
Zidan meminta anak buahnya mengambil mobil Safa dan mengirimnya ke rumahnya. Lalu dia menyusul kekasihnya ke rumah sakit.
Tangan Zidan meraih tangan Safa secara langsung ketika mereka bertemu. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Zidan pada kekasihnya. "Dia sedang dioperasi karena kaki dan tangannya patah," jawab Safa
Zidan memeluk Safa dengan erat. "Tenanglah dia pasti akan selamat. Apa dia punya keluarga? Kamu tidak mau bawa keluarganya?" Saran Zidan.
"Baiklah aku akan menghubungi ibunya. Mungkinkah Willa bersama dengan ibunya Willy?" Safa menduga.
"Coba saja kau hubungi." Safa mengangguk.
Safa mengeluarkan ponselnya lalu dia mencari kontak mantan ibu mertuanya tersebut.
"Hallo."
"Ada apa kamu menghubungi saya?" jawab mantan ibu mertuanya dengan ketus.
"Willy kecelakaan Bu," ucapnya sebelum wanita yang ia telepon itu menutupnya.
"Apa? Lalu bagaimana keadaannya?" Tanya ibunya Willy panik.
"Ibu ke sini saja! Nanti aku kirim alamatnya," ucap Safa lalu menutup telepon.
"Ah aku lupa menanyakan soal Willa."
Zidan memegang bahu kekasihnya. "Semoga dia membawa Willa kemari jika memang dia sedang bersamanya.
Satu jam kemudian dokter Selly keluar dari ruang operasi. "Bagaimana operasinya?" Tanya Safa pada sahabatnya itu.
"Operasinya berhasil tapi dia belum sadar." Setelah menjawab pertanyaan Safa, dokter Selly pergi meninggalkan keduanya. Ada perasaan lega ketika Willy dalam keadaan baik saat ini.
Safa dan Zidan menunggui Willy sampai dia dipindahkan ke ruang rawat pasien.
Selang setengah jam, ibunya Willy tiba di rumah sakit. Dia datang seorang diri. Safa mengerutkan keningnya. "Kenapa ibu datang seorang diri, apa ibu tidak bersama Willa?" Tanya Safa.
__ADS_1
Wanita itu tidak menjawab. Dia malah mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana keadaan Willy?"
"Anda bisa lihat sendiri," jawab Zidan.
"Bagaimana kejadiannya? Apa kamu mencelakainya?" Tuduh wanita itu pada Safa. Safa membulatkan matanya.
Zidan membawa Safa ke belakang punggungnya. "Seharusnya anda berterima kasih kepada dia karena dialah yang menolong Willy," sahut Zidan tak terima dengan tuduhan ibunya Willy.
Zidan berbalik badan lalu merangkul bahu kekasihnya. "Ayo kita pulang saja, ganti bajumu," ajak Zidan. Tapi Safa menolak. Dia belum mendapatkan jawaban dari mulut mantan ibu mertuanya itu.
"Katakan! Dimana anda menyembunyikan anak saya?" Desak Safa agar dia mau mengaku.
"Hah, apa yang kamu bicarakan?" Wanita itu masih tak mau mengaku.
"Willy telah menculik anak saya berhari-hari. Anda tahu bagaimana perasaan saya sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya? Bagiamana kalau itu terjadi pada anda? Bagaimana kalau anda kehilangan Willy?" Safa berkata dengan nada bergetar dan mata memerah.
Plak
Ibunya Willy menampar Safa. "Apa yang anda lakukan?" Bentak Zidan pada wanita tua itu. Safa memegang pipinya yang terasa nyeri.
Zidan tidak mau kekasihnya bertengkar dengan mantan mertuanya itu. Dia langsung membawa Safa keluar dari rumah sakit.
"Lepasin aku, Mas. Aku belum mendapatkan jawaban mengenai keberadaan Willa." Safa memberontak tapi Zidan tak membiarkannya.
"Sabar sayang. Kamu harus sabar. Sementara waktu kamu harus istirahat dulu nanti kita cari Willa di rumah orang tuanya Willy. Lihat badanmu penuh darah. Ayo aku antar pulang."
Zidan membukakan pintu mobil untuk Safa. Setelah memastikan kekasihnya masuk, Zidan memutari mobil lalu masuk ke dalam.
Pandangan mata Safa terlihat kosong. Dia sudah banyak menangis hari ini. Zidan melirik sekilas ke arah Safa lalu menyalakan mesin mobilnya.
Safa tertidur dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Saat tiba di depan rumah Safa, Zidan tak tega membangunkan dia. Akhirnya Zidan menggendong Safa ala bridal style.
"Bu Safa kenapa Pak?" Tanya asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Dia hanya kecapekan, tolong gantikan bajunya yang kotor. Lalu buang saja!" Zidan tidak pulang malam ini. Dia menginap di rumah Safa tapi Zidan tidur di sofa.
Keesokan harinya, Safa bangun tapi dia terkejut saat menyadari dia sudah berada di dalam kamar. Lalu dia juga menyadari kalau bajunya telah diganti.
Zidan baru keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Safa. Ia hanya memakai handuk yang melilit di pinggang. "Maaf aku pinjam handukmu."
"Apa yang terjadi semalam?" Tanya Safa bingung.
Zidan mengulas senyum tipis. Dia ingin sekali mengerjai kekasihnya. "Apa kamu tidak ingat yang terjadi semalam?" Dia mendekat ke arah Safa. Wanita itu menaikkan selimutnya.
"Mau apa kamu?" Dia terlihat ketakutan. Zidan tertawa terbahak-bahak. Safa semakin bingung.
Zidan duduk di pinggir ranjang. "Aku hanya meminjam kamar mandinya. Tidak ada yang terjadi semalam." Ada perasaan lega yang dirasakan oleh Safa setelah menjelaskan semuanya.
"Kenapa? Kamu kecewa?" Goda Zidan pada Safa.
Wanita itu melempar bantal ke arah Zidan. "Nyebelin," kata Safa mencebik kesal.
Zidan bangun. "Apa kamu mau lihat aku ganti baju di sini?" Tanya Zidan. Safa buru-buru bangun dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar.
"Nah Lo kenapa juga mesti aku yang keluar? Itu kan kamarku," ucapnya ketika baru sadar.
Safa menunggu di depan kamar karena dia ingin memakai kamar mandi. Namun, Zidan tak juga keluar.
Tok tok tok
"Mas Zidan, lama banget sih?" Teriak Safa dari luar kamar. Tiba-tiba Zidan membuka pintu. Safa jadi terjatuh namun dengan sigap Zidan menangkap tubuh Safa.
Sejenak pandangan mereka bertemu. Jantung Safa berdebar kencang. Zidan memindai wajah cantik kekasihnya mulai dari matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, hidung mancungnya lalu berakhir di bibir merah Safa.
Saat Zidan akan menempelkan bibirnya, Safa memukul kepala Zidan dengan kepalanya. "Pagi-pagi nggak usah mesum," ucapnya setelah itu berlari ke kamar mandi. Zidan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Safa yang menggemaskan.
Usai mandi, keduanya turun untuk sarapan bersama. "Wah kalian sudah seperti suami istri," sindir bik Tum.
__ADS_1
"Uhuk." Safa terbatuk ketika mendengar omongan Bik Tum.