam berumah tangga apakah kamu masih percaya akan menjalin hubungan denganku?"
"Sel, elo bisa ngomong kek gini dapat ilham dari mana?" Batin Selly.
Willy menarik tangan Selly lalu mengajaknya jauh dari kerumunan. Tangan Willy menghimpit tubuh Selly. Jantung Selly berdebar saat menatap mata Willy.
Wajah Willy semakin dekat lalu mereka saling menempelkan bibir. Willy menikmati ciumannya dengan Selly begitu juga dengan Selly yang merasakan cinta Willy padanya.
"Dasar pasangan mesum," umpat David ketika melihat adegan ciuman antara Willy dan Selly. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari Sofia.
"Ternyata dia ada di sana." David berjalan menuju ke arah Sofia. Namun, Leo lebih dulu mendekati Safa.
"Aku membawakanmu camilan." Leo memberikan sebuah kue pada Sofia.
"Terima kasih, Leo." Sofia mengulas senyum pada Leo. Leo pun membalasnya. David terlihat cemburu. Lalu dia memilih pergi.
__ADS_1
Sementara itu Maya memberanikan diri untuk menemui suami yang telah dia tinggalkan selama puluhan tahun. "Aku ingin meminta maaf padamu."
Yudha mengulas senyum. "Aku sudah melupakannya. Namun, sepertinya untuk kembali bersama itu tidak akan terjadi. Kamu tahu sekarang aku memiliki kehidupan sendiri. Aku sangat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang."
Yudha berjalan meninggalkan Maya. Meski perkataan Yudha menyakitkan baginya tapi dia sadar semua ini tidak akan terjadi jika dia tidak memulai terlebih dahulu.
Usai acara resepsi selesai, Zidan dan Safa menginap di kamar khusus di sebuah hotel yang telah dipersiapkan. Seharusnya hari ini dilewati oleh pasangan pengantin itu berdua saja. Namun, Willa merengek minta tidur ditemani ibunya.
Apalagi sekarang ini Zidan sudah resmi menjadi ayahnya. Willa makin antusias untuk tidur bertiga.
"Papa tidak apa-apa 'kan kalau aku tidur di sini? Kasurnya masih muat kan, Pa?" Tanya Willa polos.
Zidan hanya mengangguk pasrah. Bayangan untuk membuat Safa tak mampu berjalan terpaksa harus ditunda. Padahal hari ini dia sudah menyiapkan pakaian khusus untuk istrinya itu.
Willa mulai lelah bercerita, kini dia tertidur di bawah ketiak Zidan. Dia memeluk Zidan dengan erat.
"Apa setiap kali dia tidur dia selalu memelukmu seerat ini?" Tanya Zidan setengah berbisik pada istrinya. Safa tersenyum melihat keduanya.
Setelah satu jam, Willa baru mau melepas pelukannya. Zidan bangun kemudian memeluk Safa dari belakang ketika dia baru keluar dari kamar mandi.
Safa tersentak kaget. "Mas, nanti Willa bangun."
Zidan mencium aroma wangi sabun dari tubuh Safa. Laki-laki yang resmi menjadi suami Safa itu tak tahan untuk tidak menggoda istrinya. Zidan menggigit kecil telinga Safa. Safa jadi meremang.
Lalu Zidan membalik tubuh Safa. Kini mereka saling menempelkan bibir. Menikmati setiap hisapan dan cecapan kedua bibir masing-masing.
Tanpa sadar Safa mengalungkan tangannya di leher sang suami. Zidan mengulas senyum. Lalu dia membawa mengangkat Safa ke atas meja. Mereka kembali melanjutkan ciuman panas itu.
Namun, ketika keduanya sedang menikmati surga dunia. Willa tiba-tiba bangun. Untungnya saat itu Zidan menyadari. Cepat-cepat dia melepas pagutannya. Lalu berjalan menghampiri Willa.
"Bunda, kenapa bunda duduk di atas meja?" Tanya Willa dengan polosnya sehingga membuat sang ibu merasa malu.
__ADS_1